Home / Headline / Belanda Jalankan Kartel Narkoba Selama Berabad-Abad (Dan Membayar Untuk Perangnya)

Belanda Jalankan Kartel Narkoba Selama Berabad-Abad (Dan Membayar Untuk Perangnya)

Ewald Vanvugt

BELANDA menjalankan kartel narkoba selama berabad-abad untuk membeayai perang menyatukan Gugusan Nusantara dibawah kekuasaan Batavia
Sebagai penjajah, Belanda tidak hanya mendapatkan uang dengan rempah-rempah, tetapi juga dengan opium. Dengan itu, ia membayar untuk perang kolonialnya.
Demikian ungkapan Ewald Vanvugt pada majalah bulanan, Maand van de Verzwegen Geschiedenis (bulanan Monumen Sejarah yang ini juga harus dimasukkan dalam buku-buku sejarah.
Ewald Vanvugt memiliki nama panjang Ewald Maria Gerardus Antonius Vanvugt ( ‘s-Hertogenbosch (Belanda) , 16 April 1943 ) adalah seorang penulis dan fotografer Belanda . Dia menerbitkan lebih dari tiga puluh buku. Sejarah kolonial adalah objek tulisannya. Pada tahun 1985 , dia melakukan studi berjudul Opium mengenai 350 tahun perdagangan opium Belanda di Asia dalam tulisannya mengungkapkan bab yang terlupakan dalam sejarah kolonial mengenai perdagangan Opium yang dilakukan Belanda di Asia termasuk biaya perang Belanda di dapat dari perdagangan Opium.

Berikut tulisan Ewald Vanvugt :

DALAM sejarah pemerintah Belanda di Hindia Timur menjadikan komoditi candu dalam skala besar selama berabad-abad; dan fakta yang hampir tak terbayangkan bahwa pemerintah membiayai penaklukan kolonial dan pasukan pendudukan dengan keuntungan perdagangan ini. Yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa semua buku modern diam tentang perdagangan opium Belanda di Asia.
Dari perpustakaan di Bali pada tahun 1984 saya membawa pengetahuan ini bersama: di era VOC dan di bawah Raja William I, pemerintah mempertahankan monopoli perdagangan opium di Hindia Timur menjadi ketat dan di daerah berkembang. Keuntungan dari opium sebenarnya adalah sumber utama uang tunai untuk pembayaran militer dan sipil.
Buku-buku sejarah Belanda tidak menyebutkan apa pun tentang hal ini. Ketika ditanya di antara sesama ulama, mereka juga tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Dengan berbagai alasan pihak pemerintah kolonial tidak menulis sejarah opium Belanda, kendati sebagian besar pemasukan diperoleh dari komoditi yang mengerikan dari opium untuk membeayai perang.
Di Singaraja ada perpustakaan yang tersimpan rapi sejak zaman kolonial yang patut dikagumi sebagai perpustakaan Belanda terbaik di luar Jawa. Gedung perpustakawan yang ramah itu berbicara secara eksklusif bahasa Indonesia, bahasa yang bisa saya beri salam dan terima kasih.
Dia membawa saya ke bangunan tambahan dengan perpustakaan Belanda. Sebuah tembok sebagian diisi dengan Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, yang diterbitkan di Batavia sejak tahun 1860 dan seterusnya. Tembok lain penuh dengan sumbangan untuk Bahasa, Tanah, dan Etnologi Hindia Belanda.
Di perpustakaan ini masih terdapat dokumentasi peninggalan dari masa VOC di abad ke 16. Bagi mereka yang ingin mendalami sejarah, perpustakaan ini menyimpan mengenai pengetahuan tetang sejarah candu – dari 1600 hingga 1940 – dan menjadi menarik bila disusun dengan baik. opium adalah topik yang banyak dibahas.
Bali menjadi salah satu pusat perdagangan senjata dan candu
Pada abad kesembilan belas, angkatan laut kolonial sering bertempur di pantai utara Jawa dengan kapal-kapal dari Bali yang saat itu masih merdeka. Bali tidak tidak lagi menjadi sekutu Belanda yang sebelumnya mengirim orang-orang Bali dengan status perbudakan ke Batavia sejak abad ketujuh belas, Bali sekarang menjadi titik pusat bagi pemerintah Belanda untuk perdagangan senjata dan opium.

Para pengguna opium

Perjuangan untuk menaklukkan Bali membunuh ratusan orang Bali pada tahun 1906. Drama ini diperingati setiap tahun pada tanggal 20 September dengan pertemuan resmi dan perhatian di media. Di Belanda drama ini – sebagaimana yang berlaku untuk sejarah kolonial – benar-benar terlupakan.
Teka-teki adalah: apa yang mendorong pemerintah Belanda untuk menaklukkan Bali? Menurut kepanduan penguasa kolonial demarkasi perbatasan dan hak tradisional dari Bali untuk menjarah kapal terdampar menghapuskan. Tapi jelas ada kepentingan tersembunyi: opium.Zo datang dua sejarah samen.
De perpustakaan kolonial di Belanda terdapat banyak bukti dari peran kunci mengenai komoditi candu dalam sejarah Hindia Belanda dan kohesi perdagangan opium negara dan penaklukan yang berlangsung. . Tidk ada yang boleh mengkritik karena diawasi ketat oleh pemerintah kolonial. Hal ini dialami pemimpin redaksi Bataviaasch Nieuwsblad, J.F. Scheltema, kehilangan pekerjaan dan posisinya dalam masyarakat karena mengkritik mengenai politik opium yang diterapkan pemerintah kolonial. Pada 1902 ia menulis:
“Ini benar-benar sejalan dengan politik opium sebagai yang pertama yang diperlukan di bawah otoritas bendera Belanda ke Kota Raja di Aceh, tidak membesarkan gereja atau sekolah atau utilitas umum lainnya, tapi mengutamakan opium! Mengutamakan uang melampaui represi dosa rakyat, sehingga kita memiliki dua ratus tahun cenderung mencandukan (amfioengenot) penduduk Jawa dan Madura (dan menumbuh kemabgkan di seluruh Nusantara”.
“Penemuan-penemuan perdagangan opium terdapat di sumber publik dan diperebutkan. Tapi perlahan saya sadar bahwa saya adalah yang pertama di usia saya gambaran tentang 350 tahun perdagangan opium Belanda di Asia memiliki perjanjian yang terungkap juga” Stefan Landshoff (1950-2000) dari De Knipp mengungkpkan, “Saya mulai menulis buku tentang perdagangan opium Belanda di Asia.
Di perpustakaan Koningklike Troopen Instituut, Universitetit van Amsterdam dan Institut sudi Kerajaan Belanda untuk Asia Tenggara dan Karibia di Leiden saya mencoba tentang opium Bali yang ditemukan dalam buku sejarah.
Saya terkejut karena sebagian besar yang saya dapati bahwa dalam banyak buku dan publikasi di Belanda diterbitkan setelah tahun 1950 di Hindia, perdagangan opium yang menguntungkan di Asia kadang-kadang disebut volatile, tetapi sebaliknya diabaikan. Kesunyian berhasil menghapus masa lalu seolah-olah itu tidak pernah terjadi Apa sebenarnya yang dilakukan Belanda?
Apa sejarah itu? Pada tahun-tahun awal VOC pada abad ketujuh belas, kapten VOC dari Turki, Persia dan terutama India mengambil kasus-kasus opium ke timur. Khusus untuk perdagangan, tidak pernah untuk penggunaan pribadi.
Sebagian besar digunakan sebagai pembayaran untuk rempah-rempah di tempat lain di Asia, misalnya, lada hitam di Cochin di India.
Pada 1613 VOC menjual 200 pound amfioen ke Maluku. Setelah Cornelis Speelman menaklukkan sebagian besar Jawa Tengah pada 1677, VOC mengambil hak eksklusif untuk mengimpor opium. Penyewa Cina membelinya, lalu menjualnya kepada konsumen.
Hubungan ini berlangsung selama dua abad. Baik pemerintah Belanda dan para penyewa mendapatkan modal untuk konsumen kecil. memanfaatka opium dan menghasilkan uang tunai langsung dengan yang dibeli oleh tentara dan pegawai dan dibayar langsung.
Tetapi keuangan hasil candu setelah VOC pada tahun 1800 menghilang dari tempat kejadian, perdagangan opium adalah sumber utama pendapatan.
Pada tahun 1826 Raja William I memutuskan bahwa dua tahun sebelumnya mendirikan Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM, kini Bank Mandiri) per 1 Januari 1827 untuk monopoli tiga tahun pada penjualan opium ke Jawa dan Madura. Antara tahun 1825 dan 1833, total laba bersih NHM sekitar enam juta gulden, setengahnya diperoleh dengan perdagangan opium.
Kekayaan tumbuh dari kekuatan petani Cina yang besar. Dan Belanda mulai tahun 1894 untuk pemerintah Belanda karena pengadilan, sementara secara eksklusif dikembangkan di pulau Madura, dengan Departemen Opium Regie.
Dengan layanan ini, pemerintah memperluas monopoli negara pada perdagangan opium ke perdagangan ritel untuk pertama kalinya. Pemerintah sendiri akan belajar cara membersihkan opium mentah dan memasak sesuai dengan selera pengguna lokal.
Pada Struiswijk real di Meester Cornelis di Batavia pemerintah kabupaten membuka pabrik di mana opium mentah dari negara siap untuk rookopium.Verpakt dalam tabung bersertifikat yang layak dan bak opium Negara akan mudah dibedakan dari penyelundupan opium. Pegawai negeri dengan gaji tetap mulai menjual opium legal langsung kepada para pengguna di lokasi penjualan opium resmi.

Baca:  Pasangan MUSI Serius Kuatkan Ekonomi UKM Melalui 1RW4NA

Dari pembelian di Turki atau India untuk dijual kepada agen di Madura yang sepenuhnya dikendalikan pemerintah yang menguasai seluruh rantai komersial, dan mereka melakukan seperti pabrik meraih keuntungan.

Produk opium secara massal

Produksi opuim secara massal merupakan keberhasilan keuangan Belanda. Pada tahun 1904 pemerintah membangun pabrik opium di lingkungan Kramat hingga Salemba, kini kompleks RSCM dan UI yang masih daerah Weltevreden kini daerah Gambir). Merupakan pabrik opium pemerintah yang komprehensif, lengkap dengan kereta api ke pelabuhan untuk pengangkutan.
Setiap tahunnya gerbong-gerbong diisi bola peti di daun dibungkus opium yang diimpor hasil kerja-sama pemerintah India-Belanda lebih dari seratus ton minyak mentah opium yang diproses di pabrik negara hingga lebih dari tujuh puluh ton asap-opium.

Di-ruang-pengisian-pabrik-opium-di-Batavia-tabung-dikemas-dalam-kotak-kayu-Jawa.

Tjandoe ini merupakan salah satu industri terbesar dan paling lengkap di Batavia. Kegiatan transaksi penujualan opium yang dilakukan pemerintah Hindia-Belanda selama setengah abad terakhir di Hindia Belanda (1890-1942) melalui jaringan yang rumit luas Kantor-kantor penjualan opium dibuka secara resmi dan sangat mencolok.
Menyatukkan Gugusan Nusantara dengan dana dari hasil perdagangan Opium Uang Belanda mendanai perluasan daerah-daerah kolonial yang ditaklukan diseluruh gugusan nusantara yang kemudian di satukan dibawah taklukan Batavia sebagai ibukota oleh sang penakluk, Belanda.
Perusahaan Perdagangan Belanda mengizinkan petugas dari tentara untuk menyelundupkan opium, bahkan mereka diizinkan untuk menyimpan sebagian dari hasil penjualan.
Banyak tentara bayaran pribumi mengembalikan gajinya dengan imbalan candu, sebagai obat pekerja kesayangan mereka, dan sejarah pengembangan opium sengaja di sembunyikan pemerintah Hindia-Belanda.

Baca:  Waspadai Berita Hoaks, Politisasi Sara, Kampanye Gelap Dan Money Politik

Tetapi walau begitu, mereka yang memiliki hati nurani, tetap saja menulis hingga sejarah sekalipun ditutup dibawah ratusan karpet tebal, cepat atau lambat terbongkar juga, karena ada saja yang menulis dengan sembunyi, dan akhornya terbongkar juga. Seperti yang dilakukan oleh Ewald Vanvugt yang dengan tekun meneliti dari berbagai sumber kepustakaan yang kemudian disusun hingga menjadi lengkap dengan fakta dan data. Iapun mengisahkan dari hasil penelitiannya selama dua tahun pada 1984-1985.
“Saya menyertakan bukti bahwa pemerintah dan pers di Belanda dan Hindia Belanda dilaporkan secara terbuka dan sebelum 1942 pada perdagangan opium dari pemerintah, tapi pemerintah dan pers di periode pasca-kolonial topik ini biarkan menghilang tanpa jejak.

Baca:  Zaskia Gotik Meriahkan  Panggung Prajurit dan Pesta Rakyat di Lanud SMH Palembang

Itu hampir tidak bisa dipercaya, tetapi sepanjang sejarah kolonial karakter yang terlupakan ternyata telah memainkan peran kunci.Teka-teki semakin berkembang: mengapa tahun 1950 semua sejarawan mempertimbangkan topik ini setelah 1950?

Terkejut dan diburu saya menulis, didorong oleh penerbit saya, hingga terbit buku 425 halaman teks dan 36 halaman ilustrasi, mengenai bukti sah tentang opium. Pencarian bahan-bahan ini merupakan hasil etos kerja saya yang hasilnya serba mengejutkan. Terutama pada proses pengembangan dan metode penjualan opium. Motivasi saya merupakan bahan bakar saya untuk menyelidiki dan meniliti untuk kemudian menulis dikengpai pengetahuan bahwa pemerintah berpaling ke keuntungan opium:

Kemarahan Sejarawan

Kemarahan atas kegagalan sejarawan profesional – dengan jejak mereka seluruh peleton humas dan buku teks pembuat – yang sejak setidaknya 1950 tentang fakta-fakta ini hampir tidak ada yang dilaporkan. Hukum opium terdiri dari kutipan dari berbagai sumber-sumber publik untuk mendukung proposisi seorang profesor meninggalkan tugas mereka dengan sejarah yang untuk diperebutkan, tidak satu kata tulisan pun keluar mengenai kegiatan sejarah opium yang sebenarnyayang terjadi di Indonesia, terutama di Batavia yang merupakan salah satu pusat pemasok industri opium terkemuka di Asia-Pasifik masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Bupati Muaraenim Bagikan 470 Paket Sembako

Muaraenim, BP—Bulan suci Ramadhan 1440 H dimanfaatkan Bupati Muaraenim Ir H Ahmad Yani, MM untuk saling berbagi dengan kaum dhuafa. ...