Home / Headline / Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783

Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783

Carte de Sumatra extraite de l’Histoire de Sumatra de William Marsden, 1811

KOTA  Palembang tempo dulu banyak ditulis oleh orang Eropa. Namun gambaran kota Palembang dan sekitarnya di tahun 1783 yang dipaparkan oleh William Marsden (County Wicklow, 16 November 1754 – 6 Oktober 1836) lebih detil dan lengkap. Pastinya dari perspektif sendiri.

Marsden merupakan seorang orientalis, linguis, numismatis, dan perintis dalam studi ilmiah mengenai Indonesia.

Marsden adalah anak seorang pedagang dari Dublin. Marsden juga dididik di Dublin, Inggris. Setelah mendapatkan penunjukan dinas sipil di East India Company dalam usia 16 tahun, ia dikirim ke Bencoolen (sekarang Bengkulu), Sumatera, pada tahun 1771. Ia dipromosikan ke jabatan sekretaris umum pemerintah, dan mendapatkan pengetahuan bahasa Melayu di negeri jajahan ini. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1779, Marsden menulis buku History of Sumatra (1783).

William Marsden memulai pengamatannya pada tahun 1771. Ia melakukan pengamatan dan berhasil mengungkapkan hal-hal yang belum pernah terungkap sebelumnya.

Marsden bukanlah orang Eropa pertama yang mengunjungi Sumatera pada masa itu, beberapa penjelajah dari berbagai negara lain juga pernah singgah sejenak di pulau Sumatera, akan tetapi catatan perjalanan Marcopolo tidak secara detil mendeskripsikan Sumatera sebagaimana dilakukan oleh Marsden.

Karya dari William Marsden tersebut merupakan sebuah prestasi besar dalam mengkaji wilayah-wilayah asing di luar benua Eropa. Tulisan Marsden tentang Sumatera merupakan sebuah karya besar pada abad ke-18 yang ditulis berdasarkan hasil riset dan observasi yang sudah tergolong canggih apabila meninjau kurun waktu di mana ia hidup.
Buku History of Sumatra (1783) yang terdiri dalam enam kelompok menceritakan mengenai:

a. Bab 1 : Menceritakan tentang karakteristik geografis wilayah Sumatera, mulai dari udara, metereorologi, iklim, kondisi tanah dll.

b. Bab 2-4 : Menceritakan tentang penduduk dan kehidupan sosiologi-antropologis masyarakat Sumatera pada masa itu.

c. Bab 5-8 : Menceritakan tentang flora dan fauna serta komoditi pertambangan yang terdapat di Sumatera.

d. Bab 9-15 : Menceritakan tentang kebudayaan, hukum, adat istiadat, dan tata perilaku masyarakat Sumatera pada masa itu.

e. Bab 16-21 : Menceritakan tentang perbedaan penduduk atar daerah hingga sejarah kerajaan-kerajaan di Sumaetra.

f. Bab 22 : Mulai menceritakan tentang awal kolonialisasi.

g. Bab 23 : Menceritakan tentang pulau-pulau lepas pantai pesisir barat Sumatera.

 

William Marsden

Kerajaan Palembang adalah salah satu daerah yang cukup penting sungainya termasuk sebagai salah satu yang terbesar di pulau ini.

Hulunya berada di daerah Musi. Tepatnya di belakang jajaran perbukitan yang terlihat dari Bengkulu. Bagian hulu tersebut dinamakan Air Musi, sedangkan di bagian yang lebih rendah dinamakan Tatong.

Berseberangan dengan kota Palembang dan pos dagang VOC, sungai ini memiliki lebar lebih dari satu mil dan cukup nyaman dilayari oleh kapal-kapal yang dirancang dengan syarat airnya tidak melebihi 14 kaki. Kapal-kapal yang lebih besar telah berlayar di sana untuk kepentingan militer (seperti pada tahun 1660 saat tempat ini diserang dan dihancurkan oleh bangsa Belanda), tetapi pelaksanaannya disertai dengan kesulitan akibat banyaknya gundukan.

Pelabuhan ini sering dikunjungi oleh kapal-kapal dagang khususnya dari Jawa, Madura, Bali, dan Sulawesi yang membawa beras, garam, dan kain-kain hasil produksi pulau-pulau tersebut. Ada juga opium, barang kelontong dari Hindia Barat dan komoditas Eropa lainnya yang dipasok oleh bangsa Belanda dari Batavia atau oleh mereka yang dikenal sebagai penyelundup. Sebaliknya, mereka menerima lada dan timah yang berdasarkan perjanjian lama yang dibuat oieh Sultan dan secara resmi diperbaharui pada tahun 1777 kedua komoditas tersebut secara eksklusif dikirimkan kepada Kompeni dengan harga yang telah ditetapkan dan tidak ada bangsa Eropa lainnya yang diizinkan berda gang dan berdayar di dalam wilayah kekuasaannya.

Untuk mendukung situasi ini, bangsa Belanda diizinkan mempertahankan sebuah benteng di sungai dengan pasukan penjaga berjumlah 50 sampai 60 orang (yang tidak dapat ditembus tanpa menimbulkan perselisihan) dan untuk menjaga kapal-kapal penjelajahnya sendiri agar tidak terjadi penyelundupan. Kuantitas lada siap pakai berjumlah mulai dari satu juta atau dua juta pon per tahun. Kuantitas timah berjumlah dua juta pon sepertiganya dikirimkan (di Batavia) menuju Belanda sisanya menuju Cina. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa timah ini merupakan hasil produksi dari pulau Bangka yang terletak di Muara Sungai yang dkenal sebagai bukit berpasirkan timah. Berdasarkan pembahasan khusus dalam Batavian Transactions Jilid 3, penambangan timah ini sepenuhnya dikeola oleh orang-orang Cina yang tinggal disana. Pada tahun 1778 Kompeni juga menerima rotan sebanyak 37.000 ikat.

Baca:  Palembang Diserang Pasukan Inggris Melalui Kapal Induk HMS Illustrious

Bagian dataran rendah Palembang yang mengarah ke pesisir dideskripsikan sebagai tanah rawa yang datar dan seluruhnya tidak cocok untuk bercocok tanam, kecuali pada sejumlah bidang. Dulunya dataran ini biasa dipahami sebagai dataran yang seluruhnya tertutupi oleh lautan. Hal ini teramati tidak hanya dari pantainya yang setiap tahun semakin lebar, tetapi juga diketemukan kerang laut dan bahkan potongan kayu kapal melalui penggalian tanah di dataran yang agak jauh dari garis pantai.

Daerah pedalaman atau dataran tinggi merupakan lahan yang sangat produktif. Di sanalah lada dibudidayakan yang kemudian hasilnya dibeli oleh perantara raja (perdagangan di daerah ini biasanya dimonopoli oleh para penguasa) dengan harga murah. Sebagai imbalannya dia memasok untuk penduduk pedalaman dengan opium, garam dan barang kelontong yang memenuhi kargo~kargo kapal-kapal besar (jumlah kapal panjangnya 66 kaki dan lebarnya tujuh kaki, terbuat dari satu batang pohon) kemudian ditarik melawan arus. Barang-barang yang ditujukan ke Pasemah dikirimkan ke suatu tempat bemama Muara Mulang yang dapat ditempuh selama l4 hari. Dari sana melalui jalan darat menuju perbatasan negeri, perjalanannya memakan waktu satu hari. Daerah ini berada di sekitar wilayah tempat lada dikembangkan lmbalan mereka kebanyakan berupa benang pulas. sutera mentah ber tekstur paling kasar, dan gading gajah. Dari Musi mereka mengirimkan juga belerang, tawas. arsenic, dan tembakau. Jeranang dan gambir juga merupakan hasil produksi daerah ini.

Daerah pedalaman ini dibagi menjadi propinsi-propinsi yang masing-masing dipercayakan sebagai sebuah perdikan atau pemerintahan untuk salah satu anggota keluarga kerajaan atau keluauga bangsawan yang melaksanakan pengelolaannya kepada para deputi dan tanpa terlalu memperhatikan perlakuan terhadap rakyatnya.

Para pangeran yang merupakan keturunan dan pangeran zaman dulu di negeri ini mengalami banyak penindasan dan ketika terpaksa datang ke istana. Tidak ada seremonial tertentu yang diadakan untuk menyambutnya.

Para penguasa kerajaan Palembang saat ini dan sebagian besar para penduduk di kotanya awalnya berasal dari Jawa. Seperti yang sudah diduga, hal ini merupakan akibat dari penaklukan oleh penguasa Majapahit pada periode sebelumnya atau berdasarkan sejumlah anggapan lain, akibat penaklukan oleh penguasa Banten pada periode yang lebih modern.

Sebagai bukti adanya penaklukan oleh Banten baik secara nyata maupun nominal, hal ini bisa ditemukan dalam tulisan tentang penjelajahan pertama bangsa Belanda yang menyatakan. “Pada tahun 1596 raja Banten digulingkan di dekat Palembang, sebuah kota yang memberontak di Sumatera, tempat dia dikepung;”

Belanda mendapatkan kehormatan menobatkan ke atas tahta salah satu anggota keluarga sultan yang memerintah (1780) yang bernama Ratu Ahmad Baharuddin. Putra sulungnya menyandang gelar Pangeran Ratu yang setara dengan gelar Raja Muda dalam kerajaan Melayu.

Kekuasaan kerajaan tidak dibatasi oleh larangan hukum apa pun, tetapi apabila tidak didukung oleh pasukan tentara bayaran, titahnya sering diabaikan oleh para bangsawan. Meskipun tidak ada pemasukan dari pajak ataupun kontribusi, hasil keuntungan yang diperoleh dari perdagangan lada dan khususnya timah sangatlah besar.

Akibat masuknya perak dalam jumlah yang cukup besar tanpa adanya jalur penjualan yang jelas, timbul indikasi bahwa dia memiliki harta karun berjumlah besar. Bea cukai untuk barang dagangan impor tetap berada di tangan syahbandar yang diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga raja dengan aturan~aturan tertentu dan untuk me menuhi kebutuhan lainnya. Sebagian besar pembantu rumah tangga panqeran adalah perempuan.

Mata uang negeri ini dan satu-satunya uang yang boleh diterima dalam kas kerajaan adalah dolar Spanyol. Namun, ada juga mata uang yang biasa beredar berupa sejenis koin kecil yang dikeluarkan oleh otoritas kerajaan. Mata uang koin itu disebut piti. Bentuknya berupa potongan plat dari campuran timah hitam dan timah putih serta memiliki lubang berbentuk kotak di tengahnya (seperti koin uang Cina), lalu dirangkai dalam paket-paket yang masing-masing paketnya terdiri dari lima keping. Enam belas keping koin tersebut (berdasarkan Batavian Transactions) nilainya sama dengan satu dolar. Dalam mengukur nilai emas, satu tail dianggap sebagai sepersepuluh kati (satu sepertiga pon) atau setara dengan yang seberat dua seperempat dolar Spanyol.

Baca:  Pangeran Sido Ing Rejek Layak Jadi Pahlawan

Wilayah kota berada di dataran landai berawa yang berjarak bebe~ rapa mil di atas delta sungai, sekitar 60 mil dari laut, begitu jauh dari pergunungan di pedalaman sehingga pegunungan tersebut tidak bisa terlihat. Kota ini membentang sekitar delapan mil di sepanjang kedua tepi sungai dan sebagian besar wilayahnya dibatasi oleh tepian sungai tersebut serta anak sungainya yang bermuara di sungai besar. Bangunan-bangunannya, kecuali istana raja dan masjid, seluruhnya terbuat dari kayu atau bambu yang didirikan di atas tiang-tiang dan sebagian besar ditutupi dengan atap jerami dari daun palma.

Penampilan bangunan tersebut memang tidak menarik sama sekali. Ada juga sejumlah besar rumah terapung yang kebanyakan adalah toko-toko yang terbuat dari rakil bambu yang ditambatkan ke tiang-tiang. Ketika sang pemilik toko ini tidak lagi suka dengan posisinya, mereka akan memindahkannya lebih ke hulu atau ke hilir menggunakan arus pasang menuju posisi yang nyamam seperti karakteristik alam di negeri sekitarnya yang dilimpahi luapan arus sehingga jalan darat jarang digunakan, hampir semua komunikasi memang dilakukan menggunakan sarana perahu yang terlihat bergerak dalam jumlah ratusan ke segala arah tanpa henti.

Wilayah dalam atau istana dikelilingi oleh tembok tinggi, sehingga tidak ada bangsa Eropa yang mengetahui bagian interiornya, tetapi bagian luarnya luas, megah dan terdapat banyak hiasan. Berdampingan dengan tembok lni, pada sisi bawah , terdapat benteng yang kokoh, berbentuk persegi. beratap. menghadap sungai. dan terdapat satu lagi di bawahnya.

Pada kedua benteng itu, banyak meriam berat dipasang, lalu ditembakkan pada kesempatan-kesempatan khusus. Di tengah-tengah antara kedua benteng tersebut terlihat suatu medan atau lahan kosong yang bagian ujungnya terhubung dengan balerong atau balairung, tempat sultan mengadakan pertemuan dengan khalayak umum.

Balairung ini merupakan bangunan yang biasa saja dan terkadang dimanfaatkan sebagai gudang, tetapi bangunan ini dihiasi dengan senjata-senjata yang disusun di sepanjang dindingnya. Masjid kerajaan berdiri di belakang istana dan dan gaya arsitektumya sepertinya dibangun oleh orang Eropa.

Masjid ini merupakan suatu bangunan persegi panjang dengan jendela-jendela kaca, pilar-pilar, dan suatu kubah. Tempat pemakaman para penguasa berada di Palembang lama, sekitar satu league ke arah hilir sungai di mana tanahnya tampak lebih tinggi karena sudah lama menjadi tempat pemukiman.

Kebijakan para pangeran di sini, yang mana mereka sendiri juga merupakan orang asing. selalu mendukung keberadaan para pemukim Asing.

Kota yang berada di bagian hilir sungai sebagian besar dihuni oleh para penduduk dari Cina. Cochinchina, Kamboja, Siam, Patani yang terletak di pesisir semenanjung, Jawa, Sulawesi, dan daerah lain di kawasan timur. Terlebih lagi, para ulama Arab dideskripsikan oleh bangsa Belanda sebagai suku yang jumlah anggotanya sangat banyak dan merugikan. Meskipun mereka kerap bertlndak semena~mena dan menjarah para penduduk yang lugu, mereka tetap saja dimuliakan oleh para penduduk.

Agama Islam berlaku di seluruh wilayah kekuasaan sultan, kecuali di daerah dekat pesisir yang bernama Salang, tempat para penduduk aslinya yang disebut orang kubu hidup di dalam hutan seperti hewan liar. Literatur negeri ini dikatakan terbatas pada kajian Al Our’an. Namun, pendapat-pendapat semacam ini menurut saya terlalu cepat terbentuk atau dinyatakan oleh orang-orang yang tidak kompeten dalam memperoleh informasi yang diperlukan.

Bahasa yang dlgunakan oleh raja dan orang-orangnya dl istana adalah bahasa Jawa tingkat tinggi, dicampur dengan sejumlah serapan idiom asing. Dalam interaksi umum dengan orang-orang asing, percakapan selalu dilakukan dalam bahasa Melayu dengan pengucapan (sudah dljelaskan sebelumnya) akhiran vokal ‘a’ yang diganti dengan vokal ‘o’.

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Palembang sendiri (aksara yang mereka gunakan) adalah aksara bahasa setempat yang dicampur dengan aksara umum Jawa. Bangsa Belanda, yang tulisannya tentang adat istiadat dan watak penduduk negeri ini kami jadikan rujukan dan bisa ditemukan dalam Batavian Transactions jilid 3 halaman 122, mendeskripsikan mereka yang tinggal di dataran rendah sebagai penduduk yang sama sekali tidak berkepribadian baik dan dipenuhi semua sifat buruk, sementara mereka yang tinggal di pedalamanan dikatakan sebagai orang bodoh, yaitu orang-orang sederhana yang menunjukkan banyak kepasrahan dibawah penindasan. Namun diakui bahwa mereka hanya memiliki sedikit informasi tentang masyarakat pedalaman ini karena adanya kecurigaan dan kecemburuan berlebihan dari pemerintah, sehingga pemerintah pun waspada terhadap upaya apapun yang dilakukan Belanda untuk masuk ke negeri ini.

Baca:  Kemas Said, Ulama Pejuang yang Syahid di Perang Palembang 1819

Daerah pedalaman ini hanya pernah dikunjungi oleh dua pekerja Inggris di EIC yang tidak membuat catatan apa pun mengenai perjalanan mereka. Saya akan merujuk pada sebagian penuturan mereka untuk memberikan penjelasan singkat tentang kondisi geografisnya. Yang pertama adalah dari Charles Miller yang pada 19 September 1770 melakukan perjalanan dari Benteng Marlborough ke Bentiring di sungai Bengkulu, kemudian melanjutkannya ke Pagaradin, Kadras, Gunung Raja, Gunung Ayu. Kalindang. dan Jambu, tempat dia mendaki perbukitan yang membatasi dengan daerah Kompeni yang diketahuinya tertutup dengan banyaknya pepohonan.

Dusun pertama di sisi lainnya bernama Kalubar. Dusun tersebut terlelak di tepi sungai Musi. Dari sana dia menempuh jalur perjalanan ke tempat bernama Kapiyong dan Parahmu. tempat asal semua penduduk membawa hasil produksi, negeri mereka menuju Palembang melalui jalur sungai, Turunnya hujan dan kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh para pemandu menghalanginya melanjutkan perjalanan ke daerah pedalaman, tempat pohon akasia ditebang, dan membuatnya kembali ke arah perbukitan pada tanggal 10 Oktober, lalu berhenti di Tabat Bubut.

Dataran di sekitar Musi digambarkannya sebagai dataran yang rata, bertanah hitam dan cukup subur, serta bersuhu sedang. Dia sebenarnya berniat melintasi perbukitan menuju Ranailebar pada tanggal 11 Oktober, tetapi dia ter. sesat di jalan di hutan dan tiba keesokan harinya di Beyol Bagus,sebuah dusun di daerah Kompeni, kemudian dari sana dua melanjutkan ke Gunung Raja.

Jalan yang ditempuhnya sebagian berada di salah satu anak sungai Bengkulu yang bernama Air Bagus yang dasarnya tersusun atas batuan kerikil besar dan sebagian lagi melewati dalam yang rata yang seluruhnya tertutupi oleh hutan bambu. Dan Gunug Raja, dia kembali menyusuri sungai Bengkulu menggunakan rakit bambu menuju Bentiring dan tiba di Benteng Marlborough pada tanggal 18 Oktober. Penjelajah yang lain adalah Charles Campbell.

Dalam surat pribadinya tertanggal Maret 1802 (merujuk pada saya untuk informasi yang lebih terperinci pada jurnal-jumal yang belum sampai ke tangan saya), dia mengatakan, “Kami melintasi perbukitan di dekat belakang The Sugadoaf (gunung) dan memasuki lembah Musi. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan pemandangan negeri yang romantic dan indah ini, semua sisinya terkunci oleh pegunungan megah, dan dialiri oleh sungai besar yang bisa dilayari perahu-perahu ukuran sangat besar.

Setelah tersambung dengan muara sungai Lematang dan sejumlah aliran sungai kecil lainnya, terbentuklah sungai Palembang. Setelah alur perjalanan diarahkan ke balik perbukitan besar di Sungai Lemau, dalam tiga hari kami menemukan Labun, lalu menyeberangi sejumlah sungai yang cukup besar yang bermuara di sungai Kataun. Setelah maksud kami di sana tercapai, kami pulang melalui tepian Musi di dekat dusun Kalubat. Di sana kami menembus hutan dan mendaki gunung, menjelang malam kami tiba di sebuah desa di hulu sungai Bengkulu. Hanya ada satu bukit di sana.

Faktanya, dari bagian sungai Musi yang bisa dilayari sampai ke suatu lokasi di Bengkulu, tempat rakit dan sampan digunakan, rute tersebut mampu ditempuh para penduduk setempat dengan berjalan kaki dalam waktu kurang dari delapan jam. Musi merupakan daerah padat penduduk, pertaniannya maju, dan tanahnya sangat subur. Penduduknya kekar, tampak sehat, dan mandiri dalam pembawaan dan perilakunya. Mereka juga sopan dan ramah terhadap kami. Mereka tidak mengakui adanya otoritas tinggi, tetapi sering direndahkan oleh kelompok-kelompok biadab dari Palembang.

Para pembajak ini mungkin akan menyebut diri mereka sendiri sebagai pengumpul upeti. Sangat disesalkan bahwa sedikit kecemburuan politik dan permusuhan antar kekuatan bangsa Eropa yang pengaruhnya dirasakan di setiap sisi Sumatera ternyata menghalangi penemuan-penemuan lebih lanjut mengenai jalur aliran sungai yang cukup besar ini.

Sumber:
 William Marsden F.R.S, The History Of Sumatera
 Containing An Account Of The Government, Law, Custom, And Manners Of The Native Inhabitants, With Description Of The Natural, Production, And A Relationsof The Ancient Political State Of That Island, 
 Published By T Payne And Son, London 1811

 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Siapkan 50 Piagam Penghargaan

Palembang, BP Kejuaraan Futsal Gubernur Sumsel 3 dipastikan digelar di Lapangan Boom Futsal, Sabtu-Minggu, 28 dan 29 April 2018. Sama ...