Home / Headline / Pemilih Di Sumsel Ingin Pemimpinnya Tidak Korup

Pemilih Di Sumsel Ingin Pemimpinnya Tidak Korup

BP/IST
Djayadi Hanan yang merupakan Direktur Eksekutif SMRC; Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina dalam Diskusi Media Pilkada Berintegritas di Hotel Santika, Senin (9/4).

Palembang, BP

Djayadi Hanan yang merupakan Direktur Eksekutif SMRC; Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina melihat pemilih di Sumatera Selatan (Sumsel) ingin pemimpin yang tidak korup (sumber: kompilasi hasil riset 2017.
Menurutnya, Dari hasil riset dan survey kompilasi yang dilakukan terhadap pelaksanaan pilkada yang ada di Sumsel, hampir bisa dikatakan akan memilih pemimpin yang punya komitmen untuk pemberantasan tindak pidana korupsi.
Bahkan dari hasil survey yang dilakukan terhadap ratusan responden yang disebar secara acak di beberapa wilayah, hasilnya sudah bisa diprediksi kalau yang mendukung penegakan hukum dan komitmen pemberantasan korupsi menempati posisi tertinggi.
“Kebanyakan yang dijadikan alasan memilih karena perhatian ke masyarakat, jujur, bersih dan memiliki komitmen dalam pemberantasan korupsi. Jadi, point penting yang kita dapat, masyarakat akan memilih pemimpin yang bersih dan komitmen,” katanya dalam Diskusi Media Pilkada Berintegritas di Hotel Santika, Senin (9/4).
Dimana kualitas/sifat kepemimpinan yang diinginkan pemilih di Sumatera Selatan: Perhatian pada rakyat (55%), Jujur/bersih dari korupsi (30%), Tegas (5%), Relijius (5).
“Namun posisi bersih/jujur berada pada urutan 2. Kualitas perhatian pada rakyat terjemahannya seringkali kurang sejalan dengan bersih dari korupsi atau jujur. Pemimpin yang lebih terbukti perhatian pada rakyat bisa saja tetap terpilih meski kurang dari aspek jujur/bersih dari korupsi,” katanya.
Menurutnya, di berbagai Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan, kualitas kepemimpinan yang diinginkan pemilih relatif sama dengan urutan yang juga cenderung sama.
“Yang menjadi rujukan dalam menentukan pilihan:
Diri sendiri (48%) Anggota keluarga (suami/istri, orang tua, anak, dll) (32%),Warga disekitar tempat tinggal (6%), Tokoh masyarakat (4%)
Dari pemilu ke pemilu: 52% punya pilihan yang sama dengan anggota keluarga lainnya,17% tidak saling tahu pilihan masing-masing anggota keluarga, 22% pilihan tidak sama dengan anggota keluarga lainnya,” katanya.
Selain itu menurutnya, sekitar 30% pemilih bertanya kepada pemimpin/tokoh masyarakat soal informasi politik dan ketika hendak mengambil pilihan politik. 70% selebihnya mandiri dalam memutuskan pilihan politik.
Tokoh atau pemimpin yang sering ditanya pemilih adalah ketua RT, kepala desa/lurah, tokoh agama, ketua dusun, dan lainnya.
“Kebanyakan pemilih baru final memutuskan pilihan ketika hari H sudah dekat hingga pada hari H pelaksanaan pemilu:
Sekitar 15% sudah punya pilihan sejak beberapa bulan hingga setahun sebelum pemilu 25% sudah punya keputusan sejak dua tiga minggu sebelum hari pemilihan 25% mengambil keputusan pada masa tenang
25% bahkan baru menentukan pilihan pada hari H,” katanya.
Selain itu perilaku pemilih di Sumsel berbeda dengan Pulau Jawa seperti di Jateng. Kalau di Jawa, pemilih lebih suka kontestan yang bebas korupsi. Sementara kebutuhan yang paling mendesak adalah Sembako, lapangan pekerjaan, kemiskinan dan bebas korupsi.
Sedangkan Anggota Dewan Pers Bidang Pengaduan Masyarakat Dan Penegakan Etika Pers, Imam Wahyudi menilai peran startegis media atau pers sebagai salah satu pilar demokrasi menjadi sangat penting dalam pelaksanaan pilkada serentak saat ini. Terlebih lagi, dengan posisi media yang sangat fundamental dalam upaya informasi publik, juga menjadi mitra startegis dalam pemberantasan korupsi dan mewujudkan pilkada yang berkualitas.
“Kita mengerti posisi pilkada ini sangat rawan terjadi praktik korupsi, terutama dalam penggunaan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Karena itu, di sini posisi strategis media untuk mengawasi pelaksanannya di lapangan,” katanya.
Dia mengingatkan, bagi wartawan yang maju sebagai calon, ikut tim sukses dan partai harus mengundurkan diri, baik permanen atau sementara.
Menurutnya, kinerja wartawan untuk publik. Sehingga saat peliputan di lapangan semangat dan etikanya sebagai jurnalis.
“Mencari data untuk publik, bahan berita. Bukan sebagai bahan atau data kepentingan politik calon tertentu, disinilah letak peran media,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

KPU Sumsel Minta Dukcapil Berikan Suket Kepada Warga Belum Memiliki E KTP

Palembang, BP Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumsel meminta Dinas Pendudukan Catatan Sipil (Dukcapil) setempat untuk segera memberikan Surat Keterangan (Suket) ...