Home / Headline / Duh, Sulitnya, Cari Arsip Dan Dokumen Sejarah di Sumsel

Duh, Sulitnya, Cari Arsip Dan Dokumen Sejarah di Sumsel

BP/DUDY OSKANDAR
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Syafruddin Yusuf dan pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan disela-sela Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tahun 2018, Selasa (18/9) di Graha Bina Praja Provinsi Sumsel dengan tema “Eksistensi Budaya Palembang/Sumatera Selatan Dalam Pembauran Kebangsaan Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.

Palembang, BP
Sejumlah arsip dan dokumen lama terutama berkaitan sejarah perjalanan Sumatera Selatan (Sumsel) dari awal pembangunan , kini sulit di cari dan keberadaannya entah kemana.
“Saya sedih, baru-baru ini saya suruh mahasiswa saya meneliti tentang peran pak Asnawi Mangkualam selama menjadi Gubernur, 10 tahun, arsip kosong, pemda kosong, pidato pertanggungjawaban pak Asnawi Mangkualam saja tidak ada, selama 10 tahun dia menjadi Gubernur, mestinya ada itu, setiap Gubernur itu ada pidato pertanggungjawaban, itu tidak ada, sampai ke Muaraenim dia mencari data, di kita sini enggak ada juga, bingung juga saya, apalagi yang kebawah lagi, pak Asnawi dari tahun 1968 sampai 1978, karena saya pernah membacanya laporan pertanggungjawabannya tahun 1980, kita perlu mengungkap tokoh ini karena memiliki peran yang besar dalam membangun Sumsel,” kata Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Syafruddin Yusuf saat menjadi pemateri dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tahun 2018, Selasa (18/9) di Graha Bina Praja Provinsi Sumsel dengan tema “Eksistensi Budaya Palembang/Sumatera Selatan Dalam Pembauran Kebangsaan Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.
Menurutnya, kalau dari sisi sejarah kalau sekadar informasi mulut kemulut, kurang valid, dokumennya yang harus di lihat , dalam mengungkap seseorang tidak melihat sisi politiknya tapi karyanya untuk daerah ini.
“Banyak buku-buku yang enggak tahu kemana persisnya, 2001-2002 saya disini menulis buku Subkoss itu, itu hampir satu lemari buku, dokumen-dokumen itu tentang perjuangan masyarakat Sumsel, terakhir saya cari dua tahun yang lewat enggak ada lagi , kemana barangnya enggak tahu,” katanya.
Menurutnya, Sumsel kurang menghargai arsip dan dia mengharapkan agar arsip-arsip yang ada disimpan, ada guna terutama orang-orang sejarah dalam mengungkap hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu.
Hal senada dikemukakan pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan memiliki penilaian sendiri, dia melihat dokumen dan arsip sejarah itu masih ada di Sumsel dan tinggal penataan arsip dan dokumen yang di Sumsel yang perlu diperbaiki.
“Khan ada ilmu kearsipan, orang berkerja di bidang arsip namanya arsiparis, dan itu tidak semua orang bisa , tiap kantor ada arsiparis, di Pemkot dan Pemprov khan ada barang arsip, walaupun sebagian itu bergabung dengan perpustakaan contohnya di kota itu badan arsip gabung dengan perpustakaan, dan itu amanat undang dimana ditiap kantor harus ada arsip dan sebagian sudah ada digitalisasi sebagian masih ditumpuk dalam berkas ,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pilpres, PBB Masih Netral, PAN-Hanura Solid Dukung 1 dan 2

Palembang, BP Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Kota Palembang, Chandra Darmawan mengaku, hingga saat ini, PBB belum tentukan arah ...