Home / Headline / Kampung Kedipan vs Kampung Candi (Cerita Rusuh di Kesultanan Palembang)

Kampung Kedipan vs Kampung Candi (Cerita Rusuh di Kesultanan Palembang)

Oleh: Muhammad Adil, Saudi Burlian, Kms Ari Panji, Ahmad Syukri, Habiburrahman
Lembaga Kajian Naskah Melayu Palembang

Saling rebut kekuasaan antar saudara hampir terjadi pada setiap pemerintahan yang menerapkan sistem monarki-absolut. Tak terkecuali, di Kesultanan Palembang Darussalam.
Pada saat pemerintahan kesultanan sedang di pegang oleh Sultan Alimuddin, yang dikenal dengan Sultan Anom, pernah terjadi peristiwa rusuh di Palembang. Digambarkan dalam naskah Palembang dengan kode Cod: Or 2276c yang sekarang sedang kita pelajari di Lembaga Kajian Naskah Melayu di Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, bahwa peristiwa rusuh yang terjadi kala itu cukup serius antara sang kakak, Sultan Anom dengan adiknya sendiri, Pangeran Jayawikrama (Sultan Mahmud Badaruddin I).
Rusuh itu disebabkan oleh keputusan Sultan Anom menunjuk anaknya Pangeran Dipati sebagai penggantinya. Penunjukan itu dianggap tidak tepat oleh kalangan kraton. Karena, baik Sultan Anom maupun Pangeran Dipati kelakuannya kurang baik. Tidak sopan dalam bicara dan selalu bertindak kasar kepada rakyat. Kondisi ini, menyebabkan para punggawa menteri mencari jalan keluar yang terbaik. Mereka memutuskan untuk berbicara dengan adiknya Sultan Anom, yaitu Pangeran Jayawikrama. Para punggawa menteri berharap agar Pangeran Jayawikrama dapat menggantikan posisi Sultan Anom. Alasannya, rakyat sudah tidak senang dengan perilaku Sultan Anom, dan juga anaknya Pangeran Dipati. Rakyat selama ini merasa tertekan dan merasa tidak aman, terutama rakyat kecil yang hidup dalam kesusahan.
Kabar tentang kemufakatan inipun, akhirnya sampai juga ke telinga Sultan Anom dan Pangeran Dipati. Keduanya kemudian mengambil langkah cepat dan memutuskan untuk membunuh Jayawikrama. Dicatat dalam naskah ini, bahwa telah terjadi beberapa kali usaha pembunuhan itu dilakukan, tetapi tidak berhasil. Pernah suatu ketika, Pangeran Jayawikrama sedang berjalan sendirian, lalu dia diamuk/dikroyok oleh beberapa orang tak dikenal. Dan puncaknya, ketika Pangeran Jayawikrama pada pagi-pagi buta, sedang menuruni anak tangga, tiba-tiba dia dibedil/ditembak oleh orang suruhan Sultan Anom. Tetapi, Tuhan menyelamatkan Jayawikrama, tembakan itu tidak mengenai tubuhnya, melainkan mengenai anak tangga menyebkan anak tangga itu patah ditembus peluru, Pangeran Jayawikrama sendiri terjatuh ke air. Selamatlah Jayawikrama dari usaha pembunuhan, yang didalangi oleh Sultan Anom dan Pangeran Dipati.
Untuk menghindari konflik yang berkepanjangan di dalam kraton, Pangeran Jayawikrama kemudian memutuskan untuk pindah ke tempat lain, yang bernama, Kampung Kedipan. Kepindahannya diikuti oleh beberapa punggawa menteri dan rakyatnya.
Ternyata, kepindahan Pangeran Jayawikrama dan rakyatnya ini belum cukup membuat Sultan Anom tenang. Justru, membuat amarahnya semakin menjadi-jadi. Dikisahkan, bahwa kalau ternyata ada orang dari Kampung Kedipan berjalan di depan kraton tempat Sultan Anom Tinggal, maka mereka akan dibunuh.
Karena perlakuan Sultan Anom seperti itu, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Pangeran Jayawikrama dan rakyatnya memutuskan untuk berjaga-jaga di Kampung Kedipan dan tidak perlu lagi untuk datang menghadap kepada Sultan Anom.
Dikisahkan juga, bahwa kerusuhan di Kesultanan Palembang kala itu sangat serius dan belangsung dalam waktu yang cukup lama. Sering terjadi perompakan di perairan sungai Musi yang merupakan jalur utama lalu-lintas bahan-bahan pokok yang dibutuhkan oleh masyarakat di Palembang. Kondisi ini berdampak kepada situasi perekonomian kesultanan. Bahan pokok menjadi sangat sulit didapatkan, menyebabkan harga-harga sangat mahal. Sumber bahan pokok yang datang dari daerah sekitar, terutama dari daerah pedalaman atau daerah ulu sulit masuk ke Palembang. Para pedagang takut membawa dagangannya ke Palembang. Kesulitan penjualan bahan pokok digambarkan dalam naskah, bahwa “malam-malam orang berbunuh-bunuhan sama senegeri, tiada boleh lena. Dan makananpun terlalu mahal, sebab dagang dari laut tiada datang dan orang dari ulupun takut milir. Dan terlalu susah pada masa itu di dalam negeri Palembang dan di ulu negeri dan di ilir negeripun terlalu banyaklah orang samun-menyamun”.
Kondisi parah seperti ini membuat bingung rakyat. Mereka sangat berharap kepada Pangeran Jayawikrama untuk mengambil langkah-langkah yang tepat supaya rakyat dapat hidup aman dan sentausa. Menghadapi permintaan rakyat seperti ini, dan untuk menghindari konflik saudara, dan meminimalisir korban di keduabelah pihak. Maka, Pangeran Jayawikrama mengutus dua orang untuk pergi ke Betawi. Dikisahkan, bahwa sangat sulit bagi dua orang utusan ini keluar dari Palembang untuk sampai ke betawi. Karena, harus ditempuh dengan cara sembunyi-sembunyi. Sebab, jika sampai ketahuan orang-orang Sultan Anom, maka mereka akan dibunuh. Tapi, atas lindungan dan izin Allah SWT, maka utusan inipun dapat sampai ke Betawi. Di Betawi, kedua utusan ini bertemu dengan Komisaris Belanda. Dari pertemuan itu, disetujui bahwa kalau Kompeni Belanda berkenan membantu untuk mengalahkan Sultan Anom di Palembang, maka Pangeran Jayawikrama akan menjadi Sultan Palembang. Kompeni Belandapun setuju dan dibuatlah kontrak perjanjian keduabelah pihak.
Setelah itu, dua orang utusan kembali ke Palembang. Setibanya di Palembang, kedua utusan secara diam-diam menghadap Pangeran Jayawikrama. Mereka kemudian menyampaikan kesediaan Kompeni Belanda untuk membantu mereka, tapi dengan kontrak perjanjian.
Pangeran Jayawikrama bersama punggawa mentri dan rakyatnya kemudian mempersiapkan segala peralatan perang di Kampung Kedipan. Selang beberapa waktu, kemudian, sampailah pasukan Kompeni Belanda lengkap dengan kapal perangnya. Begitu sampai, komisaris Belanda kemudian langsung menemui Sultan Anom, menyampaikan maksud kedatangan mereka ke Palembang untuk mendamaikan antara Sultan Anom dengan Pangeran Jayawikrama. Kemudian, setelah pembiacaraan itu dianggap selesai, komisarispun pamit untuk pergi ke kapal berangkat lagi pulang ke Betawi. Tapi, sebelumnya mereka akan tinggal beberapa hari di Palembang, tinggal di atas kapal dan mengadakan pesta. Dan Sultan Anompun setuju dengan permintaan komisaris. Sementara itu, Pangeran Jayawikrama bersiap-siap di Kampung Kedipan dan memasang Meriam dan peralatan perang lainnya. Dan, pada saat yang hampir bersamaan, sesuai yang sudah disepakati keduanya, meriam dari kapal komisaris dan dari Kampung Kedipan ditembakkan tepat mengarah ke kraton tempat Sultan Anom. Menyebabkan rakyat Sultan Anom berlari, tunggang-langgang meninggalkan kraton. Kemudian, mereka membiarkan Sultan Anom dan para istrinya untuk tinggal di kraton. Karena tidak tahan, mereka kemudian pergi juga meninggalkan kraton. Pada saat itu, pasukan dari Kampung Kedipan segera memasuki kraton untuk menguasainya. Setelah mereka dapat menguasai Kuta Kraton, komisari Belanda dan pasukannya berangkat pulang menuju Betawi. Sesuai perjanjian, kalau Sultan Anom sudah pergi meninggalkan kraton, maka Belanda tidak akan membantu lagi.
Sultan Anom dan para pengikutnya yang masih setia, pergi ke Kampung Candi. Mereka bertahan di sana membuat benteng pertahanan. Yang dimaksud Kampung Candi itu sekarang mungkin berada di kawasan Candi Angsoko di daerah 17-20 Ilir lingkungan Talang Jawa belakang Kuto Cerancangan. Sedangkan, Kampung Kedipan itu sekarang posisi letaknya berada di Sungai Rendang 13-14 Ilir, di samping pasar 16 Ilir.#

Baca:  Dua Aksi May Day Di Palembang Di Kawal Aparat

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Cawagub Selingkuh Tak Layak Dipilih

Jakarta, BP–Masyarakat Sumatera Selatan diharapkan lebih cerdas dalam memilih pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Di antaranya, dengan tidak memilih ...