Home / Headline / Lahan Diserobot , Puluhan Petani Padi Asal OKI Tidak Menanam Padi

Lahan Diserobot , Puluhan Petani Padi Asal OKI Tidak Menanam Padi

BP/DUDY OSKANDAR
Puluhan petani padi dari tiga Desa (Tirtamulya, Tepungsari, Margatani) Kecamatan Airsugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terancam tidak bisa menanam padi bulan ini lantaran lahan serobot oleh perusahan PT Selatan Argomakmur Lestari yang menghancurkan kebun-kebun dan lahan mereka. Hal tersebut dikemukakan para petani ini saat bertemu Wakil Ketua DPRD Sumsel H Chairul S Matdiah SH MH Kes di ruang banggar DPRD Sumsel, Senin (11/12).

Palembang, BP

Puluhan petani padi dari tiga Desa (Tirtamulya, Tepungsari, Margatani) Kecamatan Airsugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terancam tidak bisa menanam padi bulan ini lantaran lahan serobot oleh perusahan PT Selatan Argomakmur Lestari yang menghancurkan kebun-kebun dan lahan mereka.
Hal tersebut dikemukakan para petani ini saat bertemu Wakil Ketua DPRD Sumsel H Chairul S Matdiah SH MH Kes di ruang banggar DPRD Sumsel, Senin (11/12).
Para petani meminta anggota DPRD Sumsel agar perusahan PT Selatan Argomakmur Lestari mengembalikan lahan mereka.
“Kedatangan kami ada 3 permintaan. Yang pertama, kami menginginkan perusahaan mengembalikan lahan. Kalau perusahaan mengambil lahan bagaimana kami mau bertanam. Katanya tanah itu tanah Alokasi Penggunaan Lain. Yang kedua, sesegera bapak meninjau lahan.
Perusahaan ingin mengeringkan lahan. Sementara petani ingin membanjiri lahan. Celeng (babi hutan) dan burung merusak tanaman. Bapak bisa melihat tentang pengaduan kami. Yang ketiga, sepulang dari sini kami dapat menanam padi,” kata Eli warga Tirtamulya.
Petani lain , Sujono mengatakan, tanah 653 hektare itu merupakan lahan jatah transmigran dan beralas hak milik mereka. Pemiliknya sebanyak 200 kepala keluarga, namun sejak beberapa tahun terakhir tanah itu diklaim milik PT Selatan Argomakmur Lestari.
”Kami datang ke sini ikut program transmigrasi dari Pulau Jawa kami dipindahkan ke sini dan mendapat jatah beberapa hektare tanah dan untuk perkarangan rumah,” katanya.
Para transmigran itu mengaku datang pada tahun 1982. Saat itu belum ada perusahaan kelapa sawit. Lahan yang dibuka juga masih berupa hutan belantara dan ditanami cabai , pisang.

Baca:  Raffles Menghasut SMB II

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Sumsel Chairul S Matdiah memberikan penawaran kepada para petani untuk membuat surat ke DPRD Sumsel yang isinya memohon bantuan penyelesaian permasalahan ini.
“Ada Komisi 1 masalah tanah. Komisi 2 masalah perkebunan. Silahkan bapak ibu menyampaikan unek-uneknya. Nanti saya instruksikan ada komisi yang membidanginya. Saya masih ingat itu sebanyak 200 orang yang memiliki 653 hektare diambil perusahaan. Masalah ini ditandaklanjut Bupati OKI Pak Iskandar 29 September 2015 agar dihentikan . Setelah ada instruksi tersebut tidak dihentikan juga, betul. Nah ini saya tampung. Bapak Ibu buat surat sampaikan laporan bapak ini akan ditindaklanjuti,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Siapkan 50 Piagam Penghargaan

Palembang, BP Kejuaraan Futsal Gubernur Sumsel 3 dipastikan digelar di Lapangan Boom Futsal, Sabtu-Minggu, 28 dan 29 April 2018. Sama ...