Home / Headline / Gedung Walikota Palembang Seharga 1 Ton Emas

Gedung Walikota Palembang Seharga 1 Ton Emas

BP/IST
Gedung Walikota Palembang tempo dulu

Palembang, BP
Kantor Walikota Palembang yang terletak di Jalan Merdeka ini dahulunya dikenal dengan sebutan Menara Air (Water Tower) atau Kantor Ledeng.
Tinggi bangunan yaitu 35 m dengan kapasitas air yang bisa ditampung mencapai 1.200 m3 dan dengan luas menara ini adalah 250 m2.
Menara Air (water tower) atau Kantor Ledeng merupakan bangunan buatan Belanda dan arsitek yang menangani pembangunan gedung ini adalah Ir. S. Snuijf.
Dipilihlah lokasi gedung di tepi Sungai Kapuran dan Sungai Sekanak. Sehingga pada masa itu, posisi Kantor Ledeng tepat di tepian air.
Namun kemudian, seiring dengan pembangunan jembatan yang melintasi Sungai Sekanak, Sungai Kapuran pun ditimbun. Akibatnya, jalan yang melintas di depan Kantor Ledeng itu pun mengalami banjir saat musim hujan disertai pasang naik Sungai Musi.
Pada tahun 1929, setelah pembuatan master plan kota oleh Ir. Thomas Herman Karsten, dibangunlah sarana air bersih. Bangunan ini didirikan dengan gaya de stijl, yaitu memiliki bentuk dasar kotak dengan atap datar dengan menghabiskan biaya ± 1 ton emas .
Pendistribusiannya dikenal sebagai sistem gravitasi setinggi 35 meter dan luas bangunan 250 meter persegi. Bak tampungnya berkapasitas 1.200 meter kubik merupakan cara yang efektif pada saat itu untuk pendistribusian air sampai ke daerah kolonial dan daerah pasar 16 ilir, segaran dan sekitranya
Secara resmi Kantor Ledeng digunakan pertama kali pada tahun 1930-an. Bangunan Kantor Ledeng sendiri memiliki beberapa tingkatan dimana tingkat pertama sejak jaman Belanda telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Belanda di Palembang dan tingkat paling atas digunakan sebagai tempat penampungan air bersih atau ledeng untuk semua warga yang tinggal di Palembang saat itu, terutama warga Belanda yang tinggal di sekitar Jalan Tasik saat ini dan Dempo yang lokasinya memang tak jauh dari menara Kantor Ledeng.
Menara air Kantor Ledeng ini dibuat sebagai upaya pemerintah Belanda Palembang saat itu untuk menyediakan air bersih.
Pada masa itu Sungai Musi yang dijadikan satu-satunya pemenuhan kebutuhan air bagi warga Palembang yang dianggap kurang baik karena saat itu air Sungai Musi memang dijadikan tempat untuk melakukan segala aktivitas sehari-hari (one stop washing) mulai dari mencuci beras (makanan), mencuci pakaian, hingga mencuci badan.
Selain itu kolam pemandian putri Kesultanan Palembang Darussalam juga dijadikan lokasi pasokan air bersih oleh Belanda, saat gedung Ledeng resmi di pakai Kolam pemandian tersebut ditimbun Belanda dan di atasnya di bangun rumah.
Adapun biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda saat itu untuk membangun Kantor Ledeng atau Menara Air adalah seharga 1 ton emas, harga ini sendiri 1/3 dari nilai yang pernah ditetapkan oleh Karsten pembuat master plan kota Palembang yaitu sebesar 3 ton emas.
Kantor Ledeng atau Menara Air ini sendiri telah beberapa kali berahli fungsi dimana pada saat pertama kali berdiri digunakan sebagai tempat penampungan air bersih dan pusat pemerintahan Belanda, kemudian saat jaman Jepang (1942-1945) dijadikan sebagai Kantor Residen Palembang jaman Jepang (Syuco-kan), lalu di jadikan balai kota hingga tahun 1956, hingga akhirnya sejak 21 Agustus 1963 Kantor Ledeng atau Menara Air digunakan sebagai Kantor Pusat Pemerintahan Kota Praja Palembang (Kantor Walikota Palembang) atau tempat berkantor orang nomor satu di Palembang sampai saat ini. #Osk (berbagai sumber)

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Alex Noerdin : Peringatan HUT RI Ke-74 Tahun Sebagai Ungkapan Rasa Syukur Kepada Allah

Palembang, BP Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke -74 tahun, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2019, memiliki makna ...