Home / Headline / Ketua DPRD Sumsel Baca Puisi Kemanusiaan

Ketua DPRD Sumsel Baca Puisi Kemanusiaan

BP/IST
Ketua DPRD Sumsel HM Giri Ramandha N Kiemas saat membacakan puisi di Minggu (10/12) di Gedung DPRD Sumatera Selatan (Sumsel).

Palembang, BP

Koalisi Masyarakat Puisi Palembang meluncurkan antologi puisi ‘Luka Kemanusiaan untuk Rohingya’ yang diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Indonesia. Peluncuran buku disertai pembacaan puisi itu akan diselenggarakan pada Minggu (10/12) di Gedung DPRD Sumatera Selatan (Sumsel).
Selain itu juga ada pembacaan puisi oleh beberapa penyair terkemuka Indonesia seperti Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Syarifuddin Arifin (Sumatera Barat), Shafwan Hadi Umry (Sumatera Utara), Lily Siti Multatuliana (Jakarta), Anto Narasoma (Palembang), dan lain-lain acara peluncuran akan diwarnai orasi kebudayaan ‘Refleksi Kemanusiaan Hari Ini oleh Ketua DPRD Sumsel H Giri Ramanda N Kiemas.
Giri sempat, membacakan antologi puisi “ Luka Kemanusiaan Untuk Rohingya dengan menjiwai dan penuh makna.
Dalam sambutannya Giri mengatakan, kehidupan budaya memberi pengetahuan mendasar tentang sikap hidup dengan skala prioritas seseorang yang selalu berkarya dan menciptakan ide-ide bagi kehadiran karya ciptanya.
Menurutnya, komunitas yang paling efektif untuk mengapresiasikan sastra adalah mahasiswa dan pelajar. Karena komunitas ini akan lebih mengedepankan nilai-nilai sastra untuk dijadikan pelajaran. Sastra, katanya, tidak hanya berbicara tentang ide dan gagasan semata.
Tapi refleksinya adalah teknis pemuatan yang berkaitan dengan pemahaman (interpretasi). Interpretasi ini harus melewati pemahaman citraan dan diksi (kata-kata terpilih), sehingga isi puisi dapat segera dijabarkan melalui cara membacanya.
“Saya dulu pernah di teater. Dan, pernah beberapa kali ikut pentas memerankan tokoh yang ada di dalam naskah Mollier, misalnya. Meski membaca puisi dan memainkan lakon dalam pementasan di panggung kesannya sama, tapi cara membawakan sangat berbeda. Antara puisi dan bermain drama ibarat dua kutub pemahaman yang sangat berbeda,’’ katanya.

Baca:  Minat Swasta Investasi Di Sumsel Tinggi

Mementaskan seorang tokoh dalam dramatika pementasan, kata Giri, seorang pemain harus memahami sikap watak dari yang diperaninya. Ia harus ‘menyingkirkan’ watak pribadinya untuk memasukkan ruh tokoh yang ia perankan. Ini tidak mudah.

‘’Sedikitnya, kita harus lebur ke dalam tokoh yang kita perani. Nah, ini membutuhkan waktu latihan paling sedikit tiga bulan. Sedangkan membaca puisi, yang harus kita ketahui adalah maksud isinya seperti yang digambarkan penyair. Jika kita lebur ke dalam interpretasi secara menyeluruh, sesulit apapun puisi yang kita baca, isi di dalamnya dapat kita sampaikan ke audiens (penonton),’’ ujarnya.

Baca:  DPRD Sumsel Segera Panggil Manajemen Perguruan Tinggi Widya Dharma dan Harapan Palembang

Menurut, Anwar Putra Bayu selaku koordinator Koalisi Masyarakat Puisi Palembang yang juga bertindak sebagai editor buku, gagasan penerbitan antologi puisi ini muncul setelah usai acara Silahturahmi Puisi pada 2 Sepetember 2017 di Palembang. Dari pertemuan itulah ada keinginan untuk menerbitkan antologi puisi sebagai wujud solidaritas terhadap tragedi kemanusiaan yang dialami oleh masyarakat muslim Rohingya di Myanmar. Kekerasan yang berujung pada genosida (pembantain) pada etnis Rohingya oleh milter Myanmar itu mengundang keprihatinan semua orang.

“Sebagaimana kita ketahui melalui media televisi, media cetak, dan media sosial, bahwa kekerasan yang dialami oleh muslim Rohingya telah melahiran banyak dukungan serta protes keras dari berbagai negara atas tindakan keji tersebut. Ekspresi dukungan dan protes itu diungkapkan dengan berbagai cara, antara lain adanya unjuk rasa besar-besaran, penggalangan dana dan bantuan-bantuan,” katanya.
Penerbitan antologi puisi ini, kata Anwar Putra Bayu, tidak lain juga bagian dari ungkapan kepedulian serta sikap prihatin terhadap muslim etnis Rohingya atas pembantaian yang dilakukan oleh militer itu. Meski melalui puisi, setidaknya ungkapan ekspresi para penulis dalam antologi itu menyatakan serta mewakili perasaan dan pikiran terhadap peristiwa itu.
“Di sisi lain, mungkin kita berharap antologi ini bisa menjadi media untuk menyuarakan sikap keprihatinan serta sikap protes kita terhadap tragedi kemanusiaan di Myanmar melalui puisi. Itu sebabnya peluncuran buku kita akan mengambil moment peringatan hari HAM Internasional,” katanya.
Dia menambahkan, penerbitan buku puisi itu menghimpun 37 penulis dari berbagai kalangan dan daerah, bahkan luar negeri seperti Malaysia dan Thailand. Dengan kata lain, para penulis yang telah menyumbangkan puisinya tidak hanya khusus dari kalangan penyair saja seperti Eddy Pranata PNP (Cilacap), Rini Intama (Tangerang), Marlin Dinamikanto (Jakarta), Jasni Matlani (Sabah), Phaosan (Pattani), Hafney Maulana (Riau), dan lain-lain, namun ada juga dari kalangan pendidik, ibu rumah tangga, pengusaha, mahasiswa, dan pelajar.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Pilpres, PBB Masih Netral, PAN-Hanura Solid Dukung 1 dan 2

Palembang, BP Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Kota Palembang, Chandra Darmawan mengaku, hingga saat ini, PBB belum tentukan arah ...