Home / Bisnis / Agung Firman Sampurna: Dibutuhkan Role Model Pengusaha

Agung Firman Sampurna: Dibutuhkan Role Model Pengusaha Catur Resmi Pimpin HIPKA Palembang

Anggota BPK RI Agung Firman Sampurna dan owner Bank Muamalat Setiawan Ichlas dalam diskusi yang dipandu Effendi Gazali.

Palembang, BP–Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Agung Firman Sampurna menyatakan, Indonesia perlu role model pengusaha yang memang sejatinya bergerak dari nol untuk mencapai sukses sebagai pengusaha. Hal itu disampaikan Agung saat pelantikan Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) Palembang di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, Kamis (30/11).

Dilantik sebagai Ketua Hipka Palembang Catur Sujatmiko didampingi sekretaris Ayat Parsah.

Menurut Agung populasi jumlah pengusaha di Indonesia dengan negara negara di Asia Tenggara jauh lebih rendah . Oleh karena itu, ujar Agung, perlu didorong untuk menjadi pengusaha. Pada sesi diskusi makin menarik dengan hadirnya moderator andal Effendi Gazali dan pembicara owner Bank Muamalat Setiawan Ichlas. Agung yang merupakan tokoh nasional dari Sumsel, alumni FE Unsri merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam pembangunan di Sumsel.

Menurut Agung, menjadi pengusaha adalah pilihan yang baik, mulia dan berani. Jangan sampai para alumni HMI berpikir hanya untuk menjadi politikus, karena peluang menjadi pengusaha adalah suatu yang tidak terbatas.
Membangun kewirausahaan bukan masalah HMI saja, hal ini adalah persoalan bangsa secara keseluruhan.
Karena menjadi pengusaha suatu yang tidak mudah, oleh karena itu perlu role model.
Salah satu role model itu adalah putra daerah asal Sumsel Setiawan Ichlas. Saat ini beliau sudah mempunyai mayoritas saham bank Muamalat. Iwan panggilan akrab Setiawan saat ini sudah berkibar di tingkat nasional.
Sementara itu Iwan yang diberi kesempatan oleh Gazali menyampaikan paparannya. Menurut Iwan, menjadi pengusaha jangan pernah takut gagal , pernah jatuh bangun jadi pengusaha . Menurut Iwan, awal menjadi pengusaha hanya ingin memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Karena makin banyak karyawan makin banyak berbagi rezeki.
“Semoga banyak dapat rezeki makin banyak membuka lapangan kerja . Rezeki makin bertambah,” ujarnya. Terkait dengan bisnis syariah di Indonesia punya market tersendiri.
Umat Islam begitu solid , syariah itu Indonesia dan mualamat akan jadi syariah terbesar di Indonesia . Sesuai dengan tema, tambah Gazali akan tercapainya kebangkitan ekonomi umat.
Gazali menasbihkan Iwan adalah role model. Terus menjadi pengusaha, ujar Iwan karena kesempatan dan ada fenomena menarik ekonomi syariah tumbuh lebih besar. Iwan berjanji
Insyaallah bank Muamalat akan dikembalikan bagian dari ICMI dan MUI, dengan harapan menerapkan ekonomi syariah.
Ke depan Harus punya bank umat, yang bisa membawa umat sejahtera.

Inilah sosok Setiawan Ichlas
Nama Setiawan Ichlas mendadak populer pasca memiliki 13,27% saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI). Apalagi, setelah PADI menyatakan bakal mengakuisisi 51% saham Bank Muamalat.

Lahir dan besar di Palembang, Setiawan Ichlas terlahir dari keluarga sederhana. Lahir pada 10 April 1977, pria yang akrab disapa Iwan ini menyebut dirinya terjun ke dunia bisnis untuk pertama kalinya sejak masih duduk di bangku sekolah.

Dalam bisnis, Iwan menyebut dirinya tidak punya kerabat pengusaha. Seluruh usahanya, dimulai dari nol, pun tanpa bimbingan ayah kandungnya yang meninggal dunia saat usianya masih 16 tahun.

Awal Iwan berbisnis di sektor riil. Beberapa bisnis yang digarap Iwan antara lain, transportasi atau jasa, perkebunan, trading, pertambangan batubara, belakangan jasa keuangan.

Tidak berhenti di situ, dalam gurita bisnisnya Iwan juga memiliki sejumlah pelabuhan yang tersebar di Indonesia. Antara lain di Palembang, Lampung serta Kalimantan.

Khalayak kemudian baru mengenal namanya, pasca dia memiliki 13,27% saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) awal Agustus 2017 lalu. Ia membeli saham PADI di harga Rp 350 per saham, alias bermodal Rp 525 miliar.

Akhir pekan lalu, harga saham PADI sudah Rp 1.410. Dus, potensi keuntungan Iwan sudah mencapai Rp 1,56 triliun.

Bukan kali ini saja, Iwan pernah terlibat dalam pembelian saham dalam jumlah besar. Asal tahu saja, pria yang kini baru berusia 40 tahun itu pernah menjadi pemegang saham mayoritas PT Bank Pundi Indonesia Tbk (BEKS) yang sekarang telah berganti nama menjadi PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BPD Banten).

Iwan sempat menguasai mayoritas saham Bank Pundi setelah membelinya dari Grup Recapital. Seiring berjalannya waktu, saham itu dia lepas kepada Pemprov Banten, hingga akhirnya menyisakan sekitar 20% hingga saat ini. Namun nama Iwan tak terlihat dalam struktur kepemilikan saham, karena saham itu dia sebar ke sejumlah kerabat.

Secara singkat, Iwan menyebut strategi bisnisnya dengan mengambil alih perusahaan bermasalah. Hal ini yang dilakukannya kala membeli Bank Pundi yang terpuruk karena biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO) serta kredit bermasalah (NPL) yang tinggi.

Hal yang sama, kini akan dia lakukan terhadap Bank Muamalat Indonesia. Dengan menggandeng sejumlah lembaga keuangan, seperti dana pensiun dan international sovereign fund, Iwan akan menginjeksi dana senilai Rp 4,5 triliun ke Bank Muamalat di bawah bendera Minna Padi.

Ia akan masuk dengan menjadi pembeli siaga rencana penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue Bank Muamalat. Kelak, Minna Padi akan menguasai minimal 51% saham Bank Muamalat.

Iwan lantas akan memberikan 2,5% saham Muamalat kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan 1%-1,5% ke Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). # fir

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Kemajuan Sumsel Mengulang Kejayaan Sriwijaya

Palembang, BP Menteri Dalam Negeri Tjahjo memastikan , kemajuan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengulang kejayaan masa kerajaan Sriwijaya dalam 72 ...