Home / Sumsel / Ogan Ilir / Masih Ada Asa, Masih Ada Kesempatan…

Masih Ada Asa, Masih Ada Kesempatan…

Tak ada orang yang mau terjerat dalam kasus hukum, namun saat nasi sudah menjadi bubur, apa pun harus dijalani. Seperti “nasib” warga binaan di Lapas Tanjungraja Kelas II B Kecamatan Tanjungraja Kabupaten Ogan Ilir (OI), yang harus menjalani masa hukuman hingga usai, beruntung mereka mendapatkan pendidikan “sekolah” dan ketrampilan agar menjadi lebih baik. Masih ada asa disana, masih ada kesempatan kedua, menjadi lebih sempurna usai menjalani masa hukuman di balik jeruji besi.

Senin (6/8) para warga binaan terlihat serius mengerjakan soal ujian semester mata pelajaran PPKN untuk kelas paket A, B dan C. Lembar demi lembar soal dikerjakan dibangku hijau panjang yang sengaja disusun rapi. Tak ada suara riuh, hanya senyap, bolak balik berkutat dengan kertas dan pena.

Salah satu peserta didik paket A seperti Andre (27) asal Kecamatan Gelumbang yang tengah menjalani hukuman karena terlibat kasus narkoba yaitu menjadi pemakai dan pengedar sabu dengan masa hukuman 6 tahun 6 bulan dan sudah menjalani selama 4 tahun 7 bulan, terlihat selesai mengerjakan soal PPKN. Dirinya ingin sekolah paket A agar mendapatkan ijazah untuk melamar pekerjaan usai bebas dari lapas.

“Ya ingin dapat ijazah, ikut sekolah agar lancar membaca, menulis, kalau nanti sudah keluar mau buka warung sembako. Saya menyesal sudah terjun ke dunia narkoba lebih dari 2tahun sebagai pemakai kadang juga berjualan, tidak ada gunanya, badan habis, uang habis terakhirnya masuk penjara. Alhamdulillah di sini sebagai tempat menempa diri sekaligus belajar sekolah paket A nanti kalau lulus mau ikut lagi sekolah paket B dan C,” ujarnya.

Tak hanya Andre, warga binaan lainnya Rusdi asal Desa Arisan Buntal Kayuagung, yang terkena vonis 7 tahun dan sudah menjalani hukuman 2 tahun,selain mengikuti kegiatan Paket C dirinya juga ikut serta dalam membuat prakarya membuat ornamen dari kardus bekas yang diubah menjadi asbak beraneka bentuk, mulai dari naga, ikan, ayam, burung dan sebagainya.

Menurutnya sebelum masuk bui dirinya berprofesi sebagai tukang bangunan, jadi tidaklah terlalu sulit baginya untuk belajar membuat asbak tersebut, hanya dibutuhkan waktu satu bulan untuk belajar. Dikatakannya untuk membuat asbak berbentuk naga berukuran besar dibutuhkan waktu 2minggu. Disebutkan Rusdi dibutuhkan beragam bahan antaranya kardus 20 buah direndam dalam selama 3 hari yang dicampur dengan detergent, kemudian diadoni menggunakan sagu 2 kg sagu, lem , kawat, kelereng, kaleng cat, cat minyak, harga jual asbak tersebut dibanderol Rp 70 ribu-200 ribu per buah tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.

Para warga binaan mendapatkan pendidikan di PKBM Attaubah dan berbagai keterampilan di Lapas Kelas II B Tanjungraja.

“Saya menyesal terlibat narkoba tidak ada manfaatnya, alhamdulillah di sini ada hikmahnya, ada pendidikan agama, sekolah juga menambah ketrampilan. Jadi saat keluar nanti bisa bersosialisasi dengan keluarga dan masyarakat, memiliki ketrampilan diharapkan bisa berguna untuk membuka usaha yang bisa menopang hidup. Siapa tahu saya ada jodoh untuk membina keluarga, bisa mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup. Harus optimislah, masih ada asa dan kesempatan bertaubat dan kembali menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat,” harapnya.

M Rizal (27) Warga Desa Tanjung Atap Kecamatan Tanjung Batu, yang tersandung kasus sabu-sabu mendapatkan vonis selama 5tahun penjara dan sudah menjalani hukuman 3tahun 6bulan. Dirinya lebih memilih ketrampilan membuat pajangan kapal layar dari bahan triplek. Adapun bahan membuat kapal layar tersebut antaranya kayu pule, lem, tusuk sate, ampelas, pelitur, benang, mistar. Menurutnya kapal layar membuatnya bisa sampai 15hari, semakin rumit polanya semakin lama pengerjaannya. Untuk bentuk tersedia model lainnya seperti becak, sepeda, orang, bunga dan sebagainya. Harga jual pun beragam mulai dari Rp50 ribu-500 ribu.

“Tidak ada yang mau masuk bui, tapi karena sudah melanggar hukum harus dijalani. Yang jelas kami sudah bertobat, alhamdulillah kami di sini bisa sekolah, mengaji, membaca buku, bermajelis taklim, mungkin inilah hikmahnya. Saat keluar nanti kami mau berusaha mencari uang halal dengan ketrampilan yang dimiliki, kamk ingin ke masyarakat, berkeluarga. Insya Allah masih ada asa dan kesempatan bagi kami saat keluar nanti menjadi lebih bermanfaat, “jelasnya usai mengikuti ujian semester genap periode 2017-2018 kemarin.

Plt Kalapas Tanjungraja Badarudin SH MH didampingi Ketua pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Attaubah Syahrul melalui Bendahara PKBM Attaubah Subarman, Sekretaris Herman dan Kasubsi Bimkemaswat Lapas Tanjung Raja Harfan mengatakan setidaknya tersedia beberapa program di PKBM Attaubah antaranya paket A setara SD jumlah siswanya sekitar 23 orang, paket B setara SMP jumlah siswanya sebanyak 26 orang dan paket c setara SMA/SMK dibagi dua kelas siswa C1 sebanyak 25 orang dan siswa cC2 sebanyak 23 orang, sementara jumlah tutornya sebanyak 16 orang.

Menurut Badarudin diberi nama PKBM Attaubah yang artinya bertaubat, agar setiap siswa lebih berakhlak mulia, bertaubat dan menjadi manusia lebih baik usai menjalani hukuman dari lapas. Disebutkannya program tersebut dimulai sejak Januari 2017, yang kelasnya menggunakan masjid, balai dan kelas ruang bawah

“Kita berharap dengan adanya PKBM, warga binaan mendapatkan kesempatan belajar, dapat ijazah yang bisa digunakan untuk mencari pekerjaan bahkan bisa menjadi kades. Seperti alumni kami Mat Husin asal Gelombang yang menjadi kades setelah keluar dari sini. Setiap orang pasti punya kesalahan, tapi kita harus memberikannya kesempatan agar bisa kembali ke masyarakat menjadi lebih baik. Di sini diberikan pendidikan Agama, PPKN, Sosiologi, IPA, IPS dan sebagainya. Memang ada beberapa kendala yang dihadapi antaranya khususnya napi yang berumur, kurangnya konsentrasi belajar karena umur yang relatif tua, meski demikian mereka tak pernah putus asa, selain itu keterbatasan fasilitas peralatan seperti meja panjang, papan tulis spidol, tidak adanya komputer untuk pelaksanaan ujian, tutor yang tidak mendapatkan bayaran dan sebagainya. Jadi kami murni pengabdian, ikhlas untuk bangsa dan karena Allah semata,” jelas Herman.

Menurutnya dari 690 orang warga binaan, hanya 30persen yang mengikuti kegiatan tersebut, sementara sisanya lebih memilih mengikuti ketrampilan menjahit, elektronik dan sebagainya. Untuk kelas sekolah dimulai Kamis-Sabtu dari pukul 09.00wib-11.30siang. Menurutnya untuk honor para tutor terkendala nomor pendidik sistem nasional namun beruntung persoalan tersebut tidak terlalu lama sehingga kemungkinan awal tahun depan, para tutor bisa mendapatkan intensif “ala kadarnya”.

“Kita memberikan ilmu karena Allah, sehingga saat mengajar tidak ada lagi waktu kosong, ilmu yang dimiliki bisa bermanfaat bagi orang lain adalah sesuatu yang berharga. Meskipun mereka warga binaan yang kebanyakan kasus narkoba namun kami sangat menghargai dan mengharapkan saat keluar nanti ada ketrampilan, kepandaian yang dimiliki. Dengan tujuan akhirnya ilmu tersebut bisa berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Ibarat pepatah masih ada asa, kesempatan yang bisa dirajut usai mereka menjalani masa hukuman dibalik jeruji besi,” ujarnya.

Kepala BNNK OI AKBP Abdulrahman mengatakan beragam sosialisasi pencegahan dilakukan sebelum adanya penindakan yang dilakukan ke berbagai sektor, mulai dari sekolah, pegawai, masyarakat biasa, organisasi, parpol akan pentingnya pengetahuan bahaya narkoba.

“Diharapkan semua lini masyarakat dapat mengerti dan punya pengetahuan akan bahaya narkoba. Untuk mencegah dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Untuk pecandu narkoba kita sudah siap Klinik Pratama untuk berobat gratis. Untuk pemberantasan kita mengadakan penangkapan bagi pemakai, pengedar dan bandar. Nah bagi yang sedang rehab dan sudah dihukum penjara karena narkoba, kita sangat berharap bertaubat agar tidak kembali ke jalan yang salah. Dan saya sangat mendukung lapas memberikan program sekolah paket, program ketrampilan agar saat kembali ke masyarakat mereka memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk bersosialisasi, mencari rejeki halal agar mandiri dan berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat,” tegasnya.

Pengamat pendidikan DR Samsuddin mengatakan memberikan kesempatan “kedua” bagi eks napi atau warga binaan untuk menjalani kehidupan lebih baik adalah wajib hukumnya bagi masyarakat. Menurutnya sangat berat menjalani kehidupan usai bebas dari tahanan karena adanya stigma yang melekat, untuk itulah diri sendiri dan keluarga harus memberikan dukungan penuh, selain itu masyarakat memberikannya ruang agar mereka dapat “bergerak”. “Jangan memandang sebelah mata, dimata Allah amal ibadahlah yang terpenting bagi orang yang bertaubat. Benteng utamanya agama, diri sendiri harus berpikir positif, selain itu keluarga memberikan dorongan penuh dan masyarakat memberikan ruang untuknya bersosialisasi, agar bisa menjadi lebih baik, kesempatan ini jangan disia-siakan. Banyak kok eks napi yang sudah bertaubat dan menjadi ustadz, ada juga yang menjadi pebisnis unggul bahkan sampai menjadi pejabat, asalkan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya. #henny primasari

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Diduga Asal Jadi, Pembangunan Siring Desa Meranjat 1

Inderalaya, BP — Menggunakan dana desa Rp 200jutaan tahun 2017 lalu, proyek siring lebih dari 20 meter di Desa Meranjat ...