Home / Headline / Cagar Budaya dan Sejarah di Sumsel Sangat Kritis

Cagar Budaya dan Sejarah di Sumsel Sangat Kritis

BP/DUDY OSKANDAR
Talk show sejarah di Radio BP Trijaya, Selasa (2/10), dengan Tema “Gubernur Baru, Bagaimana Penyelamatan Sejarah dan budaya Sumsel…? dengan nara sumber, Ketua Masyarakat Sejarawan Provinsi Sumsel, Dr Farida R Wargadalem Msi, anggota tim transisi dan sinkronisasi Gubernur Sumsel H Herman Deru dan Wakil Gubenur Sumsel H Mawardi Yahya, Periansyah dan Dr Muhammad Adil, Akademisi dari UIN Raden Fatah Palembang.

Palembang, BP–Ketua Masyarakat Sejarawan Provinsi Sumsel, Dr Farida R Wargadalem Msi berharap Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) dan Wakil Gubernur Sumsel yang baru , H Herman Deru- Mawardi Yahya membuka ruang untuk adanya dialog dengan semua pihak termasuk kalangan sejarawan, budayawan dan akademisi yang ada di Sumsel.

“Karena tak kenal maka tak sayang, pemahaman bisa muncul jika tidak memiliki pengetahuan , dengan dialog-dialog itu pihaknya akan memberikan pemahaman-pemahaman sehingga ada rasa memiliki , jika sudah ada rasa memiliki maka keinginan berbuat akan ada terkait penyelamatan cagar budaya dan sejarah di Sumsel,” katanya dalam talk show sejarah di radio BP Trijaya, Selasa (2/10) dengan Tema “ Gubernur Baru, Bagaimana Penyelamatan Sejarah dan budaya Sumsel…? dengan nara sumber, anggota tim transisi dan sinkronisasi Gubernur Sumsel H Herman Deru dan Wakil Gubenur Sumsel H Mawardi Yahya, Dr Periansyah dan Dr Muhammad Adil MA, Akademisi dari Universitas Islan Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Baca:  Paslon Petahana Jangan Gunakan Fasilitas Negara Saat Kampanye

Apalagi dia melihat selama ini menyebabkan kondisinya sangat mengkhawatirkan terkait situs cagar budaya dan sejarah yang ada di Sumsel, apalagi situs-situs kerajaan Sriwijaya dimana? Dan dirinya sudah melakukan penelururan sejak tahun 2015 banyak situs-situs bersejarah di Sumsel banyak yang lenyap dan terakhir kasus Bukit Siguntang.

“ TPKS itu betul, pemukiman Sriwijaya tapi itu di ciptakan, tetapi kalau berbicara tentang situs yang tak terputus dari masa Sriwijaya hingga sekarang dan sosoknya ada walaupun kondisinya babas bingkas kata istilah orang Palembang , itulah Bukit Siguntang dan itu membuat sedih bukan hanya kita tapi juga semua puak-puak melayu yang menganggap mereka dari Bukit Siguntang, trus mau diapakan?, kalau bicara TPKS kondisinya tidak memprihatinkan seperti di Bukit Siguntang ,” katanya.

Pihaknya berharap dengan pemerintahan yang baru, jangan sampai menjadi golongan yang disalahkan oleh generasi yang akan datang, karena kondisi penyelamatan cagar budaya dan sejarah di Sumsel sangat kritis.

“Sumsel itu sangat besar dan kebesarannya diakui oleh dunia , kalau kita tidak mengenalnya dan hanya sebatas awang-awang, apa gunanya, nanti sampai suatu saat dimana masa generasi muda akan menyalahkan kita, mereka juga mencari dirinya sendiri lalu muncul konon-konon, bicara tidak bicara tentang konon-konon, sejarah itu bicara soal data dan fakta, ini yang memprihatinkan kita saat ini, kalau boleh saran kepada pemerintahan saat ini tempatkanlah seseotang sesuai dengan posisinya , tempatnya, kemampuannya dan bidangnya sehingga tidak salah kaprah dalam menjalankan kebijakan dan itu sudah terbukti dalam kasus Bukit Siguntang, “ katanya.

Baca:  Pasca Asian Games, Operasi Pemadaman Karhutla Di Sumsel Terus Berlanjut

Walaupun demikian dirinya dan rekannya dengan keterbatasan yang ada sudah berbuat banyak untuk kemajuan sejarah Sumsel walaupun dalam senyap.

Apalagi dia melihat Sumsel dari atas dan bawah paling parah dan kurang pengetahuan mengenai sejarahnya sendiri, contoh antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kesultanan Palembang ngomongnya over laping.

“Dia berbicara Sriwijaya sesungguhnya Kesultanan Palembang, kebalik-balik,” kata Farida yang juga dosen sejarah dari Universitas Sriwijaya (Unsri).

Sedangkan Dr Muhammad Adil MA , Akademisi dari UIN Raden Fatah Palembang melihat Gubernur sekarang banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi terkait penyelamatan cagar budaya dan sejarah Sumsel , belum lagi isu lama seperti kenapa disebut Benteng Kuto Besak (BKB) kenapa tidak di sebut Keraton Palembang.

“Untuk 100 hari ini kita akan memberi masukan dan membuat naskah akademi apa yang menjadi PR gubernur Sumsel sekarang hal-hal yang belum tersampaikan ke pemerintah agar pemerintah daerah ini melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Sumsel ini sebagai dapur dalam membuat kebijakan,” kata Adil yang juga Ketua Lembaga Kajian Naskah Melayu , UIN Raden Fatah Palembang

Karena dia melihat, belum ada kelihatan pemimpin masa lalu di Sumsel yang menjadikan kampus itu menjadi dapur pengambil kebijakan pemerintahan daerah.

Baca:  Menhan Nilai Penanganan Karhutla Masih Kurang Tegas

Dia juga mengajak pemerintah daerah dan masyarakat Sumsel untuk ikut menyelamatkan cagar budaya di Sumsel termasuk di Bukit Siguntang , karena Bukit Siguntang dikenal hingga dunia, karena melayu bagian dunia juga.

Sedangkan , anggota tim transisi dan sinkronisasi Gubernur Sumsel H Herman Deru dan Wakil Gubenur Sumsel H Mawardi Yahya, Dr Periansyah mengatakan, memang dalam membangun Sumsel harus bersama –sama dan tidak bisa sendiri-sendiri, tentu berbicara tentang budaya dan sejarah pihaknya sudah menyisir hal-hal perlu menjadi perhatian Sumsel dan itu menjadi konsen HDMY bagaimana Sumsel tidak hanya membangun fisik juga orangnya.

Pihaknya telah memiliki program seperti revitalisasi lembaga adat, bagaimana kedepan lembaga adat bisa maksimal jangan hanya seremonial dan tidak menggali budaya lokal.

M”ungkin kita punya tatanan Simbur Cahaya yang belum di gali, jika belum ada perda dibuat perdanya sehingga tataran budaya Sumsel bisa terjaga di seluruh Sumsel dan menjadi perhatian bersama,” katanya.

Mengenai Bukit Siguntang menurutnya harus dikembalikan keasliannya dimana sekarang Bukit Siguntang sudah tidak memberikan nilai kecuali nilainya bisnis.

“ Mungkin bersama-sama bagaimana sebaiknya penataan Bukit Siguntang dilakukan dan kita sudah sampaikan pihak OPD terkait dan mudah-mudahan ada jalan keluarnya, “ katanya.

Selain itu menurutnya, perlu mengedukasi masyarakat dengan gerakan kunjungi meseum, yang selama ini Museum di Sumsel sepi dan orang banyak pergi ke mall.

“Kita mendorong kurikulum lokal seperti bahasa daerah di Sumsel menjadi kurikulum lokal,” katanya.

Untuk itu Pemprov Sumsel dan kabupaten kota dan masyarakat menurutnya harus ikut menjaga cagar budaya dan sejarah Sumsel dan ikut mengusulkan menjadikannya menjadi benda cagar budaya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Tujuh Anggota MPR PAW Dilantik

Jakarta, BP–Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (OSO) menjelaskan, MPR sebagai  lembaga permusyawaratan, dan salah satu pelaksana kedaulatan rakyat mempunyai ...