Home / Headline / Pemerhati Pendidikan Muhamad Helmi Soroti Menguatnya Dollar

Pemerhati Pendidikan Muhamad Helmi Soroti Menguatnya Dollar

(Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Mulia Darma Pratama Palembang Drs Muhammad Helmi MS)

Palembang, BP
Menguatnya dollar terhadap nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp15.200 menjadi sorotan berbagai kalangan. Pasalnya, dampak melemahnya rupiah bukan hanya berefek pada sektor ekonomi saja , tapi juga pendidikan dan sosial masyarakat.
Pemerhati Pendidikan Sumatera Selatan lulusan S-2 Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Drs Muhamad Helmi MS menilai  bahwa banyak orang mengira  dampak depresiasi rupiah  hanya di sektor ekonomi saja, akan tetapi sesungguhnya tidak karena juga berdampak signifikan pada lintas sektor.
“Sederhananya di sektor pendidikan, depresiasi rupiah akan berdampak pada biaya pengadaan sarana pendidikan, seperti komputer dan peralatan lainnya yang sebagain produk impor, saat ini telah mengalami kenaikan harga lebih dari 20%. Juga BBM yang sebagian masih diimpor, jika subsidinya dikurangi pasti secara langsung berimbaspada  kenaikan harga BBM alias biaya tranportasi umum dan mahasiswa., walaupun kemarin tak jadi naik. Dan kebutuhan lain, karena mayoritas mahasiswa memakai kendaraan bermotor,”ujar Drs Muhammad Helmi, Jumat (19/10).
Disinggung mengenai penyebab melemahnya rupiah, pria yang juga merupakan Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Mulia Darma Pratama Palembang mengatakan bahwa banyak kajian dari disiplin ilmu yang membedah tentang faktor penyebab menguatnya dollar terhadap nilai tukar rupiah.
“Berdasarkan Kajian Akademik Perguruan Tinggi bahwa faktor yang memicu kuat atau lemahnya mata uang suatu negara ada dua faktor yakni internal dan eksternal,”ujarnya.
Menurutnya, jika suatu negara lemah dalam menangani dua faktor tersebut maka dapat terjadi depresiasi terhadap mata uang negara tersebut, sebagaimana yang terjadi saat ini.
Sebut saja mengenai faktor Internal, dalam hal ini adalah fundamental ekonomi suatu negara apakah baik atau tidak. Dan kriterianya bisa dilihat dari kinerja ekspor, pertumbuhan ekonomi, peran Bank Indonesia, tingkat inflasi, cadangan devisa, pengelolaan fiskal pemerintah, dan bisa juga budaya masyarakat yang suka barang impor.
“Misal ekspor kita naik, maka cadangan devisa juga akan naik. Nah Netto Ekspornya akan tercermin pada neraca perdagangan atau balance of  trade. Baiknya adalah surplus karena dengan demikian akan menambah cadangan devisa kita. Tapi persoalannya yang terjadi tiga bulan ini merosot atau defisit, “jelasnya.
“Nah disamping defisit neraca perdagangan, neraca transaksi berjalan atau Current Account juga selalu defisit, sehingga sulit untuk terjadinya apresiasi terhadap rupiah kita, “terangnya.
Memang harus diakui akibat arus globalisasi memaksa negara harus impor. Namun impor harus tepat sasaran, dan memang diperlukan, jangan sampai impor barang yang Indonesia sudah bisa memenuhi. Misal impor beras, padahal Indonesia adalah negara agraria dan beras masih dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Tapi karena perbedaan data antara Bulog, Kementrian Perdagangan dan BPS,  yang kemudian memaksa impor, yang terjadi adalah mengurangi cadangan devisa.
Belum lagi menurutnya soal budaya masyarakat yang suka barang import, kemudian banyaknya masyakat yang menyimpan uang di bank luar negeri walaupun saat ini ada aturan pembatasan.
“Dan dampaknya kita tahu sendiri. Misal kita tahu ada perusahaan tempe gulung tikar, ada yang jual tapi agar tetap bertahan maka tempe jadi diiris lebih tipis. Karena apa? Kedele kan kita masih impor,”pungkasnya. #sug
Baca:  Tingkatkan Kualitas Lulusan di Era MEA dan Disrubtion 4.0
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

DPRD Sumsel Minta Inventarisir Ulang Lahan Pemprov Yang di BOT

Palembang, BP   Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan HA Syarnubi SP MM meminta perhatian pemprov melalui BPKAD bidang aset untuk ...