Home / Palembang / Perawatan Pasar 16 Ilir Minim

Perawatan Pasar 16 Ilir Minim Dewan Menilai BOT Sia-Sia

 

Sampah berserakan di Pasar 16 Ilir.

Palembang, BP — Wajah pusat ritel di Ibu Kota Sumatera Selatan tak sedap dipandang mata. Pasalnya, Pasar 16 Ilir yang kini masih dalam pengelolaan PT Gandha Tahta Prima (GTP) itu terutama di lantai atas kotor dan berbau tak sedap. Hal inilah yang semakin memperkuat Pemerintah Kota Palembang mengambil alih kembali dari Build Operation and Transfer (BOT) PT GTP.

Berdasarkan pantauan langsung di Pasar 16 Ilir, Jumat (8/12), kondisi pasar terutama di lantai 4 dan 5 sampah berserakan. Tak hanya itu bau tak sedap, sampah pun akan merusak pandangan para pengunjung Pasar 16 Ilir. Sampah yang terkesan sengaja dibuang ke pinggiran toko di lantai atas itu berasal dari sampah bekas botol minuman, makanan ringan, bungkus nasi dan lainnya.

Hal ini bertolak belakang dengan program yang digadang-gadangkan oleh Walikota Palembang, yang menginginkan Palembang bersih. Program gotong royong setiap minggunya yang dijalankan selama ini, nyatanya masih ada bagian di tengah kota yang penuh sampah.

Lantaran Pasar 16 Ilir masih dalam pegangan PT GTP, Komisi II DPRD Kota Palembang menegaskan bahwa perawatan dan mempercantik pasar adalah tanggung jawab GTP sebagai pihak ketiga pengelola pasar. Sampah yang tak diangkut dan dibersihkan bertolak belakang juga dengan iuran retribusi yang dibayarkan para pedagang di pasar itu.

Salah seorang pedagang di Pasar 16 Ilir, Kusnadi mengatakan, sampah tersebut memang sudah beberapa hari bahkan terhitung minggu tak diangkut oleh pengelola pasar, sehingga sampah menumpuk di pinggiran bagian samping kanan atas pasar.

“Ya memang cukup kurang nyaman, apa lagi pengunjung pasar ini bukan hanya warga Palembang, ada juga yang dari luar. Posisi sampah di samping itu terlihat oleh pengunjung,” katanya.

Sementara salah seorang pedagang lainnya, Krisna mengatakan, retribusi pasar 16 dibayarkan setiap hari. Baik itu untuk keamanan pasar maupun kebersihan. “Tiap hari bayar total untuk retribusi sekitar Rp12.000, macem-macem ada juga yang diminta sehari cuma Rp7.000,” katanya.

Ketua Komisi II DPRD Kota Palembang, Candra Darmawan mengatakan, PT GTP harus bertanggung jawab penuh terhadap perawatan Pasar 16 Ilir. Ia menilai, BOT yang dilakukan selama ini sia-sia lantaran tidak ada pembangunan apa pun di pasar itu yang semestinya sudah dilakukan.

“Jika sampah berserakan apalagi bau, ini artinya perawatannya kurang baik dari PT GTP, mereka harus tanggung jawab sepenuhnya sesuai dengan kontrak BOT bahwa Pasar 16 Ilir dan Kuto pengelolaannya menjadi tanggung jawab GTP,” tegasnya.

Chandra meminta PT GTP jangan banyak alasan dan mengelak untuk mempercantik pasar selama belum resmi BOT diputus oleh Pemkot Palembang. “Jika GTP itu memang tanggung jawab, mereka pasti akan percantik dan mengelola dengan baik, tidak perlu banyak alasan apa pun, jika selama itu tanggung jawab mereka ya pasti mereka rawat dengan baik,” katanya.

Akibat tidak dikelola dengan baik dan banyak persoalan lain yang dipertimbangkan, maka DPRD pun sejak lama merekomendasikan agar Pemkot Palembang segera mengambil alih pengelolaan dua pasar itu.

“Kami ingin sepenuhnya segera dialihkan pengelolaannya oleh pemkot. Sebab, selama ini seharusnya selama kontrak berlangsung Pt GTP melakukan beberapa pembangunan, nyatanya tidak ada pembangunan apa pun di pasar itu, pasar masih seperti itu saja,” katanya. #pit

x

Jangan Lewatkan

TPU Penuh Tetap Digunakan

Palembang, BP — Letak pemakaman yang jauh dijangkau oleh warga Palembang membuat Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sako dan Gandus kurang diminati. ...