Home / Headline / Ekspedisi Burai

Ekspedisi Burai

Poto 1.: Tim Lembaga Kajian Naskah Melayu Sumatera Selatan
(Mal An Abdullah, Duski Ibrahim, Muhammad Adil, Saudi Burlian, Ahmad Syukri)

Oleh: Tim Lembaga Kajian Naskah Melayu Sumatera Selatan
(Mal An Abdullah, Duski Ibrahim, Muhammad Adil, Saudi Burlian, Ahmad Syukri)
___________________________________________________________________
Catatan Perjalanan
Rabu, 19 September 2018, Tim berangkat dari Kantor Pascasarjana UIN Raden Fatah pada pukul 09.00 menuju Desa Burai Kecamatan Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir. Perjalanan menuju lokasi melalui jalur Tol Palindra diteruskan melalui rute baru masuk komplek perkantoran Tanjung Senai mengambil arah ke kanan mengikuti petunjuk arah menuju Desa Burai-Tanjung Batu. Kondisi jalan yang terbuat dari cor semen itu sudah mulai banyak yang berlobang mulai dari perbatasan belakang komplek perkantoran pemkab OI sampai ke desa Burai.
Tapi ini sudah lumayan. Karena dari rute ini perjalanan dapat lebih dipersingkat. Kondisi seperti ini terjadi setelah kawasan yang dahulunya lebak-lebung yang sangat luas hanya dapat dilalui dengan perahu. Kawasan ini dapat terhubung dengan jalan darat pada masa pemerintahan kabupaten OI dijabat oleh Mawardi Yahya.
Atau harus memutar dari Indralaya belok kanan ke arah Muara Meranjat sampai di Tanjung Batu kemudian belok Kanan menuju arah desa Burai.
Jalur ini terlalu panjang dan ditempuh dalam waktu yang relatif lebih lama. Sampai di lokasi pada pukul 10.21 . Karena di antara Tim belum ada yang mengetahui posisi letak makam, maka Tim merasa perlu untuk bertanya terlebih dahulu guna mencari posisi letak makam. Orang pertama yang menjadi target saat itu adalah laki-laki yang sedang berada di kantor kesehatan milik desa. Dari keterangannya, Tim memperoleh informasi sangat berarti bahwa posisi makam berada di komplek pemakaman umum desa dekat masjid.
Sesuai informasi, Tim meneruskan perjalanan sesuai arah yang ditunjuk. Tetapi, karena merasa masih perlu bertanya, kemudian Tim bertanya kembali kepada seorang penjaja makanan di depan sekolah SD desa dan diperoleh keterangan yang sama. Melihat dari penjelasan dua orang tempat bertanya, semakin menguatkan dugaan bahwa makam tokoh yang akan dikunjungi ini adalah orang yang masa hidupnya sangat dikenal, meskipun jauh jarak hidupnya dengan penduduk desa sekarang, tapi mereka mengetahui keberadaan makam ini. Tim terus berjalan sesuai petunjuk, kemudian sampai di dekat sebuah bangunan mushalla, Tim menghentikan laju kendaraan, sepertinya Tim sudah tiba ditempat tujuan.
Dan ternyata benar, tampak disebelah kanan berdiri bangunan Mushalla Alfurqon. Di sebelah atas bangunan musalla terdapat posisi makam yang akan dikunjungi. Tim kemudian mendekat ke makam dan memasuki area pemakaman mendapati lokasi makam ternyata pintunya tidak terkunci. Kemudian Tim masuk kedalam komplek makam, ketika berada di depan pintu terdapat tulisan yang masih dapat di baca dengan baik.
Ada dua tulisan penting pada bagian bawah bertulis tahun 1954 (18-4-1954), ditulis di dinding yang terbuat dari semen bagian depan sebelah kiri tangga dengan menggunakan benda keras seperti paku bercat warna biru muda. Sedangkan tulisan bagian atas, tertara tahun 1976 (1-5-1976) pada dinding sebelah kiri pintu utama makam yang terbuat dari matrial papan kayu bercat warna hijau, tulisan tahun dan keterangan menggunakan cat berwarna merah terbaca pada makam ini di rehab pada tahun tanggal 1-5-1976 tertera tulisan “di bangun oleh Haji M. Nuh B H Soleh skl warga 1.5.176” dari tulisan ini kita dapat mengetahui bahwa bangunan makam pernah dipugar pada dua tahun itu. Ketika Tim baru saja masuk ke dalam makam, saat itu juga muncul datang penjaga makam (kuncen) yang kemudian Sang kuncen memberikan penjelasan bahwa makam ini bernama makam Tuan Said dan Dia dipercaya untuk mengurus makam ini.
Alasannya adalah bahwa, baik dari jalur keturunan, karena dia mempercayai bahwa dirinya adalah keturunan langsung dari ulama yang dimakamkan ini, maupun dari sudut pandang mistis. Pernah suatu ketika, sang kuncen yang bernama Muhammad Haki, dan berdasarkan keterangannya bahwa pada saat kunjungan para peziarah yang berasal dari daerah Campang Tiga, tiba-tiba salah seroang peserta ziarah dimasuki jasadnya oleh roh ulama yang ada di makam ini yang meminta kepada dirinya, Muhammad Haki untuk menjaga makamnya dan berpesan kepadanya untuk tidak boleh lupa mengerjakan shalat.
Di dalam komplek makam bagian dalam dapat disaksikan posisi makam Tuan Said yang memang berbeda dengan makam lain di Desa Burai, karena umumnya di pemakaman umum posisi antar nisan bagian kepala dan kaki umumnya berukuran sama sekira 160 cm. sedangkan makam tuan said ini hampir atau sekira dua meter, lebih panjang dibanding yang lain.
Pada makam di selimuti kelambu yang oleh kuncen dijelaskan bahwa: “kelambu ini sudah lama keberadaannya, sejak dia tahu makam ini memang posisinya sudah dikelambui dan itu masih terus ada sampai sekarang”, katanya.
Tali pada kelambu diikatkan pada tiang penutup makam yang terbuat dari kayu dengan posisi empat tiang yang di atasnya terdapat atap yang terbuat dari seng. Pada salah satu tiang bagian kiri makam terdapat satu lembar kertas putih ukuran polio yang di eliminating tertulis nama orang yang dimakamkan yaitu tertulis pada judul atas: “Tuan Said Malikus Saleh Alaydrus”. Di bawahnya tertulis: “Asal Arab”, “Sejarah Singkat: Tuan Said Malikus Saleh Alaydrus di duga masih ada keturunan dengan Usang Gemok (Abdul Rackhman Alaydrus), pada makam Tuan Said Malikus Saleh Alaydrus ada kesamaan bentuk dan ukiran batu nisan dengan makam raja Samudra PAsai Sultan Malik as Saleh.
Dengan bukti-bukti dan bentuk batu nisan yang ada di makam Tuan Said, dapat di duga bahwa Tuan Said Malikus Saleh ada kaitan dengan Raja Samudra Pasai. Dugaan ini dilihat dari persamaan nama keluarga”. Di bagian bawah terdapat catatan tertulis “KKNUMP50 posko203Burai” yang memberikan penjelasan bahwa tulisan kertas ini dibuat oleh mahasiswa UMP yang sedang KKN di Desa ini.
Tidak dapat keterangan dari mana asal mahasiswa KKN ini mendapatkan nama lengkap dan keterangan pada makam ini. Kemungkinan besar jika dicocokkan dengan keterang Sang kuncen, bahwa tulisan lengkap ini merupakan keterangan darinya.
Selain itu, pada makam ini terdapat empat jenis nisan: pertama, nisan yang berbentuk bulat telur terbuat dari batu terletak pada posisi bagian kepala masih tertanam. Kedua, nisan yang terbuat dari Kayu tua (seperti, unglen) pada bagian kepala dan kaki, pada bagian kepala terdapat ukiran bulan dengan motif bunga. Ketiga, nisan yang terbuat dari inkripsi, dan keempat, nisan yang terbuat dari semen biasa.
Menurut keterangan sementara dari teman-teman Balai Arkeologi Sumatera Selatan, Bu Retno dan Mas Wahyu bahwa pada nisan terdapat kemiripannya dengan nisan di Aceh, Kambang koci, dan komplek pemakaman 13/14 Ulu Palembang. Juga terdapat nisan yang ada kemiripannya dengan nisan Demak-Tralaya. (untuk kepastiannya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut).
Keterangan kuncen diketahui bahwa makam ini ada hubungannya dengan Tuan di Pulau. Kuncen menyebut kalau kedua orang ini masih bersaudara. Buktinya adalah banyaknya warga yang berasal dari sekitar Komering Campang Tiga (tempat makam Tuan di Pulau) yang selalu berziarah ke makam ini karena mereka menyebut makam leluhur mereka berada di desa Burai ini.
Dari buku pengunjung memang terdapat orang-orang dari Campang Tiga berziarah. Masih menurut keterangan kuncen bahwa mereka berziarah ketika ada keperluan berbagai permintaan yang mereka anggap dapat menjadi wasilah.
Setelah zuhur, sekira 12.10, tim pulang kembali ke Palembang menggunakan jalur Tol Palindra sampai di Palembang sudah jam 14.25.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pilpres, PBB Masih Netral, PAN-Hanura Solid Dukung 1 dan 2

Palembang, BP Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Kota Palembang, Chandra Darmawan mengaku, hingga saat ini, PBB belum tentukan arah ...