Home / Headline / Raffles Menghasut SMB II

Raffles Menghasut SMB II

Thomas Stanford Raffles

#Picu Peristiwa Palembang Massacre

Ketika Inggris menduduki Pulau Jawa pada tahun 1811, Thomas Stanford Raffles mengadakan pendekatan kepada raja-raja di Nusantara yang dianggapnya sangat berpengaruh di wilayah Nusantara. Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II dari Kesultanan Palembang Darussalam, salah satunya.

SMB II menurut Raffles dapat diandalkan dalam mempercepat jatuhnya Belanda sebelum serbuan besar Inggris terhadap pemerintahan Belanda-Prancis di Pulau Jawa.
Raffles dalam surat yang dikirim Raffles kepada SMB II, terbukti kalau Raffles menghasut SMB II untuk menentang Belanda di Palembang.
Surat menyurat yang dikirim Raffles melalui dua orang kurir suruhannya yaitu Raden Sharif Mohamed dan Sayyid Abubakar Rumi yang disebut-sebut sebagai warga Penang.
Salah satu surat Raffles kepada SMB II Palembang yang berisi hasutan adalah
….Aku telah mendengar dengan sangat cemas tentang tibanya angkatan perang Belanda di muara Sungai Palembang, dan aku segera mengirimkan surat ini untuk melindungi Anda dari niat buruk Belanda, suatu bangsa yang berhasrat memperkaya diri dengan harta benda Yang Mulia, karena Belanda sudah melakukan hal tersebut dengan setiap Pangeran Timur yang memiliki hubungan dengannya .
Aku ingin menyarankan Yang Mulia untuk segera mengeluarkan mereka dari wilayah Anda, namun jika Yang Mulia memiliki alasan untuk tidak melakukannya dan berkeinginan bersahabat dan membantu Inggris …Aku menguasai banyak kapal perang, dan jika aku rasa perlu melakukannya , aku bisa menyingkirkan Belanda meski mereka berjumlah 10.000…
Dalam catatan sejarah SMB II adalah salah seorang Sultan Palembang anti Kolonial terutama Belanda yang oleh sejarawan Inggris menyebutnya dengan “never a tama tiger” (tidak pernah mau menjadi harimau yang jinak) menjadi salah satu target Raffles. Ketika Sultan Mahmud Badaruddin II mendengar kabar Inggris akan kembali berkuasa di Pulau Jawa dan sudah merebut Batavia, dengan sigap SMB II memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengusir Belanda dari Palembang.
Sultan Mahmud Badaruddin II mengirimkan pasukan ke Loji Sungai Aur (daerah pemukiman Belanda di hilir Sungai Musi) untuk menjemput pasukan dan pegawai Belanda dan beberapa pendatang Prancis untuk dipindah lokasikan. Pada mulanya orang-orang Belanda menolak untuk di pindahkan dari Loji Sungai Aur, akan tetapi dengan memberikan alasan bahwa Sultan khawatir akan diserang Inggris karena adanya orang Belanda dan orang asing lainnya di Palembang. Orang-orang Belanda kemudian mau dipindah lokasikan ke daerah lain yang belum tahu dimana lokasinya.
Dibawalah pasukan dan pegawai Belanda menggunakan perahu-perahu rombongan utusan Sultan dari Loji Sungai Aur. Sesampai ditengah perjalanan di hilir Sungai Musi tepat pada tanggal 14 September 1811 rombongan perahu yang membawa sebanyak 87 orang rombongan Belanda dan Prancis berhenti, orang-orang Belanda melakukan perlawanan dan terjadilah peristiwa penyembelihan massal terhadap orang-orang Belanda kemudian perahunya ditenggelamkan di hilir Sungai Musi atau tepatnya di Muara Sungsang yang kemudian dikenal dengan peristiwa Palembang Massacre.
Seminggu setelah peristiwa Palembang Massacre, Loji Sungai Aur di bumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Sebuah kisah mengatakan bahwa setelah Loji Sungai Aur diratakan dengan tanah, bagian atas loji tersebut kemudian ditimbun dan ditanami dengan rerumputan dan tumbuhan lainnya agar lokasi dan peristiwa tersebut tidak diketahui oleh Inggris dan Belanda.
Sepenggal kisah sejarah masa Kesultanan Palembang dari sudut pandang seorang Pribumi. Palembang Massacre menunjukan bentuk perlawanan Sultan terhadap Belanda dengan memanfaatkan kesempatannya. Kebencian seorang Sultan terhadap kolonial Belanda yang telah memeras dan memanfaatkan rakyat Pribumi dan kesultanan yang mungkin menjadi salah satu penyebab kebencian mendalam terhadap Belanda.
Namun Raffles menanggapi pembantaian tersebut terkesan “cuci tangan “ dan tak mau dipersalahkan akan kejadian Palembang Massacre tersebut.
Dalam catatan sejarah menjelaskan kalau berita mengenai pembantaian membutuhkan waktu berminggu minggu untuk sampai ke Batavia , Jika Raffles mengalami kepanikan yang menciutkan keberanian ketika dia mendengar bahwa hal buruk terjadi di Palembang, dan dengan kalut mencari di antara tumpukan korespondensi lamanya, mencoba keras untuk mengingat apa sesungguhnya yang dia telah tulis kepada Sultan Badaruddin dari Malaka pada bulan-bulan yang lalu, dia tidak menunjukkan itu dalam surat pertamanya kepada Minto mengenai permasalahan tersebut. Pada 13 Januari 1812, dia menulis mengenai berita yang dia dapat di tengah perjalanan pulang dari Yogyakarta: “Tampak bahwa Sultan [Palembang], sebagaimana diharapkan, memperkenankan pabrik Belanda [pos dagang] untuk tetap ada hingga dia mendengar jatuhnya Jawa, dan seperti seorang penjahat (secara tak terduga) memerintahkan mereka pergi. Satu laporan, yang aku khawatirkan sangat benar, mengatakan bahwa dia [memperkenankan] mereka diculik dan dibunuh karena mereka tidak pernah mencapai pelabuhan Eropa.”
Kata “secara tak terduga” di dalam kurung itu merupakan usaha kecil yang dilakukan Raffles untuk melindungi dirinya. Tidak ada yang tak terduga mengenai penghuni permukiman Belanda yang “diperintahkan pergi” atau bahkan dibunuh.
Dua belas tahun lebih awal ketika berkeringat menulis di Malaka, Raffles sendiri telah berusaha keras membujuk SMB II untuk “ Mengusir Belanda dari Palembang”.
Selain itu dari beberapa sumber jurnal asing mengatakan bahwa awal dari peristiwa ini merupakan provokasi Raffles, akan tetapi Raffles sendiri tidak mengakui dan sangat tidak menginginkan peristiwa Palembang Massacre 14 September 1811 tersebut terjadi. #Osk

Baca:  Gubernur Sumsel Sudah Tunjuk 4 Plt

 

Sumber :

1. Tim Hannigan 2012” Raffles And
British Invasion Of Java”

2. Pendidikansejarahunsri.blogspot.co.id

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

ILUNI UI Sumsel Diskusikan Prospek Industri Migas

Palembang, BP Ikatan alumni (ILUNI) Universitas Indonesia (UI) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Nongkrong Berfaedah, Selasa (19/2) malam, di Gade Cafe, ...