Home / Headline / Jangan Mudah Terpengaruh Oleh Ideologi Melenceng Dari Pancasila

Jangan Mudah Terpengaruh Oleh Ideologi Melenceng Dari Pancasila

BP/DUDY OSKANDAR
Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)dan Pemuda NKRI menggelar Fokus Group Discussion (FGD),” Membangun Daya Cegah Dan Daya Tangkal Masyarakat Sumsel Terhadap Potensi-Potensi Segala Macam Radikalisme, Sabtu (25/11) di aula lantai III DPRD Sumsel.

Palembang, BP

Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)dan Pemuda NKRI menggelar Fokus Group Discussion (FGD),” Membangun Daya Cegah Dan Daya Tangkal Masyarakat Sumsel Terhadap Potensi-Potensi Segala Macam Radikalisme, Sabtu (25/11) di aula lantai III DPRD Sumsel.
Kurang lebih 100 pemuda hadir dalam acara tersebut juga hadir
Sekretaris FPK Provinsi Sumsel Ahmad Marzuki.
Ketua DPRD Sumsel, H M Giri Ramanda N Kiemas yang juga hadir dan membuka acara tersebut menghimbau, untuk masyarakat, jangan mudah terpengaruh oleh ideologi yang salah dan melenceng dari ajaran Pancasila.
“Makanya disini saya ceritakan, ada sesuatu yang hilang yaitu tentang bagaimana Pancasila. Seharusnya apa yang kita lakukan, yaitu membuat masyarakat bisa menjaga tenggang rasa, saling menghargai, dan menghormati. Inilah yang agak berkurang akhir-akhir ini sehingga dikit-dikit belum apa-apa sudah emosi dan gampang tersulut oleh hal-hal yang tidak baik,” katanya.
Menurutnya, masyarakat saat ini sangat mudah untuk terpancing dalam emosi. “Informasi yang belum benar saja sudah bisa membuat orang emosi sehingga menjadi perselisian,” katanya.
Dirinya juga berharap, masyarakat khususnya di Sumsel harus dapat selalu menjaga persatuan. “Ke depannya masyarakat tidak mudah seperti itu, melalui diskusi inilah bisa mencarikan solusinya,” harapnya.
Dirinya juga mengapresiasi, kegiatan diskusi yang diadakan tersebut, melalui kegiatan tersebut para pemuda dapat saling bertemu dan silahturahmi. “Tetapi intinya, yaitu berdiskusi untuk membangun hal-hal yang dapat mencegah,” katanya.
Sedangkan rektor UIN Raden Fatah Palembang Prof Dr. Sirozi MA PhD menilai, pelaku radikal bebas biasanya belum ada pekerjaan dan penting bagi kita memastikan anak muda kita bukan hanya sekolah dan kuliah tapi bisa berkerja.
“Ini menjadi berat sekarang ini karena persaingan tenaga kerja sudah level Asean, di kampung-kampung banyak anak muda tidak mau kuliah karena banyak sarjana menganggur, ini salah, kita harus melihat , kalau sarjana bisa menganggur apalagi tidak sarjana, jadi kuliah harus serius dan punya kompetensi , insya Allah kalau dapat pekerjaan , fokus ke pekerjaan , ekonominya sehingga tidak gampang tergoda,” katanya.
Jika angka pengangguran di Indonesia masih tinggi , itu menurutnya beresiko, dan yang berkuliah dan tamat kuliah harus ada keahlian sehingga bisa berkerja.
“Diera sekarang ini selain harus ada ilmu , bahasa asing harus di kuasai, sekarang mau jadi sopur taksioun harus bisa bahasa Inggris, selain itu juga harus menguasai IT dan integritas .” katanya.
Selain itu pelaku teroris menurutnya, pemahaman agamanya tidak dalam .
”Yang banyak radikal ini, merasa benar sendiri , merasa hebat sendiri karena modalnya Al Quran dan terjemahannya itu dibawa kemana-mana , baca tapsir mungkin hanya satu tapsir , “ katanya.
Sedangkan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Siska Marleni mengatakan, selama ini kontribusi, sikap dan peran MPR RI dalam menangkal potensi radikalisme sangat jelas.
“MPR sudah membaca perubahan sosial belakangan ini terkait tergerusnya kesadaran berbangsa dan bernegara dan bergeser ke paham-paham lain. MPR mempunyai grand desain menangkal radikalisme dengan lebih fokus dan intens melaksanakan sosialisasi nilai kebangsaan (Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika),” katanya.
Pengamat politik,Joko Siswanto menilai, kenapa anak muda senang radikalisme , seharusnya ini menjadi bahan diskusi dan melahirkan gagasan bagaimana anak muda tidak terjerumus kepada perilaku yang radikal.
“Caranya kita diskusi dan mengemukakan gagasan dengan pihak-pihak lain seperti acara ini, sehingga yang jelek-jelek bisa kita tinggalkan , kemajuan bangsa dan peradaban karena ide dan ide berawal dari peristiwa, tapi jangan peristiwa stop sampai disitu harus di follow up dengan suatu pemikiran,” katanya.
AKBP Ismail Marzuki, Kasubdit 4 Dit Intelkam Polda Sumsel ,mengatakan, kalau orang memiliki pemahaman agama yang mendalam tentu tidak radikal.
Seperti yang dicontohkan para tokoh-tokoh Islam dahulu yang memiliki pemaham berbeda tentang Islam namun saling menghargai dan menghormati.
“Saya menghimbau kepada kawan-kawan sekalian agar kita berkapasitas, jika selesai kuliah, kita harus membekali diri selama kuliah, pergunakan waktu untuk belajar karena itulah masa paling indah dan akan kita kenang,” katanya.
Kapolda Sumsel melalui Direktur Intel Polda Sumsel Kombes Slamet Hariyadi mengingatkan, rentannya kalangan muda dari pengaruh pemikiran radikal.
Pemahaman agama yang kurang matang menurutnya memudahkan para pelaku radikal menyusupkan pola pikirnya pada kalangan mahasiswa.
Hal senada juga dikemukakan H Khairod Sudarso selaku Ketua Yayasan Poltek Muba , Dr H Alfi Yulizun Azwar sebagai Wakil Ketua FKUB Sumsel yang juga mengajak masyarakat untuk menjauhi pemikiran radikal terutama kalangan muda dan benar-benar mendalam dalam mempelajari Islam dan selalu mengisi pembangunan dengan hal-hal yang positip.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Jumputan Gambo Muba Mulai Mendunia

Perth, Australia, BP–Kain khas karya anak putra Banyuasin yakni Jumputan Gambo Muba terus gencar diperkenalkan ke dunia dan kini telah ...