Home / Headline / Pangeran Krama Jaya Dari Palembang (Catatan Walter Murray Gibson)

Pangeran Krama Jaya Dari Palembang (Catatan Walter Murray Gibson)

BP/IST
Dudy Oskandar

Oleh : Dudy Oskandar (Jurnalis)

WALTER  Murray Gibson adalah seorang pemimpi kronis, sosok romantis dan penemu petualangan yang dibesar-besarkan sehingga memoarnya harus di telaah secara hati-hati . Lahir di lnggris pada 1822 tetapi tumbuh dan besar di South Carolina, dia mengaku bahwa rasa simpati romantis kepada orang Sumatera dan antipati kepada ‘penjarah besar bernama Jan Company terinspirasi oIeh salahsatu pamannya yang berprofesi sebagai pelaut dan pernah berdagang di antara Muskat dan Aceh.
Kemampuan persuasif Gibson pertama kaIi dikembangkan di Amerika Tengah, sehingga dia diangkat menjadi konsulat Jenderal untuk tiga republik di Amerika Serikat. dan mengatur pembelian sekunar bekas milik Dinas Perpajakan Pemerintah Amerika Serikat. Flirt, untuk seorang Jenderal Guatemala.
Ketika urusan pembelian tersebut ternyata melanggar berbagai aturan, Gibson melarikan diri dengan cara berlayar ke Sumatera dan tiba di Palembang pada awal 1852.
Belanda mencurigai Gibson yarg dianggap meniru James Brooke, ‘Raja Putih’ dari Serawak, dengan cara mencari beberapa orang Sumatera yang dapat ia ‘bebaskan ‘dari Belanda atau bentuk-bentuk penindasan Iain. Gibson ditangkap di Palembang ketika mencoba berkomunikasi dengan pemerintah Jambi yang dianggap pemberontak oIeh Belanda, tetapi berhasil kabur dari Batavia setelah setahun di tahan disana.
Belakangan, Gibson tampaknya ingin mewujudkan pula impiannya di kerajaan Hawai yang merdeka, dimana ia menjadi Menteri luar Negeri. Pertama untuk periode 1882-1887 sebelum akhirnya dia diusir dari sana dengan tidak hormat.

Kisah romantisisme Gibson, yang tak tahu malu semakin memikat karena diceritakan dengan penuh bumbu di atas geladak kapal kepada rekan-rekan seperjalanan ketika berlayar pulang ke Amerika.

Tercakup disini, dua kisah tentang keberadannya di Palembang: bagian dari diskusi dengan keluarga Pangeran Melayu (kepala Suku) dan pengalamannya di pesta pernikahan Cina. (Reid, Anthony (ed.), Sumatera Tempo Doeloe : dari Marco Polo sampai Tan Malaka, Depok : Komunitas Bambu, 2014. Hlm.292).

Catatan Gibson saat berada di Palembang pada waktu dia menghadiri sebuah jamuan pesta orang Cina. (Arafah Pramasto,S.Pd. (Penulis Buku Kesejarahan dan Pekerja Sosial Palembang di situs Sumselterkini) juga diceritakan dengan jelas.

Gibson memulai ceritanya dengan kekaguman pada dekorasi lampion yang indah berayun mengikuti naik turunnya arus sungai. Pemandangan itu memperlihatkan “rakit di atas sungai” atau rumah terapung milik orang Cina kaya. Ia kebetulan memiliki teman bernama Oey Soch Tchay yang tak lain ialah saudara dari tuan rumah yang punya hajatan.
Oey Tsee Yang, nama saudara Soch Tchay, sedang merayakan pernikahan anak perempuannya.

Baca:  Kampung Kapitan Ramai Dikunjungi Warga

Ruangan pesta itu ternyata cukup luas dan mampu menampung sekitar 200 orang. Memori Gibson ini nampaknya mendukung catatan sekitar kurang lebih dua dekade sebelumnya, Sevenhoven telah menuliskan bahwa rakit orang Cina biasanya dilengkapi dengan rumah belakang yang dibangun di atas rakit sendiri sehingga bagian tengah menyerupai pelataran (halaman) dalam rumah, biasa juga berfungsi sebagai ruang keluarga maupun dapur.
Gibson mencatat tamu undangan yang hadir bukan saja orang Cina. Ia menulis bahwa di antara “kepala botak licin dan berkepang” (model rambut yang diresmikan oleh orang Manchu) tampak pula kabyah (kebaya) Melayu dan sarung keris emas, bahkan ada dua tiga orang memakai surban Arab. Beberapa perempuan Melayu, tua dan muda, yang cantik maupun tidak, semuanya berpakaian indah.

BP/IST
Walter Murray Gibson

Ada seorang tamu yang berasal dari Bali yang bercerita pada Gibson bahwa biasanya para tamu istimewa akan duduk di kursi utama tiap meja serta berhak memilih teman duduknya sendiri. Para bangsawan Melayu yang tidak ikut makan di meja nampak berjalan di antara meja-meja dengan gembira sembari menyapa para tamu yang duduk.

Gibson dapat menangkap bahwa di dalam rumah itu tengah diadakan pesta karena bunyi gong dan lonceng. Selama pesta ada kelompok musisi yang duduk di lantai. Kelompok itu, kata Gibson, “memukul lonceng-lonceng kecil dia atas papan yang bentuknya menyerupai dulcimner ; memetik senar-senar kecapi, mendentingkan segitiga, dan menabuh genderang dengan bunyi ribut.” Tentang “lonceng” sebagai alat music juga pernah dicatatkan oleh pelancong Portugal pada abad ke-16 bernama Tome Pires.

Alat music lonceng dalam catatan Pires ialah bebunyian yang dimainkan bersama-sama seperti organ.Sedangkan papan yang menjadi tempat bagi lonceng-lonceng, sebagaimana disebut oleh Gibson, menyerupai dulcimer yakni alat music tradisional Amerika berupa siter berdawai tiga yang dimainkan dengan cara dipetik.Penyepadanan itu menandakan alat musik yang disaksikan oleh Gibson sifatnya melodis.

Baca:  Jadikan Megalitik Dan Gua Harimau World Heritage

Kemungkinan besar ia melihat instrumen gamelan atau kulintang. Gibson melanjutkan bahwa ada laki-laki yang menari di lantai.
Sementara ia melanjutkan makan, para musisi memainkan lagu yang lebih ramai, ada juga sekelompok pria maupun wanita bersiap memainkan wayang. Puncaknya adalah ketika mendekati akhir acara para penari ronggeng “menyanyi dan menari seperti orang kesetanan” dalam permaianan wayang (belum jelas jenis tarian yang diceritakan oleh Gibson ini).
Pood Djang, teman Gibson yang menjadi pelawak adalah orang pertama dalam mencicipi hidangan tuan rumah. Djang berkelakar bahwa “Hanya ada sedikit daging anjing dalam sup, tapi masih sangat muda sekaligus sangat hitam yang katanya sangat enak rasanya.” Soch Tchay tidak menyetujui candaan Pood Djang dengan berkata, “Di Palembang kami tidak makan anjing. Ada banyak sekali ayam dan burung yang lezat rasanya.”

Gibson sendiri tidak percaya kelakar Pood Djang karena ia yakin daging anjing maupun cincang anjing tidak termasuk hidangan orang Cina di kota ini. Setelah itu ada hidangan tambahan istimewa berupa sup kental yang mengandung sel-sel mirip lilin buatan burung walet kecil. Hidangan yang tepatnya disebut sebagai Sup Sarang Walet ini diperoleh dari gua-gua dekat laut, utamanya laut Jawa.
Sarang burung yang belum pernah dipakai mengerami telur amat mahal, bisa sampai satu setengah dolar per ons,namun yang sudah pernah dipakai hanya setengahnya saja. Belanda memperoleh untung dari perdagangan burung walet dan bagi warga Cina sendiri makanan ini memberi khasiat umur panjang serta menambah vitalitas.

Ternak non-halal bagi Muslim yang dijual hanya babi (antara 9-44 gulden) dan daging segarnya seharga 0.13 gulden/pon.
Teman duduk Gibson salah satunya bernama Tchoon Long yang sudah beberapa kali menemuinya untuk berbincang di atas geladak kapal bernama Flirt. Tchoon Long adalah laki-laki paruh baya bertubuh tegap,rambut tebalnya tidak dikepang panjang seperti gaya Manchu namun digelung tinggi ke belakang.

Tchoon Long terlihat murung, ia sebenarnya sangat ingin bicara pada Gibson namun terlalu banyak orang di sekitarnya. Long kemudian mendekati Gibson untuk berbicara mengenai orang hebat dari Palembang, Ferdano Mantri (Perdana Menteri) Krama Jaya, mantan wazir Sultan Badroodin (Mahmud Badruddin II) yang gagah berani melawan Belanda hingga tuannya tertangkap. Semasa pertempuran melawan Belanda tahun 1819, Pangeran Krama Jaya adalah salah satu nama terpenting di samping Pangeran Ratu, Pangeran Prabu dan Pangeran Kramadiraja.

Baca:  DPRD Sumsel Minta Jalan Di OKUS Perlu Dilebarkan

Setelah Belanda mengalahkan kesultanan, Pangeran Krama Jaya diangkat selaku pelaksana tugas harian kesultanan dengan gelar Perdana Menteri, ia telah disumpah di hadapan komisaris Sevenhoven tanggal 5 September 1823.

Pangeran Krama Jaya digambarkan sebagai sosok yang dicintai rakyat, khususnya masyarakat Palembang dan Passumah (Pasemah). Badannya tinggi dan kuat, wajahnya bersih (terbuka / ramah) dan hatinya ‘putih’ (jujur). Ia memberi makan 2000 orang (laki-laki, perempuan, maupun anak-anak) setiap harinya. Rakyat banyak memuji serta memujanya sebagai “orang yang terkenal di laut barat hingga timur dan rakyat pulau Sumatera memuji kehebatan serta kebaikan hati si Perdana Menteri.”
Figur baik hati yang dicintai rakyat Palembang itu ditawan Belanda karena si penjajah tak senang dengan orang hebat ; kecuali “orang hebat” buatan Belanda sendiri. Putra-putri, sanak saudara maupun ratusan ribu rakyat mendoakan agar Krama Jaya kembali dari tahanan di Karawang (Jawa).

Doa saja tak cukup, maka ada sekitar ratusan ribu rupe disimpan di “tangan yang aman” di Singapura. Uang itu akan dibayarkan kepada Tchoon Long yang akan berlayar dengan kapal bersama sejumlah lelaki pemberani guna membawa sang Ferdano Mantri kembali ke Palembang.

Sebuah kisah yang mengharukan, seorang hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina, bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik ini, bernama Pangeran Krama Jaya.

Hal lain yang menarik adalah, adanya seorang saudagar Cina yang bertekad menemui Belanda untuk membawa pulang Pangeran Krama Jaya, bukan hanya ini meneguhkan kepopuleran Pangeran Krama Jaya di berbagai kalangan, tapi juga membuktikan kerukunan kehidupan berbagai etnik di Palembang, bahu membahu mereka membangun Palembang, bahu membahu pula mereka hendak mengembalikan tokoh yang mereka sayangi ke Palembang.#

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Fraksi PAN DPRD Sumsel Desak Pemprov Sumsel Jadikan RS Khusus Provinsi BLUD

Palembang, BP Rumah Sakit Khusus Mata Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada tahun anggaran 2018 lalu memperoleh pendapatan yang sangat fantastis, ...