Home / Pemerintahan / Kehadiran Demokrat Ancam Kemesraan Gerindra-PKS

Kehadiran Demokrat Ancam Kemesraan Gerindra-PKS

Jakarta, BP–Direktur Pencapresan DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suhud Aliyudin meminta Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memegang komitmen berkoalisi dengan PKS pada Pilpres 2019.  Prabowo tetap harus memilih cawapres dari internal PKS meski mendapat tambahan dukungan dari partai lain.

Menurut Suhud, koalisi PKS-Gerindra sudah dibangun sejak lama dan ada kesepakatan antara Prabowo dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufrie,  bahwa  Pilpres 2019 Partai Gerindra mengusung capres dengan figur cawapres dari internal PKS.

“Berdasarkan itu, maka penambahan anggota koalisi Demokrat atau PAN,  harus memperhatikan aspek tersebut,” kata Suhud, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (1/8).

Baca:  77, 5 Persen Angka Partisipasi di Sumsel Untuk Pileg dan Pilpres 2019

Ditegaskan, Prabowo harus komitmen dengan kesepakatan PKS mendapat posisi cawapres dan kehadiran Demokrat jangan mengganggu kenyamanan Gerindra-PKS yang sudah terbentuk sebelumnya. Yang jelas, Prabowo  sebaiknya memilih cawapres dari PKS, bukan dari partai lain, termasuk Demokrat.Pasalnya,  kader PKS Salim Segaf bersama Ustaz Abdul Somad, masuk dalam ijtima ulama dan rekomendasi majelis syuro untuk bakal cawapres Prabowo.

“Ini harus dipertimbangkan serius keinginan dari umat. Ini tidak bisa dianggap main-main. Kalau ini tidak disikapi secara tepat bisa menjadi blunder bagi Pak Prabowo dan Gerindra,” tutur Suhud.

Baca:  Pilpres 2019, Netralitas TNI Harga Mati

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli menyampaikan, pematangan koalisi pendukung Prabowo bakal bertambah alot dengan kehadiran Demokrat. Sebab, di tengah semakin mesranya Gerindra dengan Demokrat, PKS terus meminta kadernya dipilih jadi cawapres.

“Masing-masing partai punya calon, pembahasan koalisi pasti akan alot. Jika menghitung secara politik, peluang Partai Demokrat lebih terbuka mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai cawapres Prabowo,” jelasnya.

Alasan Lili,  AHY sudah populer, elektabilitasnya cukup tinggi, dan punya modal logistik kuat dari Partai Demokrat. Meski demikian, hal itu akan menimbulkan friksi dengan PKS yang setia berkoalisi mendukung Prabowo sejak Pilpres 2014. Apalagi PKS ngotot kadernya jadi cawapres pada Pilpres 2019.

Baca:  77, 5 Persen Angka Partisipasi di Sumsel Untuk Pileg dan Pilpres 2019

Sekretaris Jenderal PKS Mustafa Kamal menyatakan partainya punya segudang kader mumpuni untuk diajukan menjadi capres atau cawapres. Sejak jauh hari, PKS sudah menyiapkan sembilan nama untuk jadi cawapres Prabowo pada Pemilu 2019. Namun hingga kini Prabowo belum memilih nama cawapres dari daftar yang diajukan PKS.

“Ini kan pertimbangannya ‘cottail effect’. Mencari figur yang bisa menambah elektabilitas Prabowo untuk mengimbangi elektabilitas tinggi Pak Jokowi,” ujar Lili.#duk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Harga Kopra Jeblok, Senator Malut Minta Pemerintah Turun Tangan

Jakarta, BP–Harga kopra di Maluku Utara (Malut) jeblok sejak enam bulan terakhir. Semula Rp10.000 kini hanya dihargai Rp3.200 per kilo. ...