Home / Headline / Orang Gunung di Banka

Orang Gunung di Banka

Kampung Katjong, Muntok, 1914 (www.collectie.tropenmuseum.nl)

Penduduk pedalaman Banka biasanya disebut Orang Gunung. Mereka termasuk bangsa Melayu, namun di mata Horsfield, peradaban mereka kurang maju dibandingkan dengan orang-orang Melayu di tempat-tempat lain.

Oleh FRIEDA AMRAN

TAMPAKNYA Orang Gunung di Banka sama dengan berbagai sukubangsa Binua yang tinggal di bagian selatan pedalaman Semenanjung Melayu.

Seorang penjelajah Inggris, Mr. Willer, yang pernah tinggal selama 5 tahuan di daerah Batak, mengungkapkan bahwa di daerah itu ada kelompok masyarakat, yaitu orang Lubu, yang mirip dengan orang Binua dari Johor. Pun mereka berbahasa Melayu. Ada yang berpendapat bahwa semua penduduk daerah Semenanjung Melayu merupakan keturunan dari orang Minangkabau. Namun, Horsfield menyangsikan kebenaran pendapat itu. Penelitian yang lebih mendalam di Sumatra, dan khususnya dengan dan tentang Orang Lubu barangkali dapat memberikan jawab atas pertanyaan apakah mereka dan Orang Binua merupakan nenek-moyang orang Melayu. Barangkali juga, orang Lubu merupakan keturunan Orang Binua. Demikianlah pertanyaan yang ada di kepala Horsfield. Bagaimana pun, asal-usul Orang Gunung belum dapat ditelusuri. Di masa lalu, hampir tak pernah mereka berhubungan dengan orang Eropa. Pun, mereka jarang berhubungan dengan orang-orang Melayu yang tinggal di sekitarnya.

Pada waktu orang mulai membuat permukiman di Minto, sebagian Orang Gunung mulai memeluk agama Islam. Ketika Horsfield di Banka, sebagian di antara mereka ‘kafir’ (istilah dari Horsfield). Bahasa Melayu yang biasa digunakan orang Gunung bercampur dengan istilah-istilah yang khas di dalam kebudayaan mereka sendiri atau kata-kata yang diadopsi dari bahasa Jawa.

Baca:  Tripang, Ikan Asin dan Perompakan

Walau sebetulnya tidak memiliki system pemerintahan tertentu, Orang Gunung dikenali sebagai kelompok masyarakat tersendiri yang tinggal wilayah-wilayah tertentu. Setiap distrik/permukiman dikepalai oleh seseorang bergelar ‘Batin’, walau ia tak memiliki apa pun untuk mendukung wewenang dan kekuasaannya. Tak ada pula satu orang kepala adat yang berpengaruh atau berkuasa atas seluruh atau sebagian masyarakat Orang Gunung di Banka. Jabatan sebagai ‘Batin’ merupakan kedudukan patriarchal. Ia dihormati sebagai orang yang mempersatukan  warga masyarakat yang dipimpinnya. Nasehatnya lebih diharapkan daripada bantuannya  untuk menghadapi kesulitan dan permasalahan.

Gelar dan jabatan ‘Batin’ diturunkan dari ayah ke anak lelaki. Pewarisan gelar itu terjadi dengan persetujuan semua ‘mattagawe’ di dalam distrik yang terkait. Yang disebut ‘mattagawe’ adalah lelaki-lelaki yang sudah menikah di suatu wilayah, yang sesekali dipanggil untuk menjalankan tugas dari Sultan. Bila seorang ‘Batin’ melanggar suatu aturan adat atau tidak lagi mendapatkan kepercayaan warganya, ia dapat diturunkan dari jabatannya atas kesepakatan bersama masyarakatnya. Orang lain dipilih untuk menggantikannya. Seorang ‘Batin’ tidak imbalan apa pun untuk menjalankan fungsinya. Satu-satunya keuntungan yang berhak didapatkannya adalah sumbangan tenaga kerja sehari dari semua lelaki di dalam kelompoknya pada waktu ‘Batin’ itu hendak membuka hutan untuk ladang.

Baca:  Penobatan Soesoehoenang dan Sultan Palembang

Orang Gunung tidak tinggal mengelompok di dalam sebuah desa. Biasanya, keluarga-keluarga Orang Gunung tinggal tersebar di hutan-hutan di wilayah mereka. Tempat tinggal itu berpindah-pindah dari tahun ke tahun sesuai dengan berpindah-pindahnya ladang-ladang pertanian mereka.

Untuk bertani, mereka memilih tempat yang dianggap subur di hutan. Lalu, mereka menebang pohon-pohon besar di daerah yang dipilih; ranting serta cabang yang lebih kecil digunakan untuk memagari lahan itu. Lahan yang sudah dibersihkan dari pepohonan besar itu kemudian dibakar. Bibit-bibit tanaman ditanam di tanah yang kini sudah siap. Lahan pertanian seperti ini disebut ladang. Pemilik ladang membangun rumahnya di ladang itu. Kegiatan membuka hutan dan menyiapkan ladang kadang-kadang dilakukan secara bergotong-royong dengan beberapa keluarga lain.

Permukiman Orang Gunung yang agak mirip dengan desa terdapat di Dshuwok (di dekat Kutto-Waringin—permukiman yang didirikan oleh Depally (Depati?) Barin di Depa, di dekat Sungie Marawang. Yang juga mirip dengan desa adalah permukiman kecil yang terdapat di antara benteng di Pangkal Penang dan Juak. Permukiman ini terdapat di wilayah Batin Marawang. Kelompok masyarakat di Sungie Bulu, Jebus dan Klabbet cenderung lebih mempertahankan gaya hidup yang tradisional dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain.

Nasi adalah makanan pokok utama Orang Gunung, walau jagung, ketela dan ubi telah diperkenalkan oleh orang Cina dan Melayu dari Palembang. Tanaman-tanaman baru itu tumbuh subur di tanah Banka yang subur. Ubi manis (convolvulus batata) ditanam di ladang setelah panen padi. Tanaman ini lebih sering menjadi komoditi pertukaran untuk mendapatkan barang-barang dari para pedagang Cina daripada untuk dimakan sendiri.

Baca:  Dr Thomas Horsfield dan Pulau Banka

Pepohonan buah yang paling sering ditemukan di tempat jarang ada di lingkungan Orang Gunung, kecuali yang sengaja telah ditanam di dekat permukiman. Masih banyak Orang Gunung yang tidak mengetahui cara membuka batok kelapa untuk mendapatkan airnya. Satu-satunya pohon buah yang sering tampak di dekat ladang-ladang mereka—dan juga tumbuh liar di dalam hutan—adalah pohon cempedak. Pohon yang tumbuh besar dan tinggi itu seringkali ditanam sebagai pusaka untuk anak-keturunan pemilik ladang itu, dengan harapan bahwa di suatu saat di masa depan, para anak-cucu akan membuka ladang dan menemukan pepohonan cempedak yang telah ditanam oleh nenek-moyangnya.

Penduduk Banka memiliki banyak sifat baik. Pencurian dan perampokan hampir tak dikenal sama sekali oleh kelompok-kelompok masyarakat yang tinggal di sebelah utara pulau. Perjudian, mabuk-mabukan, perselingkuhan dan kejahatan-kejahatan serupa juga hampir tak diketemukan. Barangkali, kecilnya komuniti masyarakat itu, keterpencilan tempat tinggal dan kemiskinan kehidupan membuat mereka tidak tertarik atau pun mampu untuk berjudi atau pun bermabuk-mabukan.

Pustaka Acuan:

Thomas Horsfield, M.D.  “Report on the Island of Banka,” dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Vol. 2. Tempat-tahun (hal. 299 – ..)

x

Jangan Lewatkan

ESP Dukung Sarimuda-Rozak Di Pilkada Palembang

#Ditunjuk Sebagai Ketua Tim Pengarah Pemenangan Sarimuda-Rozak .   Palembang, BP Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) kota Palembang tahun ...