Home / Headline / Aksara Kaganga Tradisi Tulis yang Kurang Dilestarikan

Aksara Kaganga Tradisi Tulis yang Kurang Dilestarikan

BP/IST
Ketua Komunitas Pecinta Sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah (RF) Palembang Afif Amirullah bersama Ahmad Rapanie dari Dinas Kebudayan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan serta Ambo Illa dari Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah saat diskusi sejarah di Radio Trijaya Palembang, Selasa (5/12).

Palembang, BP–Salah satu tradisi tulis Sumatera Selatan (Sumsel) yang kurang mendapat perhatian, kurang diedukasikan dan dilestarikan ialah tradisi tulis Aksara Kaganga.
Menurut Afif Amirullah, Ketua Komunitas Pecinta Sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah (RF) Palembang, dalam perkembangannya saat ini banyak di antara kita yang belum mengetahui dan mengenal Aksara Kaganga, padahal Aksara Kaganga merupakan warisan nenek moyang leluhur kita pada masa lalu.
Afif menjelaskan, Aksara Kaganga disebut juga dengan Aksara Ulu karena banyak berkembang dalam masyarakat yang tinggal di Hulu sungai dipedalaman.
“Aksara Kaganga mulai berkembang sekitar abad ke-17 sampai abad ke-19 masehi,dan diperkirakan berkembang dari aksara Palawa,” katanya saat menjadi nara sumber dalam diskusi sejarah di Radio Trijaya Palembang, Selasa (5/12).
Turut hadir Ahmad Rapanie dari Dinas Kebudayan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Ambo Illa Komunitas Pecinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang.

BP/IST
Suasana diskusi sejarah di Radio Trijaya Palembang, Selasa (5/12).

Menanggapi soal eksistensi Aksara Kaganga Ahmad Rapanie menjelaskan, “Bahwa ada terputusnya empat sampai lima generasi untuk Aksara Kaganga, sehingga apa yang telah ditinggalkan nenek moyang kita itu banyak yang tidak terbaca lagi, dan tidak menjadi tradisi lagi, kita mempunyai kekayaan naskah kuno,itu adalah hasil pemikiran ekpresi budaya, ekpresi ektetis nenek moyang leluhur kita”, katanya.
Mempelajari Kaganga itu menurutnya, bukan hanya untuk kita ada identitas saja, bukan untuk mencari tau bahwa nenek moyang kita hebat bukan, sebenarnya alat untuk kita mempelajari masa lalu itu,mempelajari produk. “Nenek moyang yang berbentuk tulisan, itu yang paling penting,” katanya.
Sedangkan Ambo menyampaikan, untuk mengatasi kurang dilestarikan dan diedukasikan kekayaan kearifan lokal Sumatera Selatan khususnya

BP/IST
Suasana diskusi sejarah di Radio Trijaya Palembang, Selasa (5/12).

Aksara Kaganga langkah nyata yang kami perbuat adalah dengan melaksanakan pelatihan dan seminar Surat Ulu dengan tema Merekonstruksi Aksara Kaganga Sumatera Selatan yang akan dilaksanakan pada 16 Desember 2017 mendatang.
“Ini langkah nyata yang bisa diperbuat untuk menumbuhkan kembali minat generasi muda terhadap Aksara Kaganga,” kata Ambo.#osk

x

Jangan Lewatkan

Pembukaan Kegiatan SUPREME SMANTA 2017

Palembang, BP Suasana tertib dan penuh antusias menghiasi pembukaan kegiatan Sport Unity Precious Event and Most Eligible SMA Negeri 3 ...