Home / Headline / Mata-Mata Jepang Di Penyerangan Pasukan Jepang Ke Palembang

Mata-Mata Jepang Di Penyerangan Pasukan Jepang Ke Palembang

Pasukan Jepang saat menyerang Plaju

13 Februari 1942 pagi hari, tentara Jepang menyerang Kota Palembang, persiapan dilaksanakan dari pangkalan militer perang Jepang di Malaysia dengan kekuatan udara Jepang bersiap menyerang Palembang yang saat itu masih diduduki oleh Belanda.
Kekuatan Angkatan Laut Jepang juga ikut bergerak menuju Palembang.
Alasan utama Jepang mengambil Palembang dari tangan Belanda adalah embargo minyak yang diberlakukan Amerika terhadap Jepang.
Tidak ada jalan lagi kecuali mengambil alih kekuasaan Belanda di Palembang, karena Palembang merupakan basis minyak bagi pemerintahan Belanda di Indonesia saat itu, bahkan minyak yang di ambil Belanda dari Palembang juga dijual ke negara-negara eropa termasuk Amerika.
Akhirnya Jepang dapat menguasai Sungai Grong dan Plaju, inilah awal cerita penderitaan warga Sumatera Selatan (Sumsel) akan kekejaman penjajahan Jepang. Peristiwa ini memang tidak pernah di ekspos oleh media, entah mengapa mungkin karena tidak begitu penting. tapi dalam catatan sejarah Perang Asia Pasific peristiwa penyerangan terhadap Palembang ini adalah peristiwa yang sangat penting karena Rencana penyerangan langsung atas Perintah Kaisar Jepang.
Salah satu daerah di Sumatra yang sangat berarti bagi Jepang adalah Palembang.
Dengan dikuasainya Palembang maka gerak mundur pasukan Sekutu di Sumatra ke Jawa dapat ditutup dan kemungkinan masuknya bantuan untuk Sekutu dari daerah Jawa dapat dicegah.
Penyerbuan tentara militer Jepang ke Palembang dimulai tanggal 12 Februari 1942 dan berhasil dikuasai tanggal 16 Februari 1942.

Kilang Minyak milik Belanda di Plaju terbakar oleh serangan Jepang

Sementara itu, daerah-daerah lain di Sumatera baru dapat dikuasai pada minggu kedua bulan Maret 1942. Aceh dan Sumatra Timur berhasil diduduki Jepang pada tanggal 11 Maret 1942 dan Sumatra Barat tanggal 17 Maret 1942.
Keberhasilan Jepang menguasai Palembang salah satunya tidak lepas dari peran mata-mata Jepang yang ditempatkan Jepang di Palembang, pertanyaannya apakah benar ada mata-mata , Jepang di Palembang saat itu? Sejarawan kota Palembang, Kemas Ari Panji justru meragukan sebelum tahun 1942, Jepang menempatkan mata-mata di kota Palembang yang menyamar menjadi pedagang , tukang poto dan sebagainya.
“ Kalau tahun 1942 setelah Jepang menguasai Plaju dan Sungai Gerong biasa Jepang menempatkan mata-matanya, “ katanya, Selasa (28/11).
Namun pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan memiliki penilaian tersendiri , dia melihat berdasarkan catatan sejarah dimana Jepang menyerang daerah lain, sebelum melakukan penyerangan biasanya Jepang menempatkan mata-matanya yang menyamar sebagai pedagang atau apapun untuk mendukung data penyerangan Jepang ke daerah tersebut.
“Untuk Palembang , aku belum melihat literaturnya namun menurut cerita orangtua saya , kalau sebelum Jepang menyerang Palembang beredar isu kuat kalau Jepang akan menyerang Palembang sehingga ribuan warga Palembang akhirnya mengungsi keluar kota Palembang, siapa lagi yang menyebarkan isu tersebut kalau bukan dari orang Jepang sendiri di Palembang,” katanya, Selasa (28/11)
Mengenai keberadaan orang Jepang di Palembang masuk sebelum tahun 1942 sendiri di benarkan dalam buku berjudul Indonesia Di Mata Masyarakat Jepang Di Hindia Belanda 100 Tahun Yang Lalu Dalam Kartu Post Bergambar Poto” dikarang Guru Besar Fakultas Hubungan Internasional Chubu University terbitan tahun 2017 yang isinya :

Kilang minyak Plaju di bakar pasukan Jepang

“Palembang yang dikenal sebagai lbu kota Kerajaan Sriwijaya di masa lalu, terletak dl pusat Sumatera Selatan dan berada di tepi sungai besar bernama Sungai Musi. Orang Jepang yang pertama kali datang dan tinggal di kota lnl adalah para karayukisan. Nakamura Naokichi yang menyebut dirinya penjelajah dunia, datang pada tahun 1902. la pernah tinggal di rumah border yang dikelola Hayashi Hiroshi. Menurut Nakamura barang-barang buatan Jepang seperti pasta gigi, tusuk gigi, sabun batangan dan keramik cukup laris Namun saat itu belum ada toko Jepang.
Pada tahun 1905, Noborimoto Kurohachi membuka Toko Noborimoto dan pada tahun 1912 Yamada Seishichi membuka klinik gigi.
Pada tahun 1913 dibuka beberapa toko yang menjual obat dan barang kelontong seperti Toko Nomura Shokai milik Nomura Eitaro, Toko Dagang Seiei Shokai milik ltokawa Seishichi, Toko Obat Miyazaki Kusuriten milik Miyazaki Matsunosuke dan juga dibuka Studio Foto Daiwa oleh Miyahata Seiichi.
Berdasarkan hasil survei Konsulat Jepang di Batavia tahun 1913, orang Jepang yang tinggal di Palembang terdiri atas laki-laki lima orang dengan pekerjaan sebagai pedagang barang kelontong, pegawai toko, dan pedagang obat masing-masing satu orang, dan yang tidak jelas pekerjaanya dua orang. Perempuan ada 11 orang, di antaranya tidak bekerja delapan orang, merupakan istri pedagang kelontong, berbisnis menyewakan tatami dan menjadi pemilik rumah makan Eropa masing-masing satu orang. Diperkirakan jumlahnya sebenarnya sedikit lebih banyak dari yang disebutkan di atas. Perempuan yang tidak memiliki pekerjaan diduga adalah karayukisan dan laki-lakl yang tidak jelas pekerjaannya diduga bekerja berkaitan dengan karayukisan.

Tentara Payung Jepang saat turun di Sungai Gerong, Plaju

Tahun 1914 didirikan Nihonjinkai Palembang. Pada tahun 1918, yang menjadi ketua adalah Noborimoto, wakil ketua adalah Yamada, sekretaris adalah Miyahata, Miyazaki dan lainnya. Anggotanya terdiri laki-laki 61 orang dan perempuan 42 orang. Keseluruhan ada 103 orang. Pekerjaan khas orang Jepang di Palembang saat itu adalah penjual es balok yang dilakukan oleh 10 orang sehingga terbentuk Koperasi Gabungan Pengusaha Minuman.
lnformasi mengenai Nihonjinkai di Palembang sebagai kota kaya minyak dan batu bara, mungkin akibat pengaruh PD ll, tidak tercatat baik dalam Pedoman Organisasi Orang Jepang di Nanyo yang diterbltkan Nanyo Kyoukai pada tahun 1937 maupun dalam Survei Kelompok Pengusaha dan Organisasi Orang Jepang di Luar Negeri yang diterbitkan pada tahun 1939.
Studio Foto Yamato didirikan tahun 1913 oleh Miyahata Seilchi, berasal dari Prefektur Hiroshima. la melakukan usaha pemotretan dan penjualan bahan-bahan foto, membuat kartu pos bergambar dengan nama M.A. Yamato. Dalam kumpulan kartu pos bergambar karya Miyahata yang berjudul Kisah Negeriku di Lembar Kartu Pos dimuat 53 kartu bergambar dan di antaranya ada sebuah kartu bergambar M.A. Yamato yang memotret situasi sebuah pasar di Palembang” . #osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

20 Orang Lolos Test CAT Dan Psikologi

Palembang, BP Tim seleksi (Timsel) anggota Bawaslu provinsi Sumsel penambahan yang terdiri dari Ketua , Prof Dr Kasinyo Harto, , ...