Home / Headline / Moto Kota Palembang Bakal Diganti

Moto Kota Palembang Bakal Diganti

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana Workshop , Pembahasan Draft Awal Penerjemahan Al Quran Dalam Bahasa Daerah (Palembang) di Hotel Santika, Palembang, Rabu (8/5).

Palembang,BP

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Palembang Sudirman Teguh menginginkan kota Palembang memiliki moto yang sesuai dengan sejarah dan budaya kota Palembang.
Karena sejak dulu moto kota Palembang adalah Palembang Djaja , moto ini bukan mencerminkan budaya dan sejarah kota Palembang dan akan diganti.
“Moto itu bukan bahaso kito, ini berbeda dengan di Banyuasin yang mengusung moto Sedulung Sedulang, di Muba Serasan Sekate. Kemarin ada usul Rembak Rembuk, dalam forum ini kita angkat bahaso Palembang namun memang menyangkut budaya kito, orang Palembang gala ngomong di pucuk hidangan , minta forum ini ada masukkan, ini penting kedepan karena tempat lain ada galo, plembang belum ada ada Palembang Djaja, itu bukan bahaso Palembang,” katanya saat menjadi pemateri dalam Workshop , Pembahasan Draft Awal Penerjemahan Al Quran Dalam Bahasa Daerah (Palembang) di Hotel Santika, Palembang, Rabu (8/5).
Selain itu, mengenai nama –nama jalan di kota Palembang sekarang menggunakan bahasa latin seharusnya di masukan bahasa lain apakah arab melayu sehingga pihaknya meminta masukan masyarakat.
“Pemerintah kota akan merespon cepat akan kita tetapkan dengan perwali, ini untuk menuju Palembang Darussalam, identitas dulu, jika identitas Darussalam mudah yang lain, namun bahasa yang perlu kita lestarikan dan kita sangat sepakat,” katanya.
Ditambahkannya, kini pakaian adat Palembang dan panggilan cek sudah di wajibkan oleh pihak Pemkot Palembang untuk di pakai ASN setiap Jumat.
Mengenai bebaso atau bahaso Palembang pihaknya melalui lembaga adat dan Dewan Kesenian Palembang (DKP) sudah melakukan upaya untuk merangkum bebaso Palembang mana yang pas
“ Nanti akan dikeluarkan Perwali yang bisa mengakomodir, itu belum sempat, dalam forum ini ada solusi bisa menjadikan acuan Pemkot Palembang setelah itu dibuat TOT dan dimasukkan muatan lokal, ini untuk pelestarian dan mengarah ke bijakan-kebijakan,” katanya.
Sedangkan peneliti yang juga dosen UIN Raden Fatah Palembang, Dr M Adil MA mengatakan, Bahasa Melayu Palembang, disingkat bahasa Palembang, oleh orang Palembang disebut Baso Palembang.
Bahasa Palembang mempunyai dua tingkatan. Pertama, Baso Palembang Alus (bahasa Palembang halus), dan kedua Baso Palembang Sari-sari (bahasa Palembang sehari-hari) (RM. Arif, Sutari Harifin, M. Yusuf Usman, Dahlia Mahabin Ayub, Latifah Ratnawati, 1981:3).
Baso Palembang Alus dipakai dalam percakapan dengan orang-orang tua, pemuka-pemuka masyarakat atau orang-orang yang dihormati. Terutama di dalam upacara-upacara adat (perkawinan, kelahiran, penghitanan, dan lain-lain). Sedangkan, Baso Palembang Sari-sari dipakai dalam percakapan dengan orang-orang yang seumur atau sederajat, atau orang yang lebih muda usia dari si pembicara, baik dalam upacara-upacara adat maupun dalam pergaulan sehari-hari.
Bahasa Palembang Alus dipakai sejak zaman raja-raja (kesultanan) Palembang.
Menurut sejarahnya, raja-raja Palembang itu berasal dari kerajaan Majapahit, kerajaan Demak, dan kerjaan Pajang. Oleh karena itu, sebagian besar perbendaharaan kata Baso Palembang Alus banyak persamaannya dengan kata yang terdapat dalam Bahasa Jawa. Baso Palembang Sari-sari, bahasa yang umum dipakai di dalam kota Palembang. Studi Voorhoeve (1995), seperti dipelajari oleh P.D. Dunggio, Suwarni N, Asnah S, Nur Indones (1983:3) menyebutkan bahwa bahasa Palembang berasal dari bahasa Melayu dan merupakan salah satu dialek bahasa Melayu.
Pada tahun anggaran 1976/1977 Fakultas Keguruan Unsri pernah mendapatkan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sumatera Selatan dengan judul Struktur Bahasa Melayu Palembang.
“Penelitian ini diarahkan kepada Baso Palembang Sari-sari, tidak kepada Baso Palembang Alus. Alasannya, karena kebutuhan Baso Palembang Sari-sari jauh lebih banyak peminatnya daripada Baso Palembang Alus. Selain itu, Baso Palembang Alus sangat terbatas penggunaanya, yaitu hanya di kalangan elit masyarakat saja. Karena terbatas dan sedikit sulit penguasaannya, maka belum menjadi rekomendasi untuk dilakukan penelitian pada saat itu,” katanya.
Menurutnya Baso Palembang Sari-sari dipakai sebagai alat komunikasi sehari-hari oleh masyarakat Palembang, baik penduduk asli Palembang maupun pendatang yang relatif sudah lama tinggal di Palembang. Kota Palembang adalah kota dagang. Sering kita jumpai orang-orang daerah yang keluar masuk kota Palembang sebagai pedagang, berhubungan dengan pedagang-pedagang orang Palembang. Kadang-kadang mereka menggunakan Baso Palembang Sari-sari sebagai alat komunikasi.
“Selain dipakai sebagai alat komunikasi sehari-hari, Baso Palembang Sari-sari ini pun dipakai dalam sastra lisan, misalnya, dalam cerita-cerita rakyat, perumpamaan-perumpamaan dan pantun,” katanya.
Daerah pemakaian Baso Palembang Sari-sari adalah di seluruh kota Palembang. Namun demikian, karena perpindahan penduduk ke daerah-daerah luar kota Palembang, pemakaian Baso Palembang Sari-sari ini juga dapat dilihat digunakan di daerah yang jauh dari Palembang, seperti kota Baturaja, Muara Enim, Lahat, Muara Dua, Tebing Tinggi, Empat Lawang, dan Pagaralam.
“Saat penelitian ini mereka lakukan, masih sangat sedikit tulisan yang secara khusus tentang bahasa Palembang. Dalam catatan mereka, hanya ada dua buah karya tulis yang membahas bahasa Palembang, Ahmad (1972) dan Arif (1975). Di samping itu, penelitian ini juga merekomendasikan agar bahasa Melayu Palembang berfungsi seperti yang diharapkan. Maka, bahasa Melayu Palembang perlu diselidiki, dibina, dan dikembangkan. Langkah pertama yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan ini ialah mengusahakan pengenalan secara lebih dekat dengan perencanaan yang terarah dalam bentuk penelitian. Data dan informasi tentang bahasa Melayu Palembang masih sangat kurang, baik sebagai hasil penelitian maupun sebagai hasil proyek penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah, departemen pendidikan dan kebudayaan,” katanya.
Selain itu jika pada Baso Palembang Sari-sari sudah terdapat penelitian yang cukup serius dilakukan oleh lembaga yang dapat dipercaya secara akademik. Paling tidak, sudah ada rujukan yang dapat dijadikan sebagai pedoman.
“Maka, sejatinya pada Baso Palembang Alus juga sudah ada pedomannya. Karenanya, dalam melakukan penerjemahan Alquran pedoman Baso Palembang Alus hendaknya betul-betul digunakan secara baik dan penuh kehati-hatian,” katanya.
Budayawan kota Palembang RM Ali Hanafiah SH meminta masyarakat Palembang mengawal dan menjaga kebijakan kebijakan Baso Palembang menjadi kebijakan di Pemkot Palembang dan DPRD Palembang agar Baso Palembang bisa di terapkan dan diajarkan ke sekolah-sekolah yang ada di kota Palembang. #osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

20 Orang Lolos Test CAT Dan Psikologi

Palembang, BP Tim seleksi (Timsel) anggota Bawaslu provinsi Sumsel penambahan yang terdiri dari Ketua , Prof Dr Kasinyo Harto, , ...