Home / Headline / Sejak Pertama Kali Ditemukan Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Kondisinya Banyak Tidak Utuh

Sejak Pertama Kali Ditemukan Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Kondisinya Banyak Tidak Utuh

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana kegiatan Sosialisasi hasil penelitian Sriwijaya oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan(Sumsel), di Hotel Amaris, Kamis(9/8).

Palembang, BP
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berada di Palembang dan luar Palembang memang saat pertama kali temukan dulu kondisi tidak utuh, butuh peran serta masyarakat, pihak terkait dan pemerintah untuk bersama-sama melakukan penyelamatan peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang kini kondisinya memprihatinkan.
Kepala Balai Arkeologi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) , Drs Budi Wiyana mengatakan, kalau sudah sejak dulu peninggalan Kerajaan Sriwijaya terutama di Palembang kondisinya banyak tidak utuh.
“Banyak laporan Belanda misalnya para pejabat dan peneliti datang membuat laporan dan melaporkan kondisinya sudah tidak utuh, Cuma kondisi sekarang lebih parah lagi seperti dulu tinggal 20 persen , sekarang tinggal 2,5 persen, “ katanya disela-sela acara Sosialisasi hasil penelitian Sriwijaya oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan(Sumsel), di Hotel Amaris, Kamis(9/8).
Apalagi dulu orang tidak membuat pemukiman sekitar peninggalan Kerajaan Sriwijaya sekarang dibuat pemukiman.
“ Juga faktor orang melihat lahan peninggalan Kerajaan Sriwijaya tidak bertuan lalu di manfaatkan, contoh di Bukit Siguntang sebelum tahun 1950 an banyak bata kuno, orang bangun , ambil bata dari situ, juga faktor pembangunan yang tidak sesuai dengan prosedur termasuk pemerintah juga , “ katanya.
Dan dalam ilmu arkeologi , keaslian itu menjadi nomor satu dan tidak bisa merekayasa , contoh jika peninggalan itu tinggal 10 persen , mau dijadikan 100 persen tidak bisa , maksimal yang bisa dikembangkan yang 10 persen itu.
“Misalnya harus di tambah lagi, itu bisa , seperti kasus di Prambanan dan Borobudur, itu sebetulnya dia tidak 100 persen bener pada waktu itu ditemukan tinggal 90 persen , yang 10 persen bisa di tambahi karena dia ada gambar dan bisa di rekonstruksi tapi yang 10 persen itu dikasih tanda ini baru, bukan asli, itu boleh, tapi disini bener-bener tinggal 10 persen,” katanya.
Untuk kesadaran pengetahuan mengenai tinggalan harus dilakukan, salah satu sosialisasi yang dilakukan pihaknya dengan pihak sekolah.
“Itu tidak bisa dilakukan balai arkeologi sendiri tapi juga melibatkan masyarakat, pemerintah setempat baik provinsi dan kabupaten kota mereka harus aktip , kalau dikerjakan sama-sama gaungnya kedengaran tapi kalau dikerjakan parsial tidak berhasil,” katanya.
Selain itu Balar Sumsel membuka seluas-luasnya tentang informasi hasil-hasil penelitian yang ada di wilayah kerja Balar (Sumsel, Jambi, Bengkulu, dan Bangka Belitung).
“ Apa yang menjadi saran dari Kadinas Pendidikan dan para peserta disini kedepan akan kami maksimalkan, dan permohonan maaf yang sebesarnya untuk kegiatan kali ini baru 20 sekolah yang bisa kami undang (1 Guru + 2 Siswa). Dan kami titipkan kepada bapak/ibu guru pendamping kami titipkan alat peraga dan Poster serta VCD Pembelajaran Sejarah, kata Budi.
Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan (Diknas Sumsel), Widodo, mengatakan nantinya akan lahir pemateri-pemateri Nasional, tentang temuan-temuan Arkeolog khususnya tentang Kerajaan Sriwijaya, Lewat ajang sosialisasi seperti yang di gagas Balai Arkeologi Sumsel.
“Kegiatan ini sangat prestisius sekali, semoga ada forum-forum seperti ini yang di gagas Balai Arkeologi Sumsel,”ungkapnya.
Widodo menambahkan bahwa selain pemateri yang akan lahir dari pelajar SMA, dirinya juga berharap untuk menghidupkan semua temuan-temuan ini perlu dikemas lebih menarik lagi, sehingga enak di baca dan dilihat, hal itu bisa melestarikan dan mengembangkan sejarah.
“Nanti dibuat foto yang menarik kita taruh di Cafe-cafe dan ada perpustakan kecil didalamnya ada buku tentang Sriwijaya,”ujarnya.
Dalam kegiatan Sosialisasi Hasil Penelitian Sriwijaya di Hotel Amaris menghadirkan 4 orang pembicara/peneliti, yakni Agustijanto, SS., M.Hum, dengan Makalah “ Periode Pra-Sriwijaya di Pantai Timur Sumatera Selatan, Edwards Mc. Kinon Edmund, Ph.D. dengan Makalah Sriwijaya di Pantai Timur aceh dan Kedah, Erie Soedewo, SS., M.Hum. Sriwijaya dan Negeri-negeri di Selat Malaka pada abad ke-7 – 11 Masehi, dan Dra. Retno Purwanti M.Hum (Dosen LB Fakultas Adab / Balar Sumsel) dengan makalah “Selayang Pandang Hasil Penelitian Sriwijaya Kerja Balar Sumsel” yang dipandu oleh Kemas A.Rachman Panji dalam kegiatan sosialisasi hasil penelitian Sriwijaya kepada Guru-guru Sejarah dan Siswa SMA sederajat serta Undangan lainnya.
Rangkaian kegiatan telah dibuka sejak tanggal 6 di hotel Aryaduta tentang Seminar Kesejarahan dengan tema “Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia” dan dilanjutkan dengan kegiatan Sosialisasi Hasil Penelitian Sriwijaya di Hotel Amaris. #osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

150 Tenant Beri Diskon di ‘Palembang Great Sale’

Palembang, BP–Menyambut Asian Games 2018, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menggelar Palembang Great Sale untuk pertama kalinya digelar di ...