Home / Headline / Layangan Palembang

Layangan Palembang

BP/IST
Kms.H. Andi Syarifuddin
(KHAS)

Oleh: Kms.H. Andi Syarifuddin
(KHAS)

KU ambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Ku raut dan kutimbang dengan benang
Ku jadikan layang-layang
……

Demikianlah sepenggal syair lagu anak-anak yang sangat populer.

Layangan atau layang-layang merupakan salahsatu permainan tradisional masyarakat Palembang sejak doeloe. Jenis-jenis permainan tradisional masyarakat adat Palembang sangatlah banyak dan beragam, di antaranya ialah layangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan “Layang” bermakna mainan yang terbuat dari kertas berkerangka yang diterbangkan ke udara dengan memakai tali (benang) sebagai kendali.

Permainan tradisional ini diminati oleh semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, dari lapisan masyarakat biasa maupun golongan bangsawan. Di jaman Kesultanan Palembang Darussalam, layangan sudah menjadi pemandangan indah, menghias langit negeri Palembang. Selain sebagai permainan yang mengasyikkan, juga layangan sekaligus sebagai hiburan pelepas penat. Memainkan layangan di tanah lapang perlu keterampilan khusus serta peralatan layangan yang disiapkan dengan teliti dan terbaik. Para pembesar Kesultanan Palembang seperti Manteri, Raden ataupun Pangeran cukup piawai dalam bermain layangan di lingkungan keraton.

Baca:  Peringatan 17 Agustus Di Palembang , Mahasiswa FH Unsri Kunjungi Tugu Perang Lima Hari Lima Malam

Van Sevenhoven (1821), dalam tulisannya melukiskan tentang permainan layangan di Kesultanan Palembang tempo doeloe sebagai berikut:

BP/IST
Layangan Palembang

“Di sini lagi-lagi ada sebuah bidar atau pancalang yang membawa seorang Mantri, Raden atau Pangeran. Ia sungguh sibuk. Tidak ada yang mengalihkan perhatiannya. Ia melihat dengan tajam ke udara dan seorang yang baru akan berpikir, bahwa ia sedang mengawasi dengan seksama sesuatu yang ajaib di udara dan dari waktu kewaktu menceritakan kepada yang ada bersamanya apa yang dilihatnya. Kenyataannya adalah jauh daripada itu.
Orang itu kelihatannya begitu terhormat, kepada siapa banyak soal-soal penting harus dilaporkan, sedang menghibur diri dengan main layang-layang, yang talinya diperkuat dengan tumbukan gelas dan dicampur dengan beberapa benda tajam lainnya dengan maksud agar dapat memutuskan tali layang-layang lain semacam itu akan diputuskan oleh yang terakhir ini dengan tali yang juga diperkuat dengan cara yang sama. Itulah kesibukannya; dan tidak mengherankan!

Baca:  Kejati Sumsel Nilai Setiap Pilkada Ada Indikasi Keterlibatan Kontraktor Dengan Dinas Terkait

Dalam hal ini ia mengikuti rajanya yang mulia dan tuannya yang disamping itu masih mempunyai keistimewaan yang rupa-rupanya hanya dimiliki oleh keluarga raja, yaitu bahwa ia mengawasi layang-layangnya yang berada tinggi di awang-awang dengan sebuah teropong yang biasa dipakai untuk mengikuti suatu pementasan (tonel). …..yang kalah ialah orang-orang yang tali layang-layangannya dapat diputuskan oleh lawannya. Untuk memutuskan layang-layang atau untuk menghindarkannya diperlukan sedikit banyak keterampilan. Orang yang tidak ahli akan segera kehilangan layangan-layangannya.”

Di dalam rumah adat Limas, layangan dan ulakannya disimpan di ruangan pawon, digantung di dinding luar sebuah pangkeng yang berada tidak jauh dari ruang makan. Pada saat ini, layangan masih menjadi permainan dan hiburan alternatif yang menyenangkan, terutama ketika musim layangan ataupun pada saat memeriahkan momen bulan Agustusan.

Baca:  5 Panelis Lokal Hadir Dalam Debat Pilwako Palembang 2018

Hampir disetiap kampung dulu terdapat tukang layangan yang memproduksi dan menjualnya secara luas. Bentuk layangan khas Palembang cukup sederhana, namun memiliki banyak corak dan variasi reko/gambar yang menarik dilukis dengan sumbo.

Istilah dalam Dunia Pe”Layangan” :
– layangan
– kuncung
– reko
– ulakan
– padek
– tali benang
– tali timbo
– cul / ngecul
– prigel
– ngepal
– sinting
– ngoter
– ngencot
– paritan
– legoo
– gelasan
– ngambul
– kukutan
– nyempret
– ngedek
– nyerucup
– mongkoti
– nganteng
– tebik
– silem
– julur
– tarik
– ngebir
– katak-katak
– putus di tangan
– ceracahan
– ngokot
– ruwet
– ngulak tali
– melawan angin
– katek angin
– beri
– besetan
– bandelan
– gelondongan
– sumbo
– ngejer layangan
– satang
– dan lain-lain.

Bermain layangan hendaklah jangan sampai melalaikan waktu untuk beribadah.#

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

24 Jurnalis Lolos Tes UKW

Palembang, BP Setelah melalui serangkaian tes ujian, akhirnya sebanyak 24 peserta dari 28 jurnalis dari berbagai media cetak maupun online ...