Home / Headline / Masyarakat Cenderung Kurang Perhatikan Kajian Sejarah.

Masyarakat Cenderung Kurang Perhatikan Kajian Sejarah.

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana diskusi rebuan studi Melayu pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu yang kini rutin dilakukan setiap hari rabu di UIN Raden Fatah, Palembang, Rabu (30/5).

Palembang, BP

Amnesia sejarah kini terjadi di kalangan masyarakat, terutama masyarakat Palembang yang kini sudah tidak mengenal tokoh-tokoh besar di masa lalu dari Palembang yang terkenal hingga mancanegara, salah satu Parameswara.
Menurut kitab Sulalatus Salatin, kerajaan Malaka merupakan lanjutan dari kerajaan Melayu di Singapura. Kemudian, akibat adanya serangan dari Jawa dan Siam, maka pusat pemerintahan berpindah ke Malaka. Parameswara (1344 – 1414) atau Iskandar Shah (aksara Jawi: إسكندر شه) sendiri merupakan seorang yang berasal dari kerajaan Sriwijaya yang merupakan putra dari raja Sam Agi.
Parameswara merupakan seseorang yang menganut agama Hindu. Saat kerajaan Sriwijaya runtuh akibat diserang oleh Majapahit, ia melarikan diri ke Malaka. Saat itu, di daerah tersebut terdapat suku pribumi yaitu suku Laut yang jumlahnya sekitar kurang lebih 30 keluarga. Mereka umumnya merupakan nelayan. Parameswara beserta rombongannya yang sudah memiliki peradaban yang lebih tinggi, berhasil mempengaruhi penduduk asli, sehingga bersama-sama dengan suku Laut, parameswara berhasil mengubah Malaka menjadi kota yang ramai.
“Masyarakat kita cenderung kurang memperhatikan kajian Sejarah. Lewat pengetahuan tentang sejarah, kita dapat melihat jati diri kita sebagai masyarakat, sebagai umat Islam yang berdiam di dunia Melayu, dunia Nusantara,” kata peneliti naskah Melayu Palembang, Drs. H. Mal An Abdullah, M.HI, di sela-sela kegiatan penerjemahan naskah melayu Palembang yang dilakukan di ruang pertemuan direktur Pasca Sarjana (PPs) UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (30/5).
Mal An mencontohkan, Parameswara, tokoh asal Palembang yang membangun Kesultanan Melaka, tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Sebaliknya, masyarakat mancanegara yang lebih mengenal Parameswara sebagai raja yang hebat di masanya.

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana diskusi rebuan studi Melayu pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu yang kini rutin dilakukan setiap hari rabu di UIN Raden Fatah, Palembang, Rabu (30/5).

“Kita hanya tahu nama Jalan Parameswara, sejarahnya tidak tahu. Naskah sejarah kalau tidak dikaji, kita tidak tahu apa-apa. Kita harus tahu sejarah peradaban Melayu di wilayah kita sendiri,” katanya.
Dijelaskannya, kajian naskah sejarah dilakukan dengan cara menerjemahkan naskah dalam tulisan Arab-Melayu, ke dalam bahasa Indonesia agar mudah dimengerti.
Menurut Mal An, naskah diperoleh dari Kesultanan Palembang yang masih terawat hingga sekarang, meskipun usianya ratusan tahun.
“Kami mengkaji naskah yang masih ada. Naskah kalau sudah hilang, kita tidak bisa belajar sejarah. Kita akan kehilangan jati diri,” katanya.
Ketua Lembaga Kajian Naskah Melayu Palembang, Muhammad Adil mengatakan, diskusi rebuan studi Melayu pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu rutin dilakukan setiap hari rabu di gedung Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, kini lembaga kajian tersebut telah berdiri sejak dua tahun lalu , sejak akhir 2016 dan tetap eksis hingga kini.
Menurutnya kajian ini bertujuan untuk memastikan kebenaran jejak peradaban Islam di Kota Palembang khususnya dan nusantara hingga internasional secara umumnya.
“Naskah yang kita dapatkan ini dibaca, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dibahas isinya dan dianalisis kebenarannya,” katanya.
Adil menambahkan, naskah yang dikaji secara umum merupakan naskah dalam bentuk duplikat. Hal ini bertujuan untuk memelihara naskah yang asli agar tidak rusak karena terlalu sering dibuka atau dipegang.
“Yang aslinya kita ada, namun yang kita bahas dalam bentuk fotocopy alias duplikat,” katanya.
Selain itu, sejak berdiri enam bulan lalu, sudah ada tiga naskah Melayu yang sudah dibaca, diterjemahkan dan dianalisis oleh berbagai anggota.
Semuanya berasal dari berbagai unsur seperti sejarahwan, akademisi, budayawan, sosiolog, antropolog, filologi dan arkeolog.
“Saat ini kita masih fokus pada naskah melayu Palembang tahun 1825-an. Nanti kita akan lanjutkan pada naskah yang tersebar di semua nusantara hingga keluar negeri,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumsel, Kemas AR Panji menyambut baik dan mengapresiasi UIN Raden Fatah Palembang yang telah membentuk dan memberikan fasilitas pada Lembaga Kajian Naskah Melayu Palembang ini. Dia berharap, sejumlah sejarawan di Sumsel bisa ikut dalam kajian naskah melayu Palembang ini.
“Naskah ini sangat penting untuk dipelajari untuk mengetahui sejarah peradaban Islam yang sebenarnya memalui naskah melayu Palembang,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Fluktuasi Harga Premium Bukan Pelanggaran Konstitusi

Jakarta, BP–Anggota MPR Satya W Yudha mengatakan, mengumumkan kenaikan harga premium yang kemudian dianulir Presiden dengan membatalkan kenaikan BBM jenis ...