Home / Headline / Masyarakat Sumsel Dewasa Dalam Pilkada

Masyarakat Sumsel Dewasa Dalam Pilkada

BP/DUDY OSKANDAR
Para narasumber dan peserta seminar berpoto bersama Dekan Fakultas Adab dan Humaniora,UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Nor Huda, M.Ag., M.A.usai seminar dan bedah buku di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Selasa (15/5)

Palembang, BP

Masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) dinilai dewasa dalam mengikuti perhelatan Pilkada serentak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tahun 2018.
“Calon Kepala daerah harus juga memperhatikan persoalan-persoalan berkaitan sosial budaya, keagamaan seperti ini , karena apa artinya pembangunan kalau masyarakat kita tidak merasakan pembangunan itu sendiri, kalau ada persoalan-persoalan atau potensi-potensi konflik,” kata Dosen di Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, mantan Wakil Rektor III di UIN Raden Fatah Palembang dan mantan Direktur Pascasarjana di Stisipol Candradimuka Prof Dr Abdullah Idi, M.Ed , yang merupakan pengarang berjudul Konflik Etno-Religius di Asia Tenggara, Kasus Indonesia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Malaysia di sela -disela kegiatan seminar dan bedah buku Konflik Etno-Religius di Asia Tenggara, Kasus Indonesia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Malaysia di Aula Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Selasa (15/5).
Mengenai kabupaten Empat Lawang yang rawan konflik menurutnya kepada daerah yang terpilih di Empat Lawang harus mengatasi semua itu, apa penyebabnya, bagaimana solusi dan pendekatannya.
“Apalagi itu mungkin dari asal satu keturunan mungkin, itu agak lebih mudah, tokoh-tokoh masyarakat dan agama harus dilibatkan untuk penyelesaiannya, apalagi masih ada rumpun keluarga harus dilibatkan dalam pembangunan dalam kapasitas masing-masing, terutama peluang kehidupan atau ekonomi,” katanya.
Mengenai buku karangannya tersebut dia menjelaskan kalau dari hasil penelitian dan buku yang telah dibuatnya, untuk konflik di Asia Tenggara bukanlah disebabkan faktor agama namun akibat sikap diskriminasi yang telah terpola dan turun-temurun dari bekas jajahan di beberapa negara Asia Tenggara.
“Saat merdeka, berbagai masalah seperti sosial, agama, ekonomi, politik dan lain sebagainya belum terselesaikan dengan baik oleh pemerintah hingga saat ini sehingga timbulah diskriminatif di masyarakat,” katanya.
Menurutnya konflik etno-religius yang terjadi di beberapa negara Asia Tenggara yang kerap kali terjadi antara dua agama berbeda tidak ditangani serius oleh pemerintah dan organisasi terbesar di Asia Tenggara, ASEAN.
“Keberadaan pemerintah dan lembaga ASEAN tidak terlalu berperan dalam meredam konflik di Asian Tenggara. Sehingga konflik yang terjadi diberbagai negara termasuk salah satunya di Myanmar dan Indonesia akhir-akhir ini,” terangnya.
Sedangkan pengamat sosial, Saudi Berlian melihat konflik yang terjadi di tingkat masyarakat sebenarnya bisa di selesaikan di tingkat bawah jika kearifan lokal masyarakat di hargai.
“ Di Sumsel ada undang-undang Simbur Cahaya, sudah mengatur perilaku masyarakat Sumsel , sehingga dengan undang-undang tersebut di Sumsel tidak terjadi konflik tingkat bawah karena pasirah sebagai pimpinan masyarakat bisa menyelesaikan itu semua, berbeda dengan zaman sekarang,” katanya.
Sedangkan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora,UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Nor Huda, M.Ag., M.A mengatakan, bedah buku tersebut sangat relevan dengan situasi Indonesia saat ini yang sedang mengalami berbagai konflik.
Dengan adanya bedah buku ini diharapkan bisa memberikan wawasan kepada mahasiswa agar berpikir lebih kritis dalam menggapi berbagai persoalan.
“Adanya fenomena konflik selalu dibalut dengan agama, mahasiswa harus jeli dalam memahami ini, agar bisa memilih, baik dalam pergaulan dan ideologi. Dan harapan kita bedah buku ini memberi wawasan baru, mahasiswa memiliki daya kritis untuk menyeleksi fenomena yang bekembang,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Fraksi PAN DPRD Sumsel Desak Pemprov Sumsel Jadikan RS Khusus Provinsi BLUD

Palembang, BP Rumah Sakit Khusus Mata Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada tahun anggaran 2018 lalu memperoleh pendapatan yang sangat fantastis, ...