Home / Headline / Kala Ak Gani Marah Dengan Pemberontakan Kolonel Simbolon

Kala Ak Gani Marah Dengan Pemberontakan Kolonel Simbolon

BP/IST
dr Ak Gani bersama Presiden RI pertama Ir Soekarno pada satu kesempatan

“Simbolon itu orang yang tak baik, bukan teman tapi dia sahabat”

Penggalan kata-kata Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III, dr Ak Gani kepada sahabatnya yang menjadi petinggi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) Kolonel Maludin Simbolon.

 

SEJAK  2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, dr Ak Gani resmi menjabat sebagai, otomatis , perhatian Ak Gani lebih seluruh Indonesia, namun dia selalu memantau perkembangan Sumatera Selatan (Sumsel).
Salah satu yang di pantaunya adalah Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang sudah masuk ke Sumsel dan yang mengkhawatirkan ulah Kolonel Maludin Simbolon yang ingin menjadikan Sumsel bagian PRRI , namun hal tersebut di tentang, Kolonel Bambang Utoyo yang kala itu menjabat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium II di Palembang.
Sekretaris Museum pahlawan Nasional, dr AK Gani Priyanti Gani, Husin melihat akibat pertentangan yang bertolak belakang antara Simbolon dan Bambang Utoyo membuat dr Ak Gani terpaksa turun dan menemui Simbolon di daerah Sungai Dareh. (Kini sungai Daerah masuk wilayah Kecamatan Pulau Punjung di Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat).

Nagari Sungai Dareh terkenal dan tercatat dalam sejarah karena dipinggiran sungai inilah ada sebuah pesanggerahan pada akhir tahun 1957 pernah diadakan pertemuan dua hari oleh beberapa tokoh nasional untuk mematangkan rencana pemberontakan yang kita kenal dengan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

BP/IST
dr Ak Gani

“Konsep pembangunan Simbolon itu maunya Sumatera harus makmur dulu setelah itu sumber daya Sumatera boleh di ambil Jawa, apalagi saat itu negara baru merdeka dan pusat belum maksimal memberikan perhatian kepada daerah diluar Jawa, sehingga Simbolon menuntut pembangunan harus di fokuskan ke Sumatera dulu baru ke Jawa , namun pemikiran Simbolon bertolak belakang dengan Bambang Utoyo yang ingin adanya pemerataan pembangunan dalam lingkup negara NKRI, akibatnya pasukan PRRI sempat mengejar Bambang Uyoto hingga ke Sekayu, nah saat itulah pak Ak Gani turun dan menemui Simbolon di Sungai Dareh,” kata Husin, Minggu (16/9).

Baca:  DPP IPTI Bawa 5 Isu Penting di Rapimnas

Saat bertemu dengan Simbolon, menurut Husin, dr Ak Gani langsung memarahi Simbolon.

“AK Gani bilang dengan Simbolon , Hey, Simbolon, kau jangan macam-macam, negara kesatuan Republik Indonesia ini sama baik Sumatera dan Jawa. Jangan coba-coba kau, kau masih anak kecil,” marah Ak Gani.

Amarah , AK Gani tidak membuat Simbolon insyaf malah tetap melakukan perlawanan melalui PRRI.
Sebelumnya menurut Husin , Ak Gani sudah berkali-kali mendamaikan Simbolon agar tidak memberontak dan berselisih dengan Bambang Utoyo, namun Simbolon tetap dengan PRRInya dan tetap memberontak.
Akhirnya, dr Ak Gani menilai kalau Simbolon adalah orang yang tak baik, bukan teman tapi dia sahabat.

Menurut Husin , konsep pembangunan bagi AK Gani adalah siapapun datang ke Sumatera jika untuk membangun silahkan, dan pembangunan harus merata di seluruh Indonesia dan jangan ada perbedaan.
Namun Simbolon memiliki pemikiran sendiri, agar Jawa harus membangun Pulau Sumatera dulu melalui hasil bumi Sumatera setelah selesai dan merata di Sumatera baru sumber daya dan hasil Bumi Sumatera di bawa ke Jawa.

Baca:  15 Radio Swasta di Sumsel Penuhi Syarat

Konsep pembangunan PRRI ini ternyata tidak berkembang di malah di tolak di Sumsel karena tidak di dukung masyarakat Sumsel walaupun dua orang pejuang Sumsel yaitu Kol H Burlian dan Rasyad Nawawi bergabung ke PRRI dan akhirnya dimaafkan oleh Presiden Soekarno saat PRRI berhasil di kalahkan pemerintah Indonesia.

Bagi Husin , konsep pembangunan yang di pegang Simbolon, dinilainya sebagai bentuk kecerdasan Simbolan yang jauh kedepan, dia sudah bisa memperkirakan kalau Jawa akan mengusai sumber daya alam Sumatera sehingga pembangunan akan lebih banyak ke Jawa daripada Sumatera, maunya Simbolon, harusnya Sumatera dulu dibangun dengan sumber daya alam yang dimiliki setelah, Sumatera merata pembangunannya baru sumber daya alam Sumatera di bawa ke Jawa.
Kolonel Maludin Simbolon , adalah mantan Komandan Divisi Palembang Ulu ini, awal karier militernya banyak di Sumatera Selatan (Sumsel) terutama Palembang.
Selain itu dalam reorganisasi antar TKR se-Sumatera, Maludin sempat menjadi Komandan Divisi I/Lahat (1945-46), yang membawahi 4 resimen dan 15 batalyon di Sumatera Selatan.

Saat TKR dikembangkan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), Maludin menjadi Komandan Divisi VIII Garuda di Sumatera Selatan, yang membawahi Lampung, Bengkulu, Palembang, dan Jambi.
Saat terjadi Agresi Militer Belanda II, di Sumatera dibentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, yang mana AK Gani menjadi gubernur militer dan Maludin Simbolon menjadi wakilnya dan setelah itu dia lebih banyak berkarier di Sumatera Utara.

BP/IST
Kolonel Maludin Simbolon.

Terakhir namanya tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai pemimpin daerah di Sumatera yang merasa tidak puas terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat akhir tahun 1950-an.
Antara lain tuntutan perubahan yang diinginkan ialah dalam hal peningkatan kesejahteraan prajurit, otonomi daerah yang lebih besar, serta penggantian para pejabat sipil dan militer pusat di Jakarta.

Baca:  Kalah Di Pilgub Sumsel, Aswari Pastikan Maju Calon Anggota DPRD Sumsel

Maludin kemudian bergabung dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan mengumumkan pemutusan hubungan wilayah militer Sumatera Utara dengan pemerintah pusat tanggal 22 Desember 1956 di Medan dan membentuk Dewan Gajah, walaupun tetap menyatakan setia pada Dwitunggal Soekarno-Hatta. Simbolon sempat kehilangan posisinya sebagai Panglima TT 1 Bukit Barisan (BB) dan melarikan diri ke Sumatera Barat.

A.H. Nasution, saat itu orang kuat di TNI yang mengepalai staf Angkatan Darat, merespons para kolonel pembangkang dengan langkah pemecatan. Jakarta pun bertindak dengan mengirim pasukan. Di antara perwira yang memimpin operasi ini terdapat Letnan Kolonel Ahmad Yani, yang belum lama pulang dari sekolah staf komando di Amerika Serikat.

“Kekuatan fisik PRRI di Sumatera dengan gampang ditumpas oleh TNI hanya dalam waktu relatif singkat oleh operasi militer yang hampir tanpa mendapat perlawanan,” tulis Phill Manuel Sulu yang terlibat Permesta di Sulawesi Utara dalam Permesta dalam Romantika, Kemelut dan Misteri (2011).
Amerika Serikat sendiri belakangan malah mendekatkan diri kepada Nasution. Sementara para kolonel pembangkang itu dibiarkan kalah dan jadi tawanan Jakarta. Kelak sebagian dari mereka dibebaskan dan melanjutkan karier militernya semasa pemerintahan Soeharto usai pembantaian masal kaum kiri 1960-an.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Warga Terkejut Tanah Depan Pasar 16 Ilir Retak, Keluar Lumpur

Palembang, BP Pedagang Pasar 16 Ilir,  Palembang terkejut dan sempat menyangka terjadi gempa akibat getaran sebelum retaknya jalan dan keluarnya ...