Home / Headline / Bukan Dermaga Kuno, Bangunan Tapi Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial Belanda

Bukan Dermaga Kuno, Bangunan Tapi Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial Belanda

BP/IST
Suasana Tanggo kuno tempat pelabuhan sekaligus tepian air ini berada di tepian sungai Musi sekaligus di muara anak sungai yang dikenal sebagai sungai Jeruju di kelurahan Kuto Batu Palembang, Rabu (12/9).

Palembang, BP

Teka teki sebuah Tanggo Rajo yang sempat di telusuri tim dari Dinas Pariwisata pemerintah kota Palembang dengan beberapa orang penelusur sejarah Palembang di antaranya Rd. Muhammad Ikhsan, RM. Ali Hanafiah dan Yudhy Syaropi melakukan pengecekan pada titik lokasi beberapa waktu lalu terjawab.

Tanggo kuno tempat pelabuhan sekaligus tepian air ini berada di tepian sungai Musi sekaligus di muara anak sungai yang dikenal sebagai sungai Jeruju di kelurahan Kuto Batu Palembang. Bangunan batu berupa tangga naik turun ke sungai Musi ini berbentuk sangat unik mirip bangunan di situs cagar budaya Ki Gede ing Suro di situs 3 Ilir.

Baca:  Alex Noerdin Jajal Sirkuit Berlumpur Hingga 2 Jam

Tim dari Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumsel, Jumat (14/9) siang mendatangi lokasi tersebut, akhirnya di simpulkan bangunan tersebut sudah ada pada abad ke-20, di era zaman kolonial Belanda.

Kepala Balai Arkeologi Sumatera Selatan Budi Wiyana mengatakan, hasil penelitian awal diketahui, bangunan itu berdiri pada masa kolonial Belanda. Bahkan tangga-tangga susunan batu bata bukanlah dermaga.

“Saya baru saja pulang dari lokasi sama teman-teman arkeolog dan kami hanya ingin sampaikan bahwa tangga-tangga itu bukan dermaga. Itu seperti tangga di depan rumah menuju Sungai Musi,” kata Budi, Jumat (14/9).

Menurutnya , Sejarah Palembang ini panjang, banyak sekali. Tapi dapat dipastikan bahwa tangga itu bukan dermaga. Dimana setiap masa bisa dilihat dari gaya arsitekturnya seperti apa dan ini jelas bukan dermaga.

Baca:  APBD Sumsel di Sepakati Rp9, 7 Triliun

“Arsitektur bangunan terlihat seperti zaman kolonial, yakni bangunan Indis yang kami perkirakan abad ke-20 atau sekitar tahun 1926. Secara kasatmata ini sudah terlihat,” katanya.

Meskipun begitu, Budi tidak bisa melihat seluruh bangunan dan mengukur untuk keperluan penelitian. Hal itu dikarenakan rombongan peneliti sempat diusir oleh si pemilik lahan. Namun mereka sempat mengukur bangunan tersebut.

“Tadi belum selesai, kami ‘diusir’ sama si pemilik lahan. Tetapi warga menyebut di bangunan itu dulu ada rumah dan bagian halaman terdapat prasasti dan menyebut angka 1926 atau tak jauh dari angka itu,” katanya.

Namun Kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang Sudirman Tegoeh mengatakan, walaupun tangga da bangunan tersebut peninggalan era kolonial Belanda pihaknya akan menerjunkan tim untuk melihat kondisi tangga tersebut.

Baca:  Perindo Gencarkan Fogging Tiap Akhir Pekan

“Kita akan mengecek kesana apakah masih wilayah pribadi atau bukan, kalau kepemilikan pribadi kita lakukan pendekatan dengan pemiliknya , karena lokasi tersebut bisa dijadikan wisata baru di kota Palembang“ katanya.

Dan terlepas apapun itu bangunan tersebut, menurut Sudirman , tempat tersebut bisa dijadikan destinasi wisata baru sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah di kota Palembang.

Sedangkan pengamat sejarah kota Palembang Kemas Ari Panji menilai bangunan itu bagian kehidupan masa lalu masyarakat kota Palembang yang beradabannya  kesungai.

“Tangga tangga itu mencerminkan kehidupan masyarakat Palembang zaman dulu, itu jadi dulu dermaga walaupun tidak di fungsikan pemiliknya, ini bisa di hidupkan dan di revitalisasi menjadi objek wisata baru, sehingga kehidupan ekonomi masyarakat hidup dan bisa difungsikan sebagai dermaga bagi masyarakat,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Masuk Ruang Politik Transaksional

Jakarta, BP–Peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) 10 Desember diperingati hari ini di banyak tempat sebagai  bagian dari upaya  umat ...