Home / Headline / Napi Tugaskan Sipir Jadi Kurir Narkoba

Napi Tugaskan Sipir Jadi Kurir Narkoba Di Lapas Merah Mata Palembang

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menanyai salah satu bandar shabu jaringan Lapas Merah Mata. BP/HAFIDZ TRIJATNIKA

Palembang, BP–Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel membongkar jaringan peredaran narkoba yang dikendalikan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mata Merah Palembang dan oknum sipir.

Dalam kasus ini terdapat dua napi yang mengendalikan bisnis haram tersebut dari dalam bilik penjara, yakni Herman Gani (53) dan Rizki (26). Keduanya menjalankan peredaran shabu secara berbeda.

Diketahui Herman merupakan napi asal Palembang yang divonis 17 tahun penjara, sedangkan Rizki merupakan bagian dari jaringan peredaran shabu asal Aceh yang telah divonis 20 tahun penjara.

Tersangka Herman mengendalikan bisnis shabu dengan menyuruh kedua anaknya, yakni Nabila (20) dan Idham (28) sebagai kurir untuk mengantarkan serbuk setan yang dipesan dari luar sel.

Nabila ditangkap di kawasan Jalan Tasik Palembang usai dipancing petugas yang melakukan penyamaran dengan barang bukti 370 gram shabu dalam empat paket besar. Dari Nabila, pengembangan kembali dilakukan hingga kakaknya, Idham juga ditangkap.

Baca:  Belum Sempat Pecah Shabu, Tukang Ojek Dibekuk

Idham disergap saat berada di rumah Jalan Talang Kerangga, Lorong Langgar, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan IB II bersama barang bukti 300 butir pil ekstasi dan 7,16 gram shabu.

Sementara tersangka Rizki berkomplotan dengan salah satu oknum sipir Lapas Mata Merah, yakni Adiman alias Adi (36) yang berperan sebagai kurir dan mendapat perintah dari Rizki untuk mengantar pesanan yang dilakukan melalui sambungan telepon dari dalam penjara.

“Sudah empat kali saya mengantar dan ambil narkoba sesuai pesanan dan atas perintah Rizki. Saya benar-benar menyesal,” ujar Adi saat dihadirkan dalam gelar tersangka dan barang di Mapolda Sumsel, Senin (6/8).

Tersangka Adi dibekuk petugas di simpang lampu merah Bandara SMB II Palembang, Jalan Tanjung Api-api, pada Kamis (2/8). Dari dalam mobil yang dikendarai tersangka, petugas menemukan uang tunai Rp120 juta yang diakui tersangka bahwa uang itu adalah hasil penjualan narkoba.

Kemudian petugas menuju ke rumah si pembeli narkoba tersebut, namun rumah sudah kosong dan dalam penggeledahan polisi menemukan barang bukti satu paket narkoba shabu seberat 209,56 gram.

Baca:  Hindari Kades Narkoba, OI Libatkan BNN di Pilkades

Dari pengembangan petugas, Adi mengakui bahwa dirinya merupakan kaki tangan Rizki. Adi mengakui setiap kali diperintah Rizki, ia mendapatkan upah Rp5 juta untuk setiap 100 gram shabu yang diantar kepada pemesan.

Sementara itu tersangka Rizki mengaku mengendalikan bisnis narkoba dengan menunjuk tersangka Adi sebagai kurir. Tersangka Rizki memerintah Adi melalui ponsel dari dalam sel penjara. “Saya cuma telepon dia (Adi-red) dan memintanya ambil, lalu antar pesanan. Barang (narkoba) pesanan itu dari Aceh,” ujar Rizki.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara didampingi Direktur Ditres Narkoba Kombes Pol Farman mengatakan, diamankan nya oknum sipir penjara ini berawal dari informasi masyarakat.

“Oknum sipir ini kaki tangan dari napi dalam menjalankan bisnis narkoba. Oknum sipir dan napi sudah diamankan dan menjalani pemeriksaan untuk dikembangkan. Narkoba diduga berasal dari Aceh, karena si napi merupakan jaringan Aceh,” papar Zulkarnain.

Baca:  Simpan Shabu Dalam Sepatu

Sementara mengenai Herman dan anak-anaknya, Kapolda mengatakan, pihaknya sudah enam bulan terakhir melakukan penyelidikan dan ditemukan bahwa peredaran narkoba tersebut dikendalikan seorang napi di Lapas Merah Mata.

“Kurang lebih sudah enam bulan, kedua tersangka yang merupakan anak napi ini menjadi kaki tangan ayahnya  untuk menjadi pengedar. Mereka mengantar barang atas instruksi Herman,” katanya.

Zulkarnain menjelaskan, modus yang digunakan tiga beranak ini ketika Herman menelepon Nabila atau Idham jika ada pesanan yang masuk. Herman menyelipkan ponsel dari balik jeruji untuk menerima pesanan dari para pengedar di Palembang.

“Seluruh barang bukti shabu dibeli dari Aceh dan diterima kedua anaknya. Jika ada yang pesan, kedua anaknya ini yang mengantarkan barang,” jelasnya.

Polisi menduga jaringan narkoba dari balik lapas ini melibatkan dua orang pegawai setempat. Dugaan itu muncul lantaran Herman yang kini sebagai napi dapat memegang ponsel meski sedang menjalani tahanan.

“Kami ada beberapa nama (para napi bandara narkoba), ini salah satu yang berhasil kita ungkap, oknum pegawai lapas yang terlibat masih kita selidiki,” tambah Kombes Pol Farman. #idz

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kebijakan BPJS Sangat Memberatkan Pasien

Palembang, BP BPJS Kesehatan kembali mengeluarkan kebijakan baru, kebijakan ini diterapkan salah satunya untuk efisiensi anggaran, namun justru kebijakan tersebut ...