Home / Headline / Vlekke Mengisahkan Kejayaan Sriwijaya

Vlekke Mengisahkan Kejayaan Sriwijaya

Dudy Oskandar

Oleh: Dudy Oskandar (Jurnalis)

Nusantara : A History of Indonesia diterbitkan pertama kali pada tahun 1943. Buku ini ditulis oleh Bernard H. M. Vlekke. Vlekke mulai menulis sekitar 1941, hanya beberapa bulan sebelum serangan atas Pearl harbor. Pada waktu itu ia tinggal di Cambridge, Massachusetts, dan perhatian publik Amerika semakin terarah pada Asia Tenggara, suatu wilayah yang tiba-tiba disadari memiliki kepentingan strategis dan ekonomis yang besar bagi pertahanan Amerika Serikat.
Sebelum penulisan selesai, seluruh Asia Tenggara telah diduduki oleh Jepang. Akibat pendudukan atas Belanda dan Hindia Belanda, dia harus bergantung pada koleksi buku dan majalah yang sangat besar jumlahnya di Harvard sebagai bahan sumbernya. Vlekke mengumpulkan sumber yang ia butuhkan di Harvard University.
Vlekke memanfaatkan buku dan artikel yang ditulis antara 1945 dan 1958. Teks ini direvisi dan diperbaiki menurut hasil riset historis terbaru. Dalam penulisannya Vlekke mendapat bantuan dari Profesor C.C. Berg di Universitas Leiden yang mengetahui bahasa dan budaya Indonesia.
Vlekke adalah guru besar di bidang international relation dari universitas Leiden. Indonesia bukanlah wilayah keahliannya, bukunya bukanlah hasil penelitian primer, melainkan berdasarkan sumber sekunder, artinya ia bergantung pada studi-studi yang telah ada. Namun, ketika ia menulis tentang hubungan internasional, ia memakai sumber primer.
Vlekke banyak menyoroti tentang hubungan antar kerajaan, baik di nusantara atau di negara lain; hubungan antara Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Hampir diseluruh bab menjelaskan bagaimana hubungan luar negeri dari beberapa negara atau kerajaan. Hal ini sangat terasa mulai bab 4 sampai13. Salah satu deskripsi Vlekke menulis sejarah Indonesia secara mendalam namun populer.
       Banyak hal-hal yang disampaikan oleh Vlekke, aktual sampai abad ke-21. Berbeda dengan buku sejarah selebihnya, Vlekke menampilkan proses sejarah Indonesia tanpa terlalu memusatkan proses pada perluasan kolonialisasi.
        Dalam buku ini Vlekke misalnya menjelaskan soal Kerajaan Sriwijaya dan melukiskan dengan jelas bahwa ibukota Sriwijaya berada dipinggir di Sungai Musi.

 

 

SUMBER -sumber kita untuk sejarah Jawa pada abad ke-10 jarang. Kesulitan kita lebih besar lagi bila berpaling ke Sumatra dan kerajaannya yang terkenal, Sriwijaya. Di sini, kita harus menoleh ke Cina dan, sesudahnya, India dan Arabia, untuk memperoleh informasi.
Sudah kita katakan bahwa setelah pemisahan yang kita anggap terjadi atas kerajaan “Pembasmi musuh-musuhnya” (sebelum 900), dinasti Shailendra terus memerintah di Sriwijaya.
Salah satu raja Sumatra pertama dari keluarga kerajaan mendirikan suatu institusi di “universitas” Buddhis di Nalanda di Benggala (sekitar 850-860). Jelas, Sriwijaya tetap setia pada Buddhisme Mahayana, yang mungkin menjadi salah satu sebab ia punya hubungan lebih sering dengan dunia luar.
Bukti yang lebih nyata akan pentingnya “hubungan internasional” dalam sejarah Sumatra adalah lokasi geografis pulau itu yang membuat penguasa-penguasanya lebih mudah menarik pajak dari arus kecil perdagangan yang mengalir antara India dan Cina, Perdagangan ini menuntut banyak pelabuhan-antara dan bukan tidak biasa bagi penguasa yang kuat di masa awal “perdagangan internasional”, entah di Eropa atau Asia, untuk memonopoli sendiri profesi makelar yang menguntungkan itu.
Shailendra di Sumatra adalah raja-raja pelaut dan mereka berhasil menaklukkan pantai-pantai Semenanjung Malaya ke bawah kekuasaan mereka, tapi jarangnya informasi yang dapat diandalkan tentang kegiatan ekonomi dan militer mereka membuat fitrah dan cakupan “kerajaan kelautan” dari masa awal Indonesia ini kabur.
Berbagai usaha sudah dilakukan untuk memeras sebanyak mungkin hal dari sedikit informasi yang kita punya, tapi tidak banyak hasil konkret. Kita bisa membayangkan suatu kebijakan luar negeri ekonomi yang secara ajek diterapkan oleh raja-raja yang jarang kita kenal namanya dan yang kegiatan politiknya tidak kita ketahui; kita bisa membayangkan kontak politik bersinambung antara raja-raja ini dan kaisar-kaisar Cina serta beberapa penguasa yang kuat di India, tapi apa yang kita tahu-dan kita harus puas dengan itu-adalah bahwa ada sedikit acuan terhadap Sriwijaya dalam tawarikh imperial Cina dan bahwa beberapa rajanya telah mencatatkan nama mereka dengan bahasa berbunga-bunga di atas batu.
Bahkan prasasti-prasasti ini jarang jumlahnya, jauh lebih sedikit daripada yang ditemukan di Jawa.
Referensi dari Cina sebagian besar berasal dari 960 atau lebih kemudian. Ini tidak lantas berarti bahwa kerajaan Sumatra tidak berkunjung ke Cina sebelum tahun itu, karena ketiadaan data mungkin disebabkan kekacauan besar yang terjadi di Cina pada paruhan pertama ‘ abad itu akibat invasi Mongol.
Kita tahu bahwa kaisar pertama dinasti Sung (960-1279) memulihkan ketertiban di seluruh negerinya, dan bahwa dia membuka kembali pelabuhan di Kanton untuk perdagangan luar negeri.
Segera sesudahnya tawarikh mencatat “duta-duta” Indonesia, sembilan di antaranya datang dari Sriwijaya, sementara dua lagi dari Jawa dan Bali.
Tampaknya kecil kemungkinan para duta ini menempuh perjalanan panjang ke utara ke Istana Kekaisaran; mungkin mereka diterima gubernur Kanton, yang lalu melaporkannya kepada Kaisar Yang Mulia. Mereka mungkin membawa kabar bersifat politis tapi, sekali lagi, mengenai ini kita hanya tahu sedikit.
Kita cukup yakin bahwa mereka membawa barang dagangan untuk dipertukarkan dengan produk Cina, dan di antara barang dagangan Sumatra cula badak, disukai di Cina karena dianggap punya kualitas pengobatan, mungkin adalah yang paling berharga. Selain catatan di Cina, ada beberapa referensi mengenai Sumatra dalam cerita dari saudagar dan ahli geografi Arab serta Persia. Referensi-referensi ini, paling tidak, jelas dibuat karena minat terhadap perdagangan dan perniagaan.
Produk-produk Sriwijaya didaftarkan: timah, emas, gading, rempah-rempah, kayu berharga, dan kamper. Bahkan beo dari Sumatra punya reputasi sebagai burung sangat cerdas. Seorang penulis Arabia dari abad ke-lo mencatat dengan serius bahwa burung-burung itu sanggup bicara bahasa Arab, Persia, Yunani, dan Hindustani.
Tahun 992 muncul unsur baru dalam catatan Cina. Duta-duta datang baik dari Jawa maupun Sriwijaya. Duta dari Sumatra yang telah meninggalkan Kanton pada musim semi tahun itu tiba-tiba kembali lagi: ketika tiba di pantai Champa (Vietnam bagian selatan) dia diberitahu bahwa negerinya sedang diserbu oleh Jawa, kalau kita bisa mengandaikan bahwa karakter Cina yang dibaca “Cho-po”, memang berarti Jawa dan bukan suatu negeri lain, misalnya, Malaya, atau mungkin Jawa serta negeri lain. Basis filologis untuk rekonstruksi spekulatif kita akan “politik internasional” di Asia Tenggara memang agak lemah! Namun biar bagaimanapun, duta yang kembali lagi ke Kanton meminta agar suatu “Perintah Kekaisaran” dikeluarkan untuk menyatakan bahwa Sriwijaya ada di bawah perlindungan Kekaisaran itu.
Duta Jawa memberikan kisah berbeda: dia protes bahwa di antara raja mereka dan penguasa Sriwijaya memang selalu ada perang yang terus menerus.
Pernyataannya terdengar seperti alasan saja, tapi agak meragukan bahwa alasan ini dikatakan karena takut kepada Cina, karena sampai saat itu tidak pernah ada intervensi bersenjata oleh Cina dalam perkara Kepulauan di selatan dan baru terjadi pada akhir abad ke-13, itu pun seorang. kaisar Mongol yang memerintahkannya.
Catatan Cina ini tampaknya menimbulkan banyak kebingungan dalam rekonstruksi peristiwa yang terjadi di Indonesia pada sekitar 1000. Menurut
Krom dan pakar-pakar sejarah Jawa yang lebih tua, seorang raja yang berani dari Jawa Timur, bernama Dharmawangsa, memulai suatu program penaklukan yang ambisius.
Dia menaklukkan Bali dan, sebagai seorang “imperialis” sejati bahkan sebelum istilah itu diciptakan (avant la lettre), merencanakan penghancuran Sriwijaya serta mengangkat diri menjadi penguasa seluruh Kepulauan Indonesia.
Dia mengalahkan kekuatan kelautan Sumatra dan menyerbu negeri mereka. Selama beberapa tahun-menurut rekonstruksi historis ini serbuan dilakukan di wilayah Sumatra sampai serangan Jawa itu dipatahkan.
Pembalasan Sriwijaya tidak tanggungatanggung. Dikatakan bahwa Sumatra mengejar musuh-musuh mereka sampai ke Jawa bagian Timur di mana mereka menghancurkan keraton, tempat keluarga istana, dan membunuh rajanya. “Seluruh pulau Jawa (menurut suatu teks kuno) ketika itu seperti ‘lautan’ (bencana) atau, menurut terjemahan lain, ‘seperti laut purba’.
Berbagai keberatan telah dikemukakan menyangkut rekonstruksi akhir riwayat kerajaan Jawa Timur pertama ini.
Rekonstruksi ini sepenuhnya didasarkan pada catatan Cina, yang dikutip di atas, tentang suatu perang Jawa-Sumatra. Jelas ada perang, tapi di antara siapa dan apa hasilnya? Satu-satunya sumber Indonesia adalah suatu prasasti dari tahun 1041 yang akan dibahas nanti, dan sudah kita lihat bahwa terjemahannya sangat sulit.
Hampir tidak ada keraguan bahwa salah seorang pelaku dalam konflik itu adalah seorang raja yang memerintah suatu wilayah tidak jauh dari kampung halaman Sanjaya dan yang dengan bangga menyatakan hubungannya dengan raja-raja terkenal itu, Nama wilayah itu adalah Wurawari, yang juga nama bunga “nasional” Jawa.
Penguasaan atas wilayah Wurawari tampaknya dianggap sangat penting oleh penguasa-penguasa Jawa di kemudian hari, agaknya karena ada hubungan tradisional yang sangat khusus.
Kalau pada semua ini kita tambahkan adanya raja-raja yang menyandang gelar Girindrawardhana-yang, katanya, berarti “penerus Shailendra”yang disebut-sebut bahkan sampai abad ke-16, dapat kita simpulkan bahwa Mataram yang asli terus ada dalam bentuk tertentu.
Konotasi itu memperkuat teori bahwa raja Sindok memang adalah pendiri satu kerajaan baru dan beberapa dinasti yang lebih bersinar daripada kerajaan Jawa bagian tengah yang lebih tua. Perang Jawa-Sumatra dan bencana besar yang terjadi sekitar tahun 1000 mungkin ada hubungannya dengan persaingan antara kedua dinasti tersebut.
Tentu saja, sedikit saja dari hal-hal ini yang dapat dibuktikan dengan pasti dari berbagai sumber. Dari sumber Cina kita tahu bahwa ada perang, dan dari prasasti panjang yang ditinggalkan raja Airlangga pada 1041 kita tahu ada guncangan politik pada umumnya di seluruh Jawa bagian tengah dan timur.
Ada pun mengenai raja Dharmavamga, kita bahkan tidak yakin orangnya memang ada. Teks-teks Sanskerta dan Jawa kuno sulit diterjemahkan dan kata yang mula-mula dianggap menyebutkan seorang penguasa yang sebelumnya tidak dikenal mungkin saja ternyata hanyalah bagian dari gelar raja yang memerintahkan prasasti itu dibuat.
Yang pasti kita ketahui ialah bahwa Jawa mengalami satu periode kekacauan di seputar pergantian abad, dan bahwa, pada saat yang sama, kerajaan Sriwijaya di Sumatra menjadi makmur.
Sumber~sumber Tibet dan Nepal menunjang kepopuleran candi-candi suci Buddhis di Sumatra. Satu sumber Tibet menyebutkan bahwa Atisha, reformator besar Buddhisme di Tibet, pergi belajar selama 12 tahun (1011-1023) di ibu kota Sriwijaya di tepi sungai Musi.
Duta-Duta Sriwijaya secara teratur mengunjungi Kanton tempat mereka meminta lonceng-lonceng untuk candi yang dibangun raja mereka di negeri mereka dan, kata mereka, di situ rakyat mereka berdoa agar kaisar Cina diberi umur panjang.
Tentu saja permintaan mereka dikabulkan. Pada 1005, seorang raja Sriwijaya menyuruh bangun sebuah candi di Negapatnam di Wilayah penguasa Chola yang kuat di India.
Namun, sekalipun kejatuhan kerajaan Jawa Timur pertama benar-benar disebabkan serangan balasan oleh Sumatra, raja-raja Sriwijaya tidak lama menikmati kemenangan mereka.
Seorang raja India, dengan tekad menjarah dan menaklukkan, tiba-tiba muncul dengan armada kuat di sungai Musi, merebut kota itu, menangkap rajanya dan membawa pergi harta bendanya.
Dengan gerak cepat ke utara, para penyerbu menaklukkan Malayu, dan dari sana berlayar ke Semenanjung, di mana rasa takut luar biasa membuat negara-negara bawahan Sriwijaya langsung bertekuk lutut tanpa memberikan perlawanan berarti.
Pendudukan singkat atas Aceh menyempurnakan kerja raja penjarah yang berani ini. Raja yang pada 1025 melancarkan pukulan dahsyat ini tiada lain adalah Raj indracola, penguasa kerajaan di pantai Coramandel, yang hubungannya dengan Sriwijaya sangat bersahabat sampai sesaat sebelum serbuan itu.
Lagi-lagi, makna peristiwa-peristiwa yang saling berkaitan itu tetap meragukan. Kita mudah tergoda untuk membangun di atas cerita-cerita ini suatu kisah besar pergumulan untuk memperoleh keunggulan di laut dan untuk mengontrol jalur-jalur laut antara Asia Selatan dan Timur, tapi berdasarkan sedikit referensi yang kita punyai tidak ada yang bisa membenarkan penafsiran dengan mengikuti pola politik kekuasaan zaman modern ini.
Sumber-sumber Cina dan lain-lain membuktikan bahwa kerajaan Sriwijaya sama sekali tidak hancur. Ia terus menjadi pusat Buddhis yang penting. Duta-dutanya mengunjungi Cina pada 1028.
Duta-duta yang di hari kemudian berkunjung kepada Kaisar dicatat pada tahun-tahun antara 1078 dan 1097. Hubungan baik Sriwijaya dengan Coromandel pasti telah pulih kembali. Tapi bahwa negara Sumatra itu pelan-pelan melemah dapat disimpulkan dari makin jarangnya prasasti dan tawarikh Cina.#

Baca:  Komunitas Se-Sumsel Lakukan Gerakan Aksi Sayang Ampera

Sumber:  Nusantara : A History Of Indonesia @ Bernard H. M. Vlekke. Vlekke, 1943

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Fluktuasi Harga Premium Bukan Pelanggaran Konstitusi

Jakarta, BP–Anggota MPR Satya W Yudha mengatakan, mengumumkan kenaikan harga premium yang kemudian dianulir Presiden dengan membatalkan kenaikan BBM jenis ...