Home / Headline / Kisah Pasukan Dari Negeri Palembang Yang Hebat

Kisah Pasukan Dari Negeri Palembang Yang Hebat

BP/IST
Dr Muhammad Adil MA, Ketua Lembaga Kajian Naskah Melayu , Universitas Islan Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Ketua Masyarakat Sejarawan Provinsi Sumsel, Dr Farida R Wargadalem Msi dan anggota tim transisi dan sinkronisasi Gubernur Sumsel H Herman Deru dan Wakil Gubenur Sumsel H Mawardi Yahya, Dr Periansyah dalam talk show sejarah di radio BP Trijaya, Selasa (2/10) dengan Tema “ Gubernur Baru, Bagaimana Penyelamatan Sejarah dan budaya Sumsel…?

Palembang, BP

Era Kerajaan Sriwijaya, Palembang menjadi pusat peradaban kemanusiaan dengan peradaban Hindu-budhanya. Era kesultanan, Palembang menjadi pusat peradaban ilmu-ilmu keislaman sejak abad ke-18 terus berlanjut sampai abad 19, bahkan terus bertahan sampai abad 20.
Palembang dianggap punya andil besar mendirikan kerajaan Islam di tanah Jawa dengan tokohnya Raden Fatah, dengan gelar. Senopati Jinbun Ngabdurrahman Palembang Sayidin Panatagama .
Selain itu Palembang, dalam berbagai literature luar, dikenal sangat hebat, seperti di era Kesultanan Demak di pimpin Pati Unus saat Malaka diserang Portugis , Pati Unus meminta bantuan ke Palembang untuk menyerang Portugis di Malaka.
“Ada 3000 orang , kita bisa bayangkan mengorganisasi 3000 orang Palembang bagaimana , dan itu menarik, kalau kita baca Sindang Merdeka disitu ketahuan kalau semua suku-suku yang ada di perdalaman Sumsel terlibat, mereka dipanggil dan itu diungkap oleh orang luar,” kata Dr Muhammad Adil MA, Ketua Lembaga Kajian Naskah Melayu , Universitas Islan Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang dalam talk show sejarah di radio BP Trijaya, Selasa (2/10) dengan Tema “ Gubernur Baru, Bagaimana Penyelamatan Sejarah dan budaya Sumsel…?
Belum lagi menurutnya, banyak tokoh ulama yang lahir pada era Kesultanan Palembang banyak menjadi guru para ulama nusantara, bahkan dunia Islam lainnya.
Sebelumnya, Palembang terkenal melalui tokoh Parameswara yang berasal dari Palembang mendirikan Singapura dan Malaka.
Hal senada dikemukakan Ketua Masyarakat Sejarawan Provinsi Sumsel, Dr Farida R Wargadalem Msi mengatakan, pasukan dari Palembang berkali-kali membantu pasukan Islam di nusantara dalam melakukan perlawanan terhadap negara asing.
Pasukan Palembang ini diambil dari suku-suku di Sumsel, dan mereka ini memang sengaja dipanggil dengan membawa peralatan dan senjata sendiri.
“ Dan itu terbukti dalam perang Palembang mereka taat pada pimpinan mereka,” katanya.

Baca:  Meriahnya, Anniversary Ika 92 SMP Negeri 27 Palembang Ke I

Sebelumnya setelah Malaka jatuh ke tangan Portugal pada 1511, Sultan Malaka yang mengungsi di Pulau Bintan meminta bantuan kepada Dinasti Ming di China dan kesultanan-kesultanan Muslim di Nusantara untuk merebut kembali Malaka.
Pati Unus sangat mengerti bahwa kekuatan utama Portugis adalah pada armada lautnya. Portugis memiliki kapal yang kuat, bahkan lebih kuat dibandingkan dengan kapal Majapahit. Selain itu, Portugis sudah menggunakan meriam yang dipasang di masing – masing kapal di mana pada waktu itu meriam adalah senjata pamungkas yang tidak bisa ditandingi oleh senjata apapun.
Oleh karena itu, langkah pertama Pati Unus adalah menghidupkan kembali kekuatan armada Majapahit yang tertidur lama pada saat masa – masa perebutan kekuasaan (Perang paregreg), Perang. Kapal – kapal baru tersebut juga dilengkapi dengan Cetbang, yaitu meriam isian belakang (breech loader), di mana kapal dan cetbang juga merupakan kekuatan andalan Armada Majapahit. Pusat produksi kapal-kapal ini adalah Semarang, dan Jepara, dengan bantuan orang-orang Muslim Tionghoa lokal.

Ekspedisi Jihad I

Pada 1513 Armada Kesultanan Demak , Kesultanan Palembang dan armada Melayu melakukan serangan pertama di bawah pimpinan Pati Unus. Armada kesultanan Demak dari Jepara terdiri dari 100 kapal dan 5000 personil. Armada Demak terdiri dari berbagai jenis kapal, diantaranya :
Kapal jong – Merupakan kapal layar yang berukuran beberapa ratus ton.
Lancaran – Perahu dengan satu tiang dan bisa didayung.
Penjajap (Portugis : pangajava/pangajaua) – Kapal kargo yang diubah menjadi untuk perang dan dapat dipersenjatai dengan meriam, bisa digerakkan layar dan dayung.
Kelulus – Perahu dayung kecil, digunakan untuk menurunkan orang ke pantai.
Kapal-kapal ini dikumpulkan dari banyak kota di Jawa. Setelah peperangan berakhir, Tome Pires melaporkan bahwa banyak kota yang melemah kekuatan perdagangannya karena kapalnya telah digunakan oleh Pati Unus.
Pada Januari 1513 Pati Unus mencoba mengejutkan Malaka, membawa sekitar 100 kapal dengan 5.000 tentara Jawa dari Jepara dan Palembang; Meskipun dikalahkan, Patih Unus berlayar pulang dan mendamparkan kapal perangnya sebagai monumen perjuangan melawan orang-orang yang disebutnya paling berani di dunia.
Ini memenangkannya beberapa tahun kemudian dalam tahta Demak. Dalam sebuah surat kepada Alfonso de Albuquerque, dari Cannanore, 22 Februari 1513, Fernao Peres de Andrade, Kapten armada yang diarahkan Pate Unus, mengatakan: “Jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang dilihat oleh orang-orang dari daerah ini. Ia membawa seribu orang tentara di kapal, dan Yang Mulia dapat mempercayaiku … bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat, karena Anunciada di dekatnya tidak terlihat seperti sebuah kapal sama sekali. Kami menyerangnya dengan bombard, tetapi bahkan tembakan yang terbesar tidak menembusnya di bawah garis air, dan (tembakan) esfera (meriam besar Portugis) yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tetapi tidak tembus; kapal itu memiliki tiga lapisan besi, yang semuanya lebih dari satu koin tebalnya. Dan kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya. Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya, Yang Mulia mungkin pernah mendengar cerita di Malaka tentang Pati Unus, yang membuat armada ini untuk menjadi raja Malaka. ” ( Fernao Peres de Andrade, Suma Oriental).
Pertempuran hebat terjadi di selat Malaka, dimana armada gabungan nusantara dan armada Portugis bertempur habis-habisan. Pada pertempuran 60 kapal demak berhasil dihancurkan oleh Portugis dan 800 pasukan demak tewas di medan pertempuran. Namun serangan bersama ini gagal mengusir Portugis dari Malaka.
Karena keberanian Pati Unus memimpin penyerangan ke Malaka Portugis, ia mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor.

Baca:  Dishub Sumsel Minta Kuota Taksi Online Dipenuhi

Ekspedisi Jihad II

Memasuki tahun 1521, ke 375 kapal telah selesai dibangun. Armada kesultanan Demak melancarkan serang kedua ke Malaka untuk membantu Sultan Mahmud Syah dari Malakamengambil kembali kota Malaka dari tangan Portugis.
Armada ekspedisi kedua kesultanan Demak ini dipimpin kembali oleh Pati Unus yang saat itu telah menjabat sebagai Sultan Demak. Pertempuran hebat terjadi di malaka selama 3 hari 3 malam baik di laut maupun di darat. Pada pertempuran sengit ini Pati Unus terbunuh di medan perang. Posisi Sultan di demak digantikan oleh Trenggana.
Serangan Kedua ini juga belum berhasil menggulingkan kekuasaan Portugis di Malaka.
Ekspedisi Susulan
Sepeninggal Pati Unus, tercatat beberapa ekspedisi dikirim dari wilayah kesultanan Demak untuk mengusir portugis dari Malaka.
Tahun 1550, Ratu Kalinyamat, puteri Sultan Trenggana mengirimkan bantuan 40 kapal dan 4000 personil atas permintaan Sultan Johor untuk menyerang Malaka. Gabungan Armada Jepara, Melayu dan Aceh berjumlah total 200 kapal mengepung Malaka. Kekuatan gabungan ini berhasil memukul mundur Portugis dan mengambil alih sebagian besar kota Malaka, sebelum akhirnya berhasil Portugis berhasil menyerang balik.
Prajurit-prajurit Melayu berhasil dipukul mundur ke kapal, sementara prajurit-prajurit Jawa dari Jepara tatap bertahan di darat. Setelah Portugis berhasil membunuh pemimpin pasukan Jawa dan menewaskan 2000 prajurit jawa barulah pasukan Jawa mundur ke kapal. Namun badai di laut mengakibatkan 2 kapal Jepara terdampar di pantai dan menjadi sasaran empuk Portugis. Lebih dari setengah pasukan Jepara gugur di medan pertempuran.
Tahun 1574, Ratu Kalinyamat dari Jepara mengirimkan kapal bantuan untuk ekspedisi Kesultanan Aceh menyerang Portugis di Malaka berjumlah 300 kapal (80 diantaranya adalah junk besar berbobot 400 ton) serta 15.000 personil.
Setelah pengepungan dan pertempuran sengit selama 3 bulan. Dua per tiga pasukan Jepara gugur, hanya sekitar 5000 pasukan yang masih selamat dan kembali ke Jepara.
Namun serangan ini menyebabkan posisi Portugis di kepulauan Maluku terjepit karena bala bantuan dari Malaka terhambat, sehingga Sultan Baabullah dari Ternate berhasil mengusir Portugis dari kesultanan Ternate pada tahun 1575.#osk

Baca:  Timsel Bawaslu Sumsel Tambahan Sosialisasi Ke OKU Dan Lubuk Linggau

Sumber: Wikipedia

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Tujuh Anggota MPR PAW Dilantik

Jakarta, BP–Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (OSO) menjelaskan, MPR sebagai  lembaga permusyawaratan, dan salah satu pelaksana kedaulatan rakyat mempunyai ...