Home / Headline / Kelompok Ahli Pembangunan Kota Denpasar Kagumi Koleksi Museum Ak Gani

Kelompok Ahli Pembangunan Kota Denpasar Kagumi Koleksi Museum Ak Gani

BP/IST
Kelompok ahli pembangunan kota Denpasar yang berjumlah 14 orang terdiri dari 4 profesor, dosen, staf ahli bidang ekonomi, budaya, sosual pertanian dll dibawah koordinator Bapedda kota Denpasar, Bali melakukan kunjungan ke Museum Pahlawan Nasional Dr AK Gani yang terletak di Jalan MP Mangkunegara, Palembang, Senin (20/11). Mereka di pimpin Ketua rombongan Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan

Palembang, BP

Kelompok ahli pembangunan kota Denpasar yang berjumlah 14 orang terdiri dari 4 profesor, dosen, staf ahli bidang ekonomi, budaya, sosual pertanian dll dibawah koordinator Bapedda kota Denpasar, Bali melakukan kunjungan ke Museum Pahlawan Nasional Dr AK Gani yang terletak di Jalan MP Mangkunegara, Palembang, Senin (20/11). Mereka di pimpin Ketua rombongan Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan
Kepala Museum Dr Ak Gani Priyanti Gani dengan Sekretris Museum Dr Ak Gani , Husin langsung menyambut kedatangan rombongan tersebut.
Mereka sangat antusias bertanya mengenai koleksi museum dengan bantu oleh Husin yang juga pemandu museum.
Kepala Museum Dr Ak Gani Priyanti Gani mengatakan, kalau kelompok ahli pembangunan kota Denpasar tersebut kagum dengan koleksi Museum Dr Ak Gani.
“ Sayang jadwal mereka mepet karena udah jadwal ke Pulau Kemaro,” katanya.
Selain itu menurutnya, Museum AK Gani sendiri adalah museum pribadi pahlawan Nasional dr.Ak.Gani yang selalu ramai dikunjungi pengunjung.
Dr. AK Gani adalah seorang pejuang sejati tanpa pamrih, mempunyai wawasan sipil dan militer yang sebagian umurnya dicurahkan kepada bangsa dan negara Indonesia.
A.K. Gani lahir di Palembayan, Sumatera Barat, pada tanggal 16 September 1905. Ayahnya adalah seorang guru. Ia menyelesaikan pendidikan awalnya di Bukittinggi pada tahun 1923. Kemudian ia pergi ke Batavia untuk menempuh pendidikan menengah dan mengambil sekolah kedokteran. Dia lulus dari sekolah dokter STOVIA pada tahun 1926.
Sejak remaja Gani aktif dalam kegiatan politik dan organisasi sosial. Pada era 1920-an, ia giat di berbagai organisasi kedaerahan seperti Jong Sumatranen Bonddan Jong Java. Pada tahun 1928 ia terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta. Pada tahun 1931 ia bergabung dengan Partindo, yang telah memisahkan diri dari Partai Nasional Indonesia tak lama setelah penangkapan Soekarno oleh pemerintah kolonial.
Pada tahun 1941, Gani membintangi sebuah film yang berjudul Asmara Moerni dan berpasangan dengan Djoewariah. Film ini disutradarai Rd. Ariffien dan diproduksi oleh The Union Film Company.
Meskipun sebagian kalangan menganggap keterlibatan Gani dalam film telah menodai gerakan kemerdekaan, namun ia menganggap perlu untuk meningkatkan kualitas film lokal. Meski mendapat kritikan, film satu-satunya itu sukses secara komersial.
Setelah pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, Gani menolak untuk berkolaborasi. Oleh karena itu ia ditangkap pada bulan September 1943 hingga bulan Oktober tahun berikutnya.
Setelah proklamasi dan selama masa revolusi fisik, Gani memperoleh kekuasaan politik dengan bertugas di kemiliteran. Pada tahun 1945, ia menjadi komisaris PNI dan Residen Sumatera Selatan.
Dia juga mengkoordinasikan usaha militer di provinsi itu. Gani menilai Palembang sebuah lokomotif ekonomi yang layak untuk bangsa yang baru merdeka. Dengan alasan, bahwa dengan minyak Indonesia bisa mengumpulkan dukungan internasional. Ia merundingkan penjualan aset-aset pihak asing, termasuk perusahaan milik Belanda Shell. Gani juga terlibat dalam penyelundupan senjata dan perlengkapan militer. Beberapa koneksinya di Singapura, banyak membantu dalam tugas ini.
Sejak 2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, Gani menjabat sebagai MenteriKemakmuran pada Kabinet Sjahrir III. Ketika menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, ia bersama dengan Sutan Sjahrir dan Mohammad Roem menjabat sebagai delegasi Indonesia ke sidang pleno ketiga Perjanjian Linggarjati. Dia juga bekerja untuk membangun jaringan nasional perbankan serta beberapa organisasi perdagangan.
Setelah jatuhnya Kabinet Sjahrir, ia bersama Sjarifuddin dan SetyadjitSoegondo menerima mandat untuk membentuk formatur kabinet baru. Dalam kabinet tersebut, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kemakmuran. Gani adalah anggota kabinet pertama yang ditangkap pada masa Agresi Militer Belanda I, namun kemudian ia dibebaskan. Dalam Kabinet Amir Sjarifuddin II, ia juga duduk pada posisi yang sama hingga kejatuhan kabinet ini pada tanggal 29 Januari 1948.
Setelah revolusi berakhir pada tahun 1949, Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Pada tahun 1954, ia diangkat menjadi rektor Universitas Sriwijaya di Palembang. Ia tetap aktif dan tinggal di Sumatera Selatan hingga wafat pada tanggal 23 Desember 1968. Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Pahlawan Siguntang di Palembang
“Untuk mengenang jasa-jasanya, pada tanggal 9 November 2007 Presiden SusiloBambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada A.K. Gani. Gelar ini diterimanya bersama dengan Slamet Rijadi, Ida Anak Agung Gde Agung, dan Moestopo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66/2007 TK. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit di Palembang, Rumah Sakit AK Gani dan nama ruas jalan beberapa kota di Indonesia,” katanya.#osk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

Penjual Anak Dituntut 3 Tahun Penjara

Palembang, BP–Fatima alias Yanti (47), terdakwa penjualan anak dituntut tiga tahun penjara dalam persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, Rabu (23/5). ...