Home / Headline / Raden Hanan, sebuah kisah kesederhanaan sang Walikota Pertama Palembang

Raden Hanan, sebuah kisah kesederhanaan sang Walikota Pertama Palembang

BP/IST
3 Mei , 1947 , Letnan Jenderal SH Spoor tiba di Bandara Talang Betutu, Palembang dan disambut Kolonel Mollinger dan Walikota Palembang Raden Hanan (berkopiah hitam)

NAMA Raden Hanan, tak pernah bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah kota Palembang .Pria yang akrab di sapa Cek Hanan merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia di masa penjajahan Belanda, Jepang dan di masa revolusi di Palembang.
Saat Proklamasi 17 Agustus 1945 atas nama Bangsa Indonesia oleh Sukarno-Hatta di Jakarta tidak dapat dimonitor oleh radio Palembang, pada saat yang sama. Hal ini disebabkan Studio Radio Jakarta di-black out oleh Jepang.
Isi pemberitaan dapat dimonitor oleh para pemuda dan isi berita tersebut disampaikan pada tanggal 18 Agustus 1945 kepada dr. A.K. Gani sebagai tokoh BKR (Badan Kebaktian Rakyat). BKR dibentuk menjelang keruntuhan Jepang sebagai wadah pemersatu kalangan pegawai pamong praja dan kalangan pemimpin pergerakan, baik yang berada di kota Palembang maupun di pedalaman.
BKR pada waktu itu telah menjadi satu-satunya Front Persatuan Nasional dari kalangan pemimpin-pemimpin daerah, yang nantinya akan melaksanakan peranan yang penting dalam menyambut awal kemerdekaan.
Tanggal 22 Agustus I945 pagi tokoh-tokoh BKR telah dipanggil oleh Cokan Myako Toshio. Didampingi oleh pembantu-pembantunya, Cokan menyampaikan dengan perasaan yang mendalam, bahwa Jepang telah menyerah. Untuk itu kepada yang hadir: Abdul Rozak, Noengtjik A.R., termasuk Raden Hanan, Asaari, lr. Ibrahim, Bay Salim, H. Cikwan, Salam Paiman, Parmono, dan Yap Tiang Ho — diajak untuk bersama memikul tanggung jawab tentang keamanan.
Pada tanggal 31 Oktober 1979, Raden Hanan meninggal dunia di Palembang dan dimakamkan di pemakaman Kawah Tekurep, Palembang. Cek Hanan merupakan sosok yang jarang ada di negeri tercinta saat ini.

BP/IST
Walikota Palembang pertama Raden Hanan semasa hidup

Sosoknya yang rela berkorban demi kepentingan bangsa terutama masyarakat Palembang berbanding terbalik dengan para elite atau pejabat negeri kita saat ini yang banyak terjerat korupsi.
Cek Hanan merupakan sosok sederhana yang tak memperkaya diri sendiri dari jabatan yang dimilikinya.
Padahal jika ia mau, tentu tidaklah sulit. Sebab, berbagai posisi penting pernah dijabatnya.
Begitu sederhana kehidupan Raden Hanan sampai-sampai Raden Hanan terpaksa menjualkan rumah pribadi miliknya untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, hingga akhir hayatnya, dia tidak mampu membeli rumah sendiri dan terpaksa menumpang di rumah anaknya.
Seperti diceritakan cucu Raden Hanan, RHA Sobri SE , dimana Raden Hanan berasal dari keturunan priyayi, dimana otomatis pada zaman itu hanya keturunan raden-raden bisa disekolahkan..
Pria yang juga Bendahara Pengurus Yayasan Masjid Agung Palembang ini sangat ingat bagaimana sangat sederhana sekali kehidupan Raden Hanan, hingga akhir hayatnya tidak ada harta yang ditinggalkan kepada anak cucunya.
“ Kecuali sejarah-sejarah beliau , pengabdian beliau selama ini, tidak ada peninggalan harta yang beliau tinggalkan ,” katanya, Jumat (31/8).
Walaupun mendapatkan gaji sebagai Walikota Palembang waktu itu menurutnya, jumlahnya tidak seberapa , namun cukup untuk menghidupi keluarga.
“Raden Hanan tidak ada usaha lain, beliau hanya berkerja saja tidak ada usaha sampingan , beliau termasuk salah satu Dewan Penasehat Masjid Agung tahun 1952, jadi arti kata memang keagamaannya tinggi juga ,” katanya.
Dulu, menurutnya, rumah Raden Hanan terletak di Jalan Ratna No 21 , Palembang yang hingga kini masih ada namun sayang sudah di jual dan kini sudah di rehab pemilik yang baru.
Sayang dimasa tuanya , Raden Hanan tidak kunjung memiliki rumah sendiri karena dijual untuk memenuhi kehidupan keluarganya, dan tinggal di rumah anaknya di 3 Ilir, Palembang.
“Rumah dijual oleh karena ekonomi tadi terutama kehidupan keluarga dan anak-anaknya, “ katanya.
Selain itu, Raden Hanan menurutnya, dikenal figur yang menolak bantuan orang lain apapun bentuknya.
“Beliau di kenal istikomah, dan hal-hal seperti itu tidak mau beliau lakukan, padahal dia kerja jadi Walikota Palembang dan tidak mau kerja sambilan, bagi Raden Hanan hal seperti itu menyalahi aturan dan tidak ada satupun anaknya Raden Hanan jadi PNS atau pejabat semasa Raden Hanan menjabat Walikota Palembang,” katanya.

BP/Dudy Oskandar
Cucu Raden Hanan, RHA Sobri SE

Namun yang terpenting menurutnya, bagaimana besarnya kecintaan Raden Hanan terhadap masyarakat Palembang dan ingin mengangkat Palembang sehebat mungkin disaat kehidupan masyarakat Palembang saat itu sangat miskin dengan kondisi kota Palembang yang hancur di serang Jepang dan Belanda saat itu.
“Cerito mama , dulu masyarakat Palembang susah semua, nah Raden Hanan ingin bagaimana bisa naik derajatnya masyarakat Palembang ini, karena hasil bumi Palembang banyak , itu yang mau di angkat Raden Hanan , supaya dapat memakmurkan masyarakat Palembang,” katanya.
Apalagi Raden Hanan semasa hidupnya dengan kehidupan yang susah dan jarang makan nasi, dikenal selalu membantu keluarga dan masyarakat Palembang seperti memberikan beras dan sebagainya.
“Bantuan itu diserahkan di rumah atau ada yang datang langsung menemui beliau, dan tidak pernah di tolak , alhamdulilah waktu beliau tua , saya juga dibantu beliau, pas aku ketemu beliau di jalan langsung di kasih duit,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun kesedihan keluarga terbesar adalah saat , dimana saat masa tuanya, Raden Hanan mengalami kesusahan padahal Raden Hanan adalah bekas pejabat dan dari keluarga priyayi kaya atau sampai ke Kesultanan Palembang.
“ Apalagi penghargaan dan perhatian pemerintah dengan Raden Hanan tidak ada sama sekali, jangankan penghargaan, Foto Raden Hanan saja tertukar, maaf ngomong, beliau itu Walikota Palembang pertama , nama jalan tidak ada untuk Raden Hanan, nama jalan Raden Hanan dimana cobo, tidak ada? , beliau itu tercatat dalam sejarah , namun tidak ada dibuat nama jalan,” katanya.
Dia mengusulkan karena Raden Hanan di lahirkan di Kebun Duku atau sekitar daerah Jalan Sudirman, harusnya ada nama Jalan Raden Hanan sekitar daerah Kebun Duku tersebut.

Baca:  Tanah Menumpuk Lama Dalam RS dr AK Gani, Sebabkan Banjir

Dia mengingat sekali, kesedihan keluarga yang mendalam saat di tahun 1945, saat Raden Hanan ditangkap oleh tentara Jepang dan Ia dibawa ke Nagasaki oleh tentara Jepang bersama pejuang lainnya seperti Dr. M. Isa, Dr. AK. Gani, Residen Haji Abdul Razak dan Haji Cik Wan.
Ditangkapnya Raden Hanan membuat keluarga terutama istri dan anak-anaknya bersikap pasrah, yang terpikir oleh mereka (Keluarga Raden Hanan) pada saat itu tidak akan kembali lagi (akan dibunuh oleh tentara Jepang).
Setelah terjadinya pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara Sekutu, Raden Hanan dikembalikan ke Palembang dalam keadaan sehat wal afiat.
Atas kembalinya Ia ke Palembang dalam keadaan selamat pada waktu itu disambut dengan suasana sukacita yang mendalam, istri, dan anak anak serta keluarga mengadakan acara selamatan/hajatan (Pembacaan Doa Keselamatan).
“ Yang cerita itu anak Raden Hanan yang juga mama aku, kalau Raden Hanan sempat di bawa ke Jepang, dengan rombongan dio, alasan di bawa ke Jepang Raden Hanan dan pemuda-pemuda Palembang pada waktu itu , istilahnya mereka dianggap orang membahayakan Jepang,” katanya. Ada sekitar 1 tahun Raden Hanan di amankan ke Jepang , sehingga sudah dianggap mati oleh keluarga,” katanya.
Begitupun saat Raden Hanan meninggal dunia , pejabat Palembang yang datang termasuk Walikota Palembang, H Eddy Santana Putra.
“Untuk peninggalan, mungkin hanya tongkat beliau, yang masih ada dan masih disimpan oleh anaknya,” katanya.#Dudy Oskandar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pelayanan Publik di Muba Kekinian dan Tidak Bikin Sulit

Sekayu, BP–Meski berada di level Kabupaten namun pelayanan dan kecanggihan berbasis digital di Bumi Serasan Sekate tidak bisa disepelehkan, guna ...