Home / Headline / Orang Pandak Dari Sumatera

Orang Pandak Dari Sumatera

BP/IST
Sketsa Orang Pandak

#Terpantau Di Wilayah Sumsel Sejak Zaman Kolonial Belanda

LEGENDA orang pendek ada di seluruh hutan Sumatera. Termasuk di Taman Nasional Gunung Kerinci Seblat, di bagian Jambi. Di sana, ada legenda Uhang Pandak yang berarti orang pendek dalam bahasa setempat.
Seperti orang pendek lainnya, Uhang Pandak disebut hidup di pedalaman hutan. Orang-orang zaman dahulu mengaku telah menyaksikan famili manusia yang berjalan tegak di atas kedua kakinya, tapi bukan seperti manusia pada umumnya. Lantas siapa, atau lebih tepat lagi golongan apa mereka itu?
Manusia kecil itu ada menyebutnya anggota Suku Mante, golongan manusia yang misterius namun eksis di Aceh. Kesaksian menyebutkan Suku Mante memang sama saja dengan manusia pada umumnya, hanya ukurannya lebih kecil. Namun ada pula famili hominid yang penampilannya agak berbeda.
Kesaksian-kesaksian tentang mereka seringkali bercampur dengan cerita mitos. Kabarnya mereka ini benar-benar ada. Mereka berwujud seperti manusia, berjalan dengan dua kaki, namun berbulu sehingga juga agak menyerupai kera. Mereka ini manusia atau bukan?
Majalah De Tropische Natuur , Desember 1924 dalam artikelnya
dengan judul Orang Pandak dari Sumatera juga menjelaskan keberadaan orang ini dari catatan peneliti dari Museum Zoologi Bogor j I. A. STEINMANN dari Bogor (Buitenzorg ) yang melakukan perjalanan ke Sumatra.
Dia menyusuri dari trek yang dikaitkan dengan orang pandak, yang terakhir kali, begitu banyak membicarakan tentang manusia monyet atau apat manusia di Sumatra.
Jejak itu terakhir ditemukan di perusahaan Aer Teman di Moeàra Bliti, Palembangsche Bovenlanden, jejak itu sempat dicetak dengan parafin cair dituangkan ke dalam cetakan.
Kemudian pada bulan September, pihak Museum Zoologi Bogor sekarang datang ke Residen Palembang yang memiliki tapak asli itu sendiri.
P. van Can, Administrator Aer Teman, menulis tentang ini dan apa yang di temukan yang berikut kepada Residen Palembang dalam catatannya.
“Pada bulan Maret saya. Saya terkejut oleh persenjataan kuli saya di divisi kelapa sawit
Taba-Pingin. Beberapa orang, termasuk mandor, memakai tombak berpartisipasi dalam pekerjaan. Atas pertanyaan saya, mengapa ini terjadi, mandor memberi tahu saya ada seekor binatang aneh berulang kali berjalan melewati bangsal.
Saya sendiri kemudian memeriksa berbagai trek dan saya masih menemukan seorang yang mencetak jejak tersebut , saya kirimkan satu kepada Anda. Treknya sangat mirip seorang anak, tetapi terlalu lebar untuk jejak orang dewasa.
Saya kemudian bertanya dengan seseorang , yang membudidayakan ladang di lingkungan itu, dan mengetahui bahwa jejak yang ditemukan.
Seorang bahkan mengklaim bahwa ia melihat mahluk itu di ladangnya di bulan purnama sebanyak dua kali .
Dia menguraikan sebagai berikut mahluk tersebut,
Seperti dua binatang buas berlarian, benar-benar berbulu, sekitar 4, 5 hingga 5 kaki tingginya, ada rajutan di dada dan kaki belakang pendek.
Wajahnya kurang berbulu. Sangat menarik perhatian, bisa melompat, ada empat taring yang sangat besar, yang ada diatas dan bawah, mereka berlari sambil mendesis.
Saya sendiri telah berulang kali berjuang salah satunya bertemu orang pendek tersebut . Saya sampai semalaman mencari jejak tersebut namun sia-sia.
Saya kemudian menggali lubang yang dalam Tempat dimana mereka teratur berjalan. Dia telah melewati penutup lubang satu demi satu.
Namun, tampaknya batu lubang terlalu kuat, jadi itu mereka telah memakai berat badan untuk masuk tanpa roboh.
Saya kemudian membuat penutup lebih ringan. Saya akan mengambil rute ini secara teratur di atas papan ini biarkan dia memotong dari bawah dan mencoba menjemputnya cara ini untuk mengecoh. Bagaimanapun, saya akan melakukannya.
Kami melihat jejak kaki manusia, tetapi ada juga perbedaan mencolok. Pertama, kaki sangat lebar dalam kaitannya dengan panjang (10 cm pada panjangnya 18,5 cm.), Posisi jari-jari kaki berbeda pada kaki manusia, lintasan ini juga menunjukkan kelengkungan yang luar biasa dari telapaknya.
Sedangkan antropolog dari Universitas Alberta, Kanada, Gregory Forth menuliskan rangkuman kesaksian-kesaksian terkait keberadaan hominid di Indonesia dalam buku ‘Images of The Wildman in Southeast Asia: Anthropological Prespective’.
Sosok ‘orang pendek’ atau ‘uhang pandak’ dari Bengkulu dan Sumatera Selatan menjadi bahasan sejak zaman kolonial Belanda dulu. Orang pendek disebut dengan bahasa lokal yang berbeda satu sama lain di sepanjang Sumatera.
Dituliskannya, penuturan orang pendek dari penduduk Sumatera umumnya dibumbui dengan hal-hal berbau fantasi, misalnya punya kaki terbalik. Namun penuturan dari orang Barat biasanya dihubung-hubungkan dengan pandangan populer soal evolusi, bahwa orang pendek adalah ‘missing link’ dari proses evolusi, yakni perubahan dari kera ke manusia moderen.
Seorang Inggris yang bekerja untuk VOC, William Marsden, menuliskan kesaksiannya. Pada 1770 di distrik Labun, Bengkulu, dia menyaksikan makhluk bernama ‘gugu’. Makhluk ini adalah penghuni hutan yang sangat langka. Gugu punya karakter menjauhi interaksi dengan masyarakat umum.

Baca:  Alfaro-Hernoe Lolos Dukungan KTP

Mitos masyarakat lokal Labun Bengkulu juga memuat cerita gugu. Dikisahkan, seorang gugu pria kawin dengan perempuan lokal (manusia pada umumnya). Keturunan pertama mereka memang punya rambut lebih banyak dibanding manusia umum. Namun lama-kelamaan, anak turun mereka menjadi sulit dibedakan. Namun Marsden skeptis terhadap cerita itu.

“Barangkali ini punya dasar kebenaran, namun mengandung hal yang dilebih-lebihkan,” kata Marsden sebagaimana dikutip Forth.

Baca:  BNN Provinsi Sumsel Musnahkan 87 Gram Shabu

Dua orang bernama Schlegel dan Muller juga punya kesaksian pada 1839. Suatu hari di Indrapura (pantai sebelah barat Gunung Kerinci) mereka melihat ‘orang liar yang pendek’. Makhluk itu dikatakan tak punya kemampuan berbicara.

Ada pula, De Santy menceritakan pengalamannya saat berada di Bajuasin (Banyuasin) Sumatera Selatan pada 1925. Dia memperoleh keterangan dari masyarakat setempat tentang adanya makhluk dengan sebutan ‘sedapak’. Tubuh sedapak ini dipenuhi bulu.

Suatu hari, nelayan menemukan mayat perempuan sedapak. Umurnya diperkirakan 10 hingga 12 tahun. Lengan bawahnya lebih panjang ketimbang lengan atasnya. Jari tengah lebih panjang. Tumitnya lebih lancip.

Secara umum, kesaksian-kesaksian itu memang berasal dari masa lalu. Namun bukan berarti makhluk-makhluk itu sudah pasti hanya cerita bohong belaka.

“Ini tak bisa dikonstruksikan semata-mata sebagai hal yang imajiner atau makhluk mitologis secara keseluruhan,” kata Forth.

Dari catatan masa silam itu, Forth menyimpulkan tinggi spesies orang-orang pendek ini pada umumnya setara dengan anak usia 12 atau 13 tahun. Maksimal tingginya sekitar 1,5 meter.

Banyak kesaksian tubuh orang pendek dipenuhi bulu. Warna kulit mereka adalah cokelat-merah jambu. Postur tubuh mereka tegap, berjalan di atas dua kaki. Makhluk ini lebih mirip manusia ketimbang kera. Mereka bisa berlari luar biasa kencang.

Baca:  LRT Palembang Jadi Perdebatan Di Debat Capres

Mereka punya alis tebal, hidung pesek, tak punya lekuk di atas bibir. Gigi taringnya relatif panjang. Meski begitu, kesaksian menyebut wajah mereka mirip manusia.

Suara mereka mirip kera. Namun ketika menangis atau berteriak, suara mereka mirip manusia. Mereka hidup di hutan hingga di gua. Mereka tercatat sebagai makhluk pemalu, namun kadang sering melempari batu ke arah pekerja Melayu setempat.

Cukup sudah keterangan panjang soal makhluk ini. Jadi, mereka ini monyet atau orang?

“Sebagian orang Sumatera menganggap orang pendek sebagai manusia atau manusia pendek. Sebagian lagi menganggap mereka ini mirip kera, atau di antara kera dan manusia, semacam kera yang berjalan dengan dua kaki. Orang Rejang dari Bengkulu mendeskripsikan orang pendek sebagai keturunan monyet atau kera. Ada cerita, seorang wanita muda ditempatkan di kandang monyet, dan dikutuk karena berbuat salah,” kata Forth.

Cerita dari Walter M Gibson (1856) lebih unik lagi. Petualang Inggris-Amerika ini ada di Palembang pada pertengahan Abad 19. Bangsawan Melayu dia sebutkan telah memerintahkan ‘orang Kubu’ yang berambut untuk bekerja. Makhluk ini merespons perintah tuannya dengan suara ‘yuh’. Makhluk ini hanya bisa berbicara satu suku kata.

Warna makhluk ini adalah cokelat tua, tingginya sama dengan pria yang punya tinggi sedang, tumbuh bulu yang terlihat lembut di sekujur tubuh, badannya tegap dan mampu mengangkat barang berat. Hidungnya tebal, mulutnya maju, bibirnya lebih tipis ketimbang orang Melayu pada umumnya, namun seperti tidak punya dagu yang besar. Dia menyebutnya sebagai ‘budak Kubu’.

Pada Mei, 1927, pekerja Belanda di Kerinci bernama AHW Cramer melaporkan telah melihat makhluk seperti manusia dari jarak 10 meter. Sosok itu bergerak sangat cepat, meninggalkan jejak kecil di tanah. Rekannya yang berada lebih dekat malah bisa melihat lebih jelas, sosok itu seperti pria kecil, telanjang, dan tanpa senjata, dengan rambut gondrong dan kulit hampir hitam.#osk/dtc

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pencuri di Rumah Kosong Babak Belur Dihajar Massa

Palembang, BP–Joni Nasudin (43), warga Komplek Sasana Patra, Plaju, Palembang babak belur dihajar massa, usai tepergok mencuri di rumah yang ...