Home / Headline / Mengunjungi Kembali Palembang dan Pladjoe

Mengunjungi Kembali Palembang dan Pladjoe

Marlies ter Borg-Neervoort saat berada dalam komplek komperta Plaju

(Sebuah perjalanan Yang Mengharukan
Setelah 65 Tahun Kemudian..)

 

Marlies ter Borg-Neervoort adalah wanita keturunan Belanda menuliskan kisahnya saat dia lahir di Plaju, tulisannya dia beri judul “ Palembang And Pladjoe Revisited a sentimental journey 65 years later (Kunjungan ulang Palembang Dan Plaju, sebuah perjalanan sentimental 65 tahun kemudian).
Dalam tulisan tersebut dia gambarkan bagaimana dia dan orang tuanya tinggal tempat yang kini bernama Komperta Plaju, saat itu ayahnya menjadi seorang sukarelawan perang Belanda.
Kekaguman dia tunjukkan saat melihat rumah tempat tinggal dia dulu dan rumah sakit Belanda dulu yang melahirkan dia….bagi Marlies perjalanan ini sangat sentimental tahun 2013 lalu.
Marlies ter Borg-Neervoort lahir di Pladjoe , tahun 1948 ) kini dia adalah seorang filsuf dan sosiolog Belanda .
Ter Borg memperoleh gelar PhD, pada hari yang sama dengan suaminya, setelah mempelajari filsafat dan sosiologi dalam ilmu sosio-budaya di VU University Amsterdam . Dia bekerja sebagai asisten kelompok di Dewan Perwakilan , di Dewan Ilmiah untuk Kebijakan Pemerintah , Dewan Penasihat Keamanan dan Perdamaian dan sebagai seorang ahli polemik di VU.
Ter Borg menderita gangguan bipolar (manic-depressive disorder). Dia menikah dengan prof. Dr. Meerten ter Borg (1946-2017), profesor spesialis khususan agama non-institusional di Universitas Leiden .

Dia menulis buku-buku diantaranya Koran en Bijbel in verhalen dan Sharing Mary: Bible and Qu’ran side by side. Kedua buku fokus pada analisis teks komparatif di kedua kitab suci tersebut.

 

Berikut tulisan asli yang tulisnya dalam bahasa Belada saat dia berkunjung ke Plaju….

MUSIM panas ini, 2013, saya mengunjungi tempat di mana saya dilahirkan, pada Malam Natal, 1948: Pladjoe, sebuah kota pinggiran kota minyak Palembang di selatan Sumatra. Saya terkejut menemukan
kehidupannya tidak berubah . Villa beratap hijau di atas hijau dengan
melambai-lambai pohon palem. Betapa lega setelah keliling kota Palembang, sambil naik motor skuter.
65 tahun yang lalu hidup bersama perusahaan minyak Belanda, Bataafse PetroleumMaatschappij, (dinasionalisasi pada tahun 1957) sekarang menjadi Pertamina .
Sayang masuk Komperta , tidak bisa begitu saja . Saya harus menyerahkan saya paspor di gerbang dan penjaga sempat membaca ‘tempat lahir saya : Pladjoe’.

Marlies ter Borg-Neervoort berpoto bersama dengan jemaat gereja dalam Komperta Plaju.

Kami lalu masuk dan berjalan sekitar, mengagumi rumah-rumah dan lingkungannya yang tenang.
Pladjoe sekarang Plaju, dulu menjadi lokasi minyak milik BPM sekarang Pertamina.
Kami disambut dengan hangat di gereja Protestan setempat , seperti hari Minggu saya diminta untuk bergabung dengan koor untuk foto.
Bahkan yang lebih damai adalah rumah sakit tempat saya dilahirkan. Ada satu lantai tinggi yang tertutup,
halaman bunga, dengan pilar ramping dicat biru muda dan hijau muda. Tempat kelahiran , dan ada lokasi penyimpanan jenasah.
Ini sebuab kejutan yang menyenangkan .Selama perjalanan ini , saya belajar dari pengalaman sebelumnya.
Pladjoe ini adalah tempat Kelahiran saya di Palembang dimana saat itu dalam suasana perang, perang antara negara saya, Belanda, dan
Gerakan pembebasan Indonesia (TNI) . Tepat setelah Belanda dibebaskan dari penindasan rezim Hitler.
Belanda menggunakan kekerasan untuk menekan pembebasan rakyat Indonesia. Begitupula Nazi dikutuk karena menerapkan politik rasisme. Namun koloni Belanda Indië juga diperintah dengan
Menerapkan prinsip rasis. Penduduknya dimasukkan ke dalam kategori: ‘inlander’ ‘indo’ dimana derajat kaum eropa lebih tinggi . Sistem ini masih berlaku pada bulan Januari 1949 ketika Ayah saya mendaftarkan saya dengan pemerintah Palembang waktu itu , di bagian departemen Eropa.
Orang tua saya tidak pernah bercerita tentang konflik di Palembang. Saya menemukannya sedikit demi sedikit, via
internet dan di Palembang sendiri. Hampir tidak ada informasi tentang konflik antara Belanda dan TNI , TNI sendiri adalah nasionalis Sukarno. Itu saja yang saya ketahui.
Orang-orang Indonesia sendiri tidak memiliki alat-alat film-film foto. Dari sisi Belanda beberapa gambar
Itu selalu ada, tetapi mereka tidak memberikan gambaran yang jelas tentang skala serangan Belanda.
Pemerintah Belanda sengaja menyamarkan rencana mereka sebenarnya dari operasi serangannya ke Palembang , yang mereka sebut
operasi besar Product (spring 1948) and Crow (December 1948) ‘politionele acties’, yang lebih berkaitan dengan masalah penegakan hukum dan ketertiban, seperti kepolisian menangkap penjahat yang membuat onar .
Kenyataannya kedua operasi ini adalah serangan skala besar, dengan puluhan ribuan orang yang terlibat, dan persenjataan berat seperti tank dan pesawat pembom.
Langkah merebut Palembang, bagaimanapun, untuk mendahului serangan resmi. Pada akhir tahun 1946 Belanda mengambil alih komando dari Inggris, yang sebelumnya telah memegang Belanda, sehingga pasukan Belanda kembali ke Palembang , apalagi sampai terjadi bentrokan dengan kaum Nasionalis. Ayah saya adalah salah satu yang sukarela disana. Kaum laki-laki tidak diizinkan kembali ke negara kelahirannya.

salah satu sudut Komperta Plaju yang di abadaikan oleh Marlies ter Borg-Neervoort .

Ketakutan mereka terhadap Belanda –Indonesia
terjadi perang, Namun pada tahun 1946 pemerintah Belanda
berjanji untuk mengakui kemerdekaan Indonesia dan diizinkan untuk mengambil alih bekas jajahan Inggris tersebut.
Namun dalam perjalanan Belanda ke Sumatera, kota-kota terbesarnya, seperti Palembang dan Medan, dibom.
Ini saat pasukan Belanda  memasuki Palembang dari sungai. Material berat diluncurkan dari kapal-kapal ke sungai Palembang.
Dalam Film Belanda menunjukkan bagaimana pasukan Belanda
membantu warga membersihkan puing-puing, dari pemboman Belanda.
Namun pada saat itu telah terjadi gencatan senjata di tempat, berdasarkan Perjanjian Linggarjati 15
November 1946. Sementara itu parlemen Belanda meloloskan undang-undang tentang wajib militer untuk dikirim ke negeri jajahan belanda ‘Indië’. Mereka yang menolak akan masuk penjara.
Pada Hari tahun Baru 1947 seorang warga Ambon yang mabuk dari KNIL, Kerajaan Belanda melepaskan tembakan senapan ke udara. Tentara Republik menganggap ini sebagai provokasi dan memicu tembakan balasan dari tentara republik. Itu pemicu Angkatan Darat Belanda untuk memulai operasi skala besar di Palembang.
Semua register dibuka, tulis seorang juru bicara Belanda. ” Jan van Trigt, duizenddagenindie.wordpress.com.
Tidak hanya senapan mesin dan granat tangan turun tetapi juga pengangkut personel lapis baja, Humber kendaraan tempur, meriam dari kapal laut di sungai Moesi, dan pesawat bomber B-25.
Menurut juru bicara Indonesia, ada tembakan artileri berat dari sungai. Dibentengi dengan kendaraan lapis baja dan tank canggih, pasukan Belanda menyerbu dan menyerang Markas tentara Indonesia di Masjid Agung Palembang, yang mana orang Indonesia membela diri atas nama Jihad (perang defensif). Ini benar-benar perang besar, dengan pesawat, meriam artileri dan bentrokan fisik dan menelan korban manusia.
Di Palembang itu diingat sebagai Perang Lima hari dan Lima Malam.
Serangan Belanda, perang lima hari lima malam, dikenang sebagai perang memorial Palembang.
Menurut deskripsi Indonesia, Belanda menderita masalah logistik, karena diserang dari semua sisi oleh tentara Indonesia dan masyarakat setempat.
Sisi Indonesia mereka mendapat dukungan masyarakat Palembang
Apalagi kaum perempuan ikut membantu tentara Indonesia.
Namun pihak Indonesia kehabisan amunisi. Jadi setelah lima hari terjadi gencatan senjata.
Penembakan terakhir datang dari militer markas kapal Belanda , menyebabkan banyak korban.
Pada 5 Januari, orang Belanda itu menyimpulkan, ”Tuntutan kami telah diterima. Antrean panjang
kendaraan lapis baja dan operator kembali. Tertawa dan bernyanyi.
Semua lelah ada yang mati, tetapi senang dengan
kesuksesan.
Pertempuran sudah berakhir dan orang Indonesia mundur. ”
Menurut perjanjian militer Indonesia mundur ke 20 km dari kota.
Namun, dari sana, mereka melanjutkan perang gerilya. Yang mengarah ke wilayah Palembang .Pada tanggal 21 Juli 1947.
Orang mungkin mengira bahwa pada saat orang tua saya datang ke Pladjoe, wilayah itu relative aman. Namun tepat sebelum hari kelahiran saya, pada Malam Natal 1948, perang pecah termasuk di Yogyakarta dan Batavia .
Pemerintah Belanda telah berhati-hati untuk melakukan serangan walaupun negosiasi antara Belanda dan Indonesia terus dilakukan. Komandan militer Belanda Spoor bertekad untuk terus menangkap tangkap pemerintah nasionalis. Spoor juga melalui surat pribadi kepada perdana menteri Belanda, mengancam akan mengundurkan diri jika nasihatnya tidak diperhatikan.
Maka pada 19 Desember 1948 militer Belanda menguasai Yogyakarta dan mengirim para pemimpin Indonesia Soekarno dan Hatta ke pengasingan. Komunitas internasional sendiri juga mendesak Belanda untuk memberikan kemerdekaan pada Indonesia. Dewan Keamanan PBB (yang telah bertemu untuk pertama kali pada tahun 1946) mengadakan sesi rapat darurat tentang pertanyaan Indonesia yang dikuasai Belanda
Pada 24 Desember 1948, hari kelahiran saya, resolusi itu turun berikut isinya:
Dewan Keamanan,
Memperhatikan dengan keprihatinan terjadi perang di Indonesia,
1. Mendesak semua pihak yang bertikai:
(a) Untuk menghentikan perang dengan segera;
(b) Segera membebaskan Presiden Republik Indonesia dan pelaku politik lainnya yang menjadi tahanan dan ditangkap sejak 18 Desember 1948;
Ketika Belanda telah mencapai tujuan militer mereka, operasi militer dihentikan. Tetapi para pemimpin pemerintah Republik baru dibebaskan Belanda bulan Mei setelah Amerika Serikat mengancam untuk memotong bantuan Marshall kepada Belanda.
Setelah mengunjungi Pladjoe dan Palembang hampir 65 tahun kemudian, kami menjadi tamu di Yogyakarta. Saya diundang untuk berbicara di Universitas Negeri Islam Uin Sunan Kalijaga dan di Center for Studi Agama dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada. Universitas ini duludidirikan di Yogya pada 19 Desember 1949, setahun setelah Belanda mengambil alih kota dan menangkap para pemimpin Indonesia.
Fokus saya adalah nilai-nilai umum dalam Al Qur’an dan Alkitab, seperti yang disajikan di situs web kami. Muslim dan Kristen padangannya berdasarkan Al Quran dan Alkitab, tentunya nilai-nilai umum ini termasuk Damai , kedamaian.
Saya merasakan suasana dan perasaan itu, ketika mendiskusikan tema ini, sebagai seorang Belanda, seorang wanita Belanda, untuk mengatakan:
“Maafkan saya.” , Dengan Apa yang Sudah Saya Lakukan….#

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Thia Yufada dan Gerakan Literasi di Muba

Oleh : Maspril Aries Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi Gerakan literasi di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terus bergerak. Ketua ...