Home / Headline / Miris , Foto Walikota Palembang Pertama, Raden Hanan Tertukar

Miris , Foto Walikota Palembang Pertama, Raden Hanan Tertukar

BP/IST
Foto Raden Hanan (walikota 1) tertukar dengan poto M.R. Sudarman Ganda Subrata (walikota 2) foto tersebut diletakkan di lantai III Gedung Monumen perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang

Palembang, BP

Entah di sengaja atau tidak, foto Raden Hanan (walikota 1) tertukar dengan poto M.R. Sudarman Ganda Subrata (walikota 2) foto tersebut diletakkan di lantai III Gedung Monumen perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang yang memang khusus menampilkan foto-foto Walikota Palembang pertama hingga saat ini.
Ironisnya lagi hingga kini pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang tidak memperbaiki kesalahan tersebut malah membiarkannya selama bertahun tahun.
Menurut cucu Raden Hanan, RHA Sobri SE pihaknya sudah melaporkan hal ini kepada pihak Humas Pemkot Palembang namun dijawab oleh Humas Pemkot Palembang kalau kesalahan tersebut memang sejak zaman dulu.
Malahan tanggal 24 Juli 2018 lalu pihaknya sudah mengirimkan surat sanggahan hal tersebut kepada pihak Pemkot Palembang namun belum terealisasi hingga kini.
Dan pada waktu bertemu Humas Pemkot Palembang sebelumnya , pihak Pemkot Palembang berjanji akan menyusuri zuriat Mr Sudarman Ganda Subrata yang potonya tertukar dengan Raden Hanan.
“Kita bilang silahkan disusuri zuriatnya , namun yang jelas , kami sebagai zuriat ini menyangkal poto terbalik tersebut dan ingin meluruskan sejarah yang sebenarnya,” katanya, Jumat (31/8).
Pihaknya tidak bisa memastikan tertukarnya poto tersebut apakah disengaja atau tidak.
“Kalau Humas Pemkot Palembang bilang, itu datanya dari zaman dulu, katanya datanya dari Jakarta dikirim ke sini, mereka terima saja, itu pengakuan Humas Pemkot Palembang,” kata pria yang juga Bendahara Pengurus Yayasan Masjid Agung Palembang ini.
Sedangkan kejadian ini berawal cucumnya memberitahu kepada keluarga kalau tertukarnya poto tersebut di dapatnya dari sekolahnya juga , sayang poto Raden Hanan yang tertukar dengan poto Gandasubrata di SD cucunya tersebut belum di kembalikan keasal oleh pihak sekolah.
“ Pas kita mau ke monpera ini , kita cek bener, poto Raden Hanan, memang benar tertukar, kita ada buktinya,” katanya.
Pihaknya berharap posisi poto Raden Hanan dikembalikan ke posisi semula, namun dia menilai pihak Pemkot Palembang dinilai bertele-tele dalam memperbaiki kesalahan tersebut.
“ Mereka bilang harus menunggu pusat dulu, padahal yang benarnya sudah ada , kita data-datanya lengkap, SK Walikotanya ada ,” katanya.
Pihaknya tetap berharap meminta Pemkot Palembang meluruskan permasalahan ini karena sejarah itu harus yang benar-benar akurat.
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Tegoeh berjanji akan menyampaikan permasalahan ini kepada pihak Pemkot Palembang untuk segera di selesaikan.
Hal senada dikemukakan Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang Isnaini Madani akan segera melakukan koordinasi guna memperbaiki tertukar dengan poto M.R. Sudarman Ganda Subrata (walikota 2) foto tersebut diletakkan di lantai III Gedung Monumen perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang.
“Tolong kirimkan poto yang salah itu , nanti segera kita perbaiki,” katanya.
Sebelumnya, Raden Hanan Bin Raden Hanafiah dilahirkan di Palembang, pada tanggal 5 Nopember 1898. Atau 20 Jumadil Akhir 1316 H.
Ia di Didik dan dibesarkan dalam lingkungan Priyai Palembang, dan sejak usia muda sudah aktif dalam berbagai Organisasi Perjuangan dan Pergerakkan serta Menjadi Birokrat Sukses di Palembang. Pada masa Awal Kemerdekaan, setidaknya Ia Pernah menjadi;
1.Wedana Muara Enim, 2.Wakil Ketua Dewan Penasehat Daerah (Syu Sangi Kai) Palembang (Nop 1943), 3.Walikota Palembang (1945-1947), 4.Ketua DPRS – Negara Sumatera Selatan (10 Februari 1949 s.d 30 Juni 1950), 5.Residen Palembang (DP/diperbantukan) 1 Juli 1950, 6.Residen Palembang (Definitif Terhitung 1 Februari 1954) Raden Hanan diangkat sebagai Residen dengan surat pengangkatan tanggal 30 Januari 1954 (ditanda tangan Presiden Ir. Sukarno).
Pada Masa Pemerintahan Jepang di Tahun 1943 Raden Hanan diangkat menjadi Wakil Ketua Syu Sangi Kai (Dewan Penasehat Daerah) Palembang. Yang pada saat bersamaan Ia juga sedang menjabat sebagai Wedana Muara Enim.
Bentuk Pertama dari Partisipasi Politik Pribumi pada masa Pendudukan Jepang di Palembang diawali dengan dibentuknya Dewan Penasehat Daerah pada awal bulan september 1943, Di Palembang baru dua bulan kemudian (Nop 1943). Syu Sangi Kai (Dewan Penasehat Daerah).

Baca:  Galeri Bukit Siguntang Jadi Destinasi Wisata

Masa Pendudukan Jepang

Pada Tahun 1943 Raden Hanan diangkat menjadi Wakil Ketua Syu Sangi
Kai (Dewan Penasehat Daerah) Palembang. Yang pada saat bersamaan Ia juga sedang menjabat sebagai Wedana Muara Enim.
Syu Sangi Kai Palembang adalah bentuk Pertama dari Partisipasi Politik Pribumi pada pendudukan Jepang di Palembang yaitu diawali dengan dibentuknya Dewan Penasehat Daerah pada tahun 1943.
Di Palembang baru pada bulan (Nop 1943). Syu Sangi Kai (Dewan Penasehat Daerah) adalah Lembaga bentukan pemerintah Jepang sebagai pengganti Palembang raad (Dewan Penasehat bentukan Belanda).
Syu Sangi Kai meskipun dibentuk dan melibatkan tokoh-tokoh lokal (Palembang) tetapi pimpinannya tetap dipegang sepenuhnya oleh penguasa Jepang, dalam hal ini oleh Letjen K. Kasai (Gubernur Militer Jepang) untuk wilayah Sumatera bagian Selatan.
Sedangkan wakilnya yang pertama ialah Miaji (Cokan/Residen Palembang), Raden Hanan yang saat itu menjabat sebagai Wedana Muara Enim juga diangkat sebagai Wakil Ketua Syu Sangi Kai, bersama-sama dengan para tokoh-tokoh lainnya. Jumlah anggota Syu Sangi Kai awalnya nerjumlah 26 orang, tetapi sekitar bulan Maret 1945 bertambah menjadi 40 orang.
Atas Pergerakan dan Perjuangan yang dilakukan oleh Raden Hanan, dkk.
Pada tahun 1945 Ia pernah ditangkap oleh tentara Jepang dan (berdasarkan info yang berkembang) Ia dibawa ke Tokyo oleh tentara Jepang bersama pejuang lainnya seperti Dr. M. Isa, Dr. AK. Gani, Residen Haji Abdul Razak dan Haji Cik Wan.

BP/IST
Walikota Palembang pertama Raden Hanan semasa hidup

Ditangkapnya Raden Hanan membuat keluarga terutama istri dan anak-anaknya bersikap pasrah, yang terpikir oleh mereka (Keluarga Raden Hanan) pada saat itu tidak akan kembali lagi (akan dibunuh oleh tentara Jepang).
Setelah terjadinya pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara Sekutu, Raden Hanan dikembalikan ke Palembang dalam keadaan sehat wal afiat.
Atas kembalinya Ia ke Palembang dalam keadaan selamat pada waktu itu disambut dengan suasana sukacita yang mendalam, istri, dan anak anak serta keluarga mengadakan acara selamatan/hajatan (Pembacaan Doa Keselamatan).

Baca:  DPRD Sumsel Segera Panggil Manajemen Perguruan Tinggi Widya Dharma dan Harapan Palembang

Masa awal Kemerdekaan RI

Pernyataan Proklamasi 17 Agustus 1945 atas nama Bangsa Indonesia oleh Sukarno-Hatta di Jakarta tidak dapat dimonitor oleh radio Palembang, pada saat yang sama. Hal ini disebabkan Studio Radio Jakarta di-black out dalam pemberitaan yang sangat bersejarah ini oleh Jepang.
Isi pemberitaan dapat dimonitor oleh para pemuda dan isi berita tersebut disampaikan pada tanggal 18 Agustus 1945 kepada dr. A.K. Gani sebagai tokoh BKR (Badan Kebaktian Rakyat). BKR dibentuk menjelang keruntuhan Jepang sebagai wadah pemersatu kalangan pegawai pamong praja dan kalangan pemimpin pergerakan, baik yang berada di kota Palembang maupun di pedalaman.
“BKR pada waktu itu telah menjadi satu-satunya Front Persatuan Nasional dari kalangan pemimpin-pemimpin daerah, yang nantinya akan melaksanakan peranan yang penting dalam menyambut awal kemerdekaan.
Tanggal 22 Agustus I945 pagi tokoh-tokoh BKR telah dipanggil oleh Cokan Myako Toshio. Didampingi oleh pembantu-pembantunya, Cokan menyampaikan dengan perasaan yang mendalam, bahwa Jepang telah menyerah. Untuk itu kepada yang hadir: Abdul Rozak, Noengtjik A.R., Raden Hanan, Asaari, lr. Ibrahim, Bay Salim, H. Cikwan, Salam Paiman, Parmono, dan Yap Tiang Ho — diajak untuk bersama memikul tanggung jawab tentang keamanan.

Baca:  Berbagai Lomba Semarakkan Bulan Bung Karno

Masa Kekuasaan Pemerintahan Belanda

Pada tanggal 10 Februari 1949 s.d. 30 Juni 1950, Raden Hanan dipilih sebagai Ketua DPRS Negara Sumatera Selatan, kemudian pada tanggal 1 Juli 1950 diangkat sebagai Residen DP (diperbantukan) kepada Gubernur. pada saat itu Gubernurnya Winarno Danuatmojo. Tanggal 1 Februari 1954 dengan surat pengangkatan tanggal 30 Januari 1954 (ditanda tangani Presiden Ir. Sukarno) Raden Hanan diangkat menjadi Residen definitif.
Tuntutan pembubaran Negara Sumatera Selatan (RIS) dan pengabungan kembali Palembang ke dalam Provinsi Sumatera Selatan (RI) digerakkan oleh Front Pemuda.

Pada 15 Maret 1960 para Kepala Kampung dalam Kota Palembang mendesak, agar Palembang memutuskan perhubungan dengan Negara Sumatera Selatan (RIS) dan menyatakan Palembang adalah bagian dari pemerintahan RI.
Front Pemuda diwakili oleh. M.H. Katjamarga dan Husin Achmad pada tanggal 16 Maret 1950 mengadakan perundingan dengan Walikota W.V. Doop, pembicaraan yang alot baru berakhir pada pukul 16.30, di mana W.V. Doop bersedia menanda tangani pernyataan bahwa sejak 16 Maret 1950, jam 16.30 Gemeente Palembang bergabung kembali ke Negara RI.
Pernyataan ini tidak lepas atas persetujuan oleh panitia penasehat & pembantu dalam Urusan Gemeente, yang terdiri dari : Bay Salim, Raden Hanan, Mr. Lim Tjong Hian, R.A. Bakri dan M.J. Suud.

BP/DUDY OSKANDAR – Cucu Raden Hanan, RHA Sobri SE

 

Oleh karena W.V. Doop tidak bersedia lagi memangku jabatannya sebagai walikota setelah Palembang menyatakan bergabung kembali ke RI, dan W.V. Doop ingin menyerahkan kedudukannya kepada pimpinan Front Pemuda M. Uteh R. Yahya, tetapi ditolaknya.

Untuk itu jabatan tersebut diserahkan sementara kepada Bay Salim, yang duduk sebagai salah seorang Panitia Penasehat Gemeente. Jabatan tersebut dipegangnya sampai Menteri Dalam Negeri RI menunjuk Mr. R. Sudarman Gandasubrata sebagai Walikota. Bay Salim memangku sebagai pejabat Walikota sejak 17 Maret sampai Juli 1950.

Akhir Perjuangan dan Pengabdiannya

Pada tanggal 31 Oktober 1979 Raden Hanan meninggal dunia di Palembang dan dimakamkan di pemakaman Kawah Tekurep, Palembang.
Tulisan ini di dedikasikan kepada beliau, karena sampai saat ini belum ada tulisan ataupun biografinya, semoga kedepan ahli waris dan zuriat akan tergerak untuk menulisnya, karena masih banyak cerita atau kisah perjuangan Raden Hanan semasa hidupnya.#osk

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

DPRD Sumsel Harapkan Puskesmas di Sumsel Harus Aktif Jemput Bola

Palembang, BP Sejak program jaminan kesehatan yakni BPJS diterapkan di Indonesia, masih banyak masyarakat di provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang ...