Home / Headline / 12 Teroris Disisir Dalam Sehari dari 4 Kabupaten Sumsel

12 Teroris Disisir Dalam Sehari dari 4 Kabupaten Sumsel

Rumah tempat ditangkap teroris.

Palembang, BP–Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap 12 orang terduga teroris di empat kabupaten berbeda di wilayah Sumatera Selatan dalam satu hari, Minggu (10/12).

Ke-12 terduga teroris ditangkap di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Muaraenim, Ogan Ilir, dan Banyuasin. Hingga saat ini 12 terduga teroris tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif di Mako Brimob Polda Sumsel.

 

“Saat ini masih pemeriksaan, bisa saja ditetapkan menjadi tersangka atau tidak,” kata Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan, dia.

Zulkarnain menyebut, ada dua kemungkinan peran dari 12 orang tersebut jika memang merupakan anggota jaringan teroris. Yakni sebagai pemasok senjata untuk jaringan teroris di Sumsel atau di provinsi lain.

Atau mereka berperan menyembunyikan para anggota jaringan teroris lain yang melarikan diri ke Sumsel.

“Bisa saja mereka menyembunyikan atau melindungi teroris lain atau menyediakan senjata api. Ini merupakan lanjutan dari penangkapan jaringan teroris di OKU Selatan 2016 lalu,” jelasnya.

Kendati demikian, Zulkarnain memastikan bahwa dari 12 terduga yang ditangkap, rata-rata merupakan warga Sumsel dan sebagian lagi merupakan pendatang.

“Kita belum tahu apakah akan dibawa ke Jakarta atau tidak, karena masih menunggu pengembangan dari pemeriksaan di Mako Brimob,” tandasnya.

Ia mengimbau warga agar memperhatikan lingkungan sekitarnya, karena para terduga teroris tersebut kebanyakan tertutup dan tidak bersosialisasi dengan masyarakat.

Seperti halnya Suwarto alias Abu Jakfar yang dibekuk di Desa Lecah, Kecamatan Lubay Ulu, Kabupaten Muaraenim. Ia dikenal warga sebagai pribadi yang tertutup.

Seluruh keluarganya pun tidak ada yang bersosialisasi dengan warga sekitar di tempat tinggalnya di Jalan Lapangan Kerikil, Kampung Suka Damai, Lorong Perdamaian, RT73/14, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarame, Palembang.

Berdasarkan pantauan Senin (11/12), rumah Abu Jakfar berdiri di atas tanah dengan luas sekitar 10×15 meter. Bangunan rumah bertembok batako tanpa diplester semen dan tidak bercat.

Terlihat atap rumah yang terbuat dari  genting tampak seperti hampir roboh karena bagian tengahnya melengkung ke bawah.

Saat menyambangi rumah tersebut, BeritaPagi disambut seorang wanita berjilbab dan bercadar hitam yang hanya berbicara lewat celah pintu yang dibukanya sedikit.

“Maaf, saya tidak bisa menerima tamu. Menurut aturan kami, tidak diperbolehkan tamu masuk ke rumah bila tidak didampingi suami saya. Sekali lagi maaf,” ujarnya seraya menutup pintu.

Ketua RT73, Mashur (60) mengatakan, keluarga Abu Jakfar sudah mendiami rumah tersebut selama tiga tahun terakhir dan mereka sangat tertutup serta tidak pernah bersosialisasi.

Baca:  Polda Bongkar Pemasok Senjata Api ke Jaringan Teroris

“Kalau ada acara tidak pernah membaur. Kalau ada hajatan, meski diundang, mereka tidak datang,” ujarnya saat ditemui di sekitar rumah Abu Jakfar.

Mashur menuturkan, keseharian keluarga tersebut diketahui berjualan keripik singkong yang dibuat dan dijualnya sendiri ke warung-warung dan pasar.

Namun sang suami sangat sering bepergian hingga berhari-hari tidak pulang. Sementara istrinya yang berjualan. “Saking tertutupnya, saya tidak tahu nama istri Suwarto. Wajahnya pun tidak tahu karena memakai cadar,” tuturnya.

Dari penuturan Mashur, Abu Jakfar tinggal bersama istri dan enam anak, serta satu kerabat wanita paruh baya yang tidak diketahui pasti hubungannya.

“Anaknya ada yang masih kecil sekitar umur tiga tahun, lalu kisaran SD umur tujuh tahun, sembilan tahun, ada yang seumuran SMP, lalu tiga yang sudah agak dewasa,” ujarnya.

Dirinya berujar, dari enam anak Abu Jakfar diketahui tidak ada yang bersekolah. Dua diantaranya diketahui menempuh pendidikan di pesantren daerah Muaraenim, tempat Abu Jakfar diciduk Densus 88.

Saat ditangkap, Abu Jakfar juga tengah bersama kedua anaknya. Namun anaknya dilepas petugas polisi karena masih kecil. “Keluarganya rajin beribadah. Rumahnya pun sering ramai kegiatan, tapi tidak tahu acara apa, karena tertutup rapat,” paparnya.

Diketahui, tiga anaknya juga sempat mengikuti pengajian di masjid sekitar rumahnya. Namun sejak setahun lalu sudah tak lagi karena telah dibawa ke pondok pesantren.

“Shalat Jumat pun kadang terlihat. Ya perbandingannya, sekali dalam 10 kali shalat Jumat, salah satu anaknya terlihat shalat di masjid sekitar,” imbuhnya.

Mashur mengungkapkan, dirinya telah mengetahui salah satu warganya telah menjadi target operasi kepolisian sejak satu tahun lalu. Namun ia tidak mengetahui pasti siapa target tersebut, sebelum rumah Abu Jakfar digeledah polisi, Minggu (10/12).

“Setahun lalu saya dipanggil ke Kantor Camat, ada orang mengaku dari Mabes Polri mengatakan ada target operasi di lingkungan saya. Saya diminta membantu,” tambahnya.

Saat penggeledahan, lima polisi berpakaian preman menyerbu rumah Abu Jakfar. Dari yang diketahuinya, polisi membawa sejumlah barang, seperti buku dan paspor milik terduga teroris.

Sama halnya dengan Abu Jakfar, Imron alias Abu Hasan, terduga teroris yang diringkus dari kediamannya Komplek Graha Persada IV, RT22, Kelurahan Talang Keramat, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin juga dinilai tertutup dari masyarakat.

Lurah Talang Keramat, Zainudin mengatakan, sehari-hari Imron berjualan kue di sekitar rumahnya. Diketahui, Abu Hasan telah mengontrak di rumah tersebut sejak tiga tahun lalu.

Baca:  Inilah Identitas dan Keterlibatan 12 Terduga Teroris Sumsel

“Orangnya kurang bersosialisasi tapi tidak terlalu tertutup. Warga tidak curiga karena sebagian besar yang tinggal di sini juga pendatang,” ujarnya.

Ia mengaku tidak mencurigai Abu Hasan karena memang aktifitasnya tidak ada yang mencurigakan.

Dari yang terlihat, pasca penggerebekan rumah tersebut kini telah dipasang garis polisi dan dijaga 24 jam oleh aparat kepolisian.

Penangkapan terduga teroris di wilayah hukum Polda Sumsel, menyibak perilaku sehari-hari pelaku.

Seperti Abu Ibrahim Alias Yazid (29) warga Seroja Dusun V, Desa Pulau Semambu, Kecamatan Inderalaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir dan Suryadi (27), warga Lorong Seroja,  Dusun V, Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir yang diciduk Densus 88 dari Mabes Polri Minggu (10/11) dinihari.

Salah satu warga Fahrudin mengatakan, Mudik Abu Ibrahim Alias Yazid (29) dan Suryadi (27) memiliki karakter pendiam dan tertutup jarang bersosialiasi dengan masyarakat sekitar, sedangkan Suryadi adik ipar dari Yazid seperti orang biasanya sering bersosialisasi.

“Yazid bekerja sebagai petani dan kadang juga ikut kerja kuli bangunan sedangkan Suryadi sama seperti Yazid bekerja sebagai bangunan dan petani juga keduanya memang akur di dalam satu rumah ini,” katanya.

Yazid ini terbilang warga baru di Desa Pulau Semambu Dusun V ini. Ia belum setahun di sana. “Yazid ini aslinya orang Jambi, pindah ke sini sejak dia menikah dengan warga di sini yaitu Rini,” jelasnya

Fahrudin, warga Desa Pulau Semambu mengatakan Yazid sering membeli tiga kartu seluler di konter.

“Kami traumalah ada warga yang ditangkap diduga teroris.  memang  sebagai warga agak curiga dengan Yazid karena saat membeli kartu selalu membeli tiga kartu, artinya dia sering gonta ganti kartu untuk telepon selulernya,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Umam Pajeri, anggota DPRD Muaraenim dari Fraksi PKS asal pemilihan dapil 3, meliputi Kecamatan Lubai, Lubai Ulu, mengaku telah lama curiga dengan kegiatan pengajian yang dilakukan kelompok Ustadz Solihin cs, terduga teroris yang diamankan Densus 88 Mabes Polri.

“Ustadz Solihin sebelumnya orangnya bagus. Dia bekas petugas P3N di Desa Lubai Persada,” jelas Umam, Senin (11/12).

Menurut Umam, Ustadz Solihin dan istrinya bukan orang Desa Lubai Persada asli. Melainkan  perantau dari Jawa Barat.

“Dia bermukim di Lubai Persada sudah lebih dari 10 tahun lah, tepatnya di daerah trans Desa Lubai Persada,” jelas Umam.

Baca:  Doktrin ABG Jadi 'Pengantin', Targetkan Serang Mapolres OKU dan Mako Brimob Depok

Di rumahnya, ia membentuk kelompok pengajian. Jumlah muridnya banyak sekitar 100 orang.

Dijelaskannya, kecurigaannya terhadap Ustadz Solihin sudah cukup lama. Karena ajaran yang disampaikannya kepada muridnya tergolong agak keras dan alirannya berbeda dengan yang biasa dikerjakan umat Islam.

Para muridnya yang mengikuti pengajian tersebut terlebih dahulu di-baiat. Kemudian jika sudah  masuk ke dalam kelompok pengajian tersebut, maka akan sulit untuk keluar.

Menurutnya, murid- muridnya yang  mengikuti pengajian tersebut kebanyakan berasal dari luar Muaraenim.

“Kebanyakan murid muridnya berasal dari Jawa, ada juga dari Banyuasin. Sedangkan dari Lubai sendiri hanya beberapa orang saja,” jelasnya.

Sementara itu, pasca-penangkapan AH terduga teroris di perumahan Griya Elok Permai, Kecamatan Kenten Banyuasin, tempat tinggal tersangka dipasang garis polisi serta dijaga ketat oleh polisi dan TNI, Senin (11/12).

Istri terduga teroris dan empat anaknya yang masih balita dan satu di antaranya baru berumur dua minggu, mengurung diri dalam rumah.

Pintu depan tertutup rapat dan setiap jendela meski dibuka dihalangi gordeng. Dari luar, terdengar suara anak-anak sedang tertawa bermain dan samar-samar suara wanita seperti melantunkan ayat suci.

Musanah (35), tetangga tersangka mengatakan, sejak penangkapan Minggu sore kemarin, belum terlihat istri tersangka melakukan aktifitas di luar rumah, belanja atau membeli kebutuhan sehari-hari.

“Mungkin stok makanan di rumahnya masih ada, jadi belum mau keluar atau barang kali masih takut pasca kejadian ini,” katanya.

Padahal, lanjut musanah, anak terduga teroris itu masih kecil-kecil. Paling tua belum genap enam tahun dan yang bungsu baru lahir dua minggu lalu.

“Kasihan juga sebenarnya, gak tebayang bagaimana nanti ibunya mengurusi empat balita itu sendirian,” ungkapnya.

Sementara itu, Lurah Talang Keramat Zainudin mengatakan, berdasarkan informasi dari RT setempat, dia sudah tiga tahun mengontrak di sini.

Sehari-hari aktifitasnya jualan kue, dititipkan ke warung-warung. “Menurut informasi dari RT, keluarganya memang terkesan tertutup, tapi taat beribadah,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, AH adalah terduga teroris yang ditangkap Densus 88, Minggu (10/12). Bersama 11 terduga teroris lainnya di tempat berbeda.

AH diringkus di rumahnya di wilayah Talang Kramat, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin. Sementara terduga teroris lain di antaranya AF dan AJ ditangkap di Desa Lecah, Kecamatan Lubay Ulu, Kabupaten Muaraenim.

Selain menangkap dua terduga teroris di Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan, yaitu Abdul Qodir alias Yaziz dan M Suriadi, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror juga menangkap tiga terduga teroris lainnya. #idz/hen/nur/mew

x

Jangan Lewatkan

Raperda PSG Masuk Prolegda

Palembang, BP Terkait anggaran sekolah gratis tahun depan dan raperda Program Sekolah Gratis (PSG) , Sekretaris Komisi V DPRD Sumatera ...