Home / Headline / Fenomena Stanting di Pulau Lebar Daun

Fenomena Stanting di Pulau Lebar Daun

Herni Novelia bersama putra ketiganya, Said Abdullah, saat bermain di tepian sawah di Desa Upang Ceria, Banyuasin, Kamis (23/11).

Tak ada yang mengira, di balik pesona alamnya yang hijau dengan perairan dan cerita rakyat penggalah, Pulau Lebar Daun memiliki fenomena angka stanting yang memprihatinkan. 
 
MATAHARI mulai naik sepenggalah, seorang ibu menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang. Kadang berdiri, kadang duduk menyesuaikan anaknya yang kadang menangis pun kadang tertawa. Ada juga yang ingin anaknya digendong dibawa ke tepian sawah.
Begitulah suasana posyandu para ibu-ibu hamil dan ibu menyusui yang tengah mengikuti penyuluhan di Balai Desa Upang Ceria, yang berada tak jauh dari ladang tanaman padi.
Sebuah tepian sawah dengan tumbuh padi yang mulai menghijau menghampar luas, yang juga dipisahkan dengan arus sungai. Dibantaran sungai pun berjajar rumah-rumah penduduk prasejahtera dengan kondisi jamban dan kamar mandi yang hanya sekitar 3-4 meter.
Demikian potret Desa Upang Ceria, salah satu desa di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Sebuah Desa yang dikenal dengan Pulau Lebar Daun.
Tak ada yang mengira, dibalik pesona Pulau Lebar Daun dengan pemandangan penghijauan yang dikemas dengan pesona perairan dan cerita rakyat penggalah, Pulau ini ternyata memiliki fenomena angka stanting yang cukup memprihatinkan.
Benar saja, pemimpin setempat menyebut 10 persen bayi yang lahir di bantaran sungai Pulau Lebar Daun dalam kondisi stunting. Angka tersebut jauh dibandingkan masyarakat yang tinggal di daratan.
Adalah Laila, ibu rumah tangga berusia 26 tahun ini memiliki bayi bawah tiga tahun (batita) yang lahir dalam kondisi stanting. Kondisi dimana, bayi lahir dengan panjang kurang dari 48 cm dan berat kurang dari 2,5 kilogram.
Ibu yang sudah puluhan tahun tinggal di bantaran sungai tersebut melahirkan dua anaknya dengan kondisi stanting. Pedihnya kondisi ekonomi memaksanya bertahan tinggal di tempat tersebut.
“Anak pertama saya lahir lahir dengan panjang 46 cm dan berat 3,3 kilogram dan meninggal diusia empat tahun,”tutur Laila.
Selang meninggalnya anak pertamanya, lahir anak kedua yakni Dila Pratiwi yang baru berusia (22 bulan) yang juga lahir dalam kondisi stanting dengan panjang 46 cm dan berat 3,2 kilogram.
Hidup dengan kondisi penghasilan pas-pasan membuat Laila tak bisa menyisihkan uang untuk membuat jamban dan kamar mandi yang sehat. Malahan, ia juga kerap memanfaatkan barang bekas yang dijadikan kerajinan seperti tas maupun kotak air bersama tetangganya untuk mencari tambahan uang.
“Ya, jadi ya seadanya lah. Mandi dan wc ya disitu (sambil menunjuk-red). Pernah waktu itu Dila gatal-gatal mungkin karena kondisi air tapi sudah sembuh,”tuturnya.
Kondisi yang sama juga dialami Herni Novilia, ibu rumah tangga yang tinggal di daratan Pulau Lebar Daun yang melahirkan bayi dal kondisi stanting yakni dengan panjang 47 cm dengan berat 3,3 kilogram.
“Ya mudah-mudahan bisa terus sehat dan bisa memberikan makanan yang sehat,”harapnya.
Sementara itu diakui Saila, yang merupakan Bidan Desa Upang Ceria mengatakan bahwa selama ini tidak ada penyuluhan apapun berkaitan dengan stanting. Menurutnya yang ada hanya bagaimana pola hidup sehat bagi anak maupun ibu hamil sebagaimana penyuluhan posyandu lain.
“Apalagi disini (Upang Ceria-red) banyak yang ekonominya sulit. Jadi ya biasa aja, penyuluhan posyandu setelah itu pulang. Bahkan mereka banyak yang tidka datang kalau ada penyuluhan,”terang Saila.
Dirinya berharap, Pemerintah Desa atau pemerintah terkait bisa menyikapi ini dengan tindakan solusi. Mulai dari pemberian makanan tambahan, penyuluhan kesehatan yang berkelanjutan dan bantuan jamban maupun air sehat.
Kepala Desa Upang Ceria mengakui bahwa berdasarkan catatannya 10 persen bayi yang lahir dari ibu yang tinggal di bantaran sungai mengalami kondisi stanting. Berbeda dengan yang tinggal di daratan hanya 2-4 orang saja yang mengalami kondisi tersebut.
Menurutnya, sebagai aparat desa dirinya kerap menghimbau agar masyarakat tidak mandi di bantaran sungai dan membuat jamban yang sehat. Akan tetapi, memang kondisi ekonomi mereka memaksa tidak bisa melakukan hal tersebut. Apalagi rata-rata penghasilan mereka berkisar Rp1 juta dalam sebulan dengan pekerjaan serabutan.
“Dulu ada 2004-2006 ada bantuan gentong air program dari PNPM. Itu 10 keluarga satu gentong air dan sekarang sudah banyak pecah dan tak bisa dipakai,”jelasnya.
Menurutnya selain ada Program Keluarga Sehat (PKH) dan Generasi Sehat dan Cerdas kedepan, ia akam mengajukan program satu keluarga satu tedmond sebagai bantuan bagi masyarakat agar hidup sehat.
Terpisah, dikatakan dr Adhitia SpA bahwa memang pengaruh jamban tak sehat apalagi berdekatan dengan tempat mandi secara tidak langsing berpebgaruh bagi ibu hamil maupun kesehatan bayi. Sehingga jika fenomena tersebut terus ada dan berkelanjutan akam mempertinggi potensi ibubyang melahirkan bayi dalam kondisi stanting.
“Jadi pengaruhnya ke ibu hamil, karena kalau jamban tak sehat akan sering diare kemudian ibu hamil mengalami sakit-sakitan karena infkesi sanitasi dan bisa melahirkan bayi stanting,” tuturnya.
Makanya dirinya menghimbau kepada pada ibu hamil agar menjaga pola hidup sehat baik nutrisi makanan maupun kebersihan jamban dan kamar mandi yang berkaitan dengan air yang digunakan untuk mandi, memasak dan lain sebagainya. Termasuk juga bagi bayi yang baru lahir hingga 1000 mada kehidupan pertama harus berada dilingkungan sehat dengan asupan gizi yang cukup. #sugiarto
Baca:  Pemred di Palembang Ikut Gathering Gerakan Kampanye Gizi Nasional
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Sedulur Jokowi Sumsel In-Action

/// Spanduk dukungan Presiden Jokowi di Sepanjang Jalan Bandara Menuju JSC /// Palembang, BP Pasca ditetapkannya H Joko Widodo-Prof KH ...