Home / Budaya / Keturunan SMB II Di Ternate Memendam Rindu Ingin Pulang Ke Palembang

Keturunan SMB II Di Ternate Memendam Rindu Ingin Pulang Ke Palembang

Suasana Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Forum Group Discussion (FGG) berjudul Diaspora Keturunan Dan Pengikut Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Di Maluku Utara, di FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) , Bukit Besar, Palembang, Sabtu (19/11). BP/DUDY OSKANDAR

Palembang, BP — Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Forum Group Discussion (FGD) berjudul Diaspora Keturunan Dan Pengikut Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Di Maluku Utara, di FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) , Bukit Besar, Palembang, Sabtu (19/11).

Ini merupakan hasil Peneliti yang diketuai Dr. Farida R Wargadalem, M.Si dan anggota terdiri dari Drs. Alian, M.Hum, Dra. Yunani, M.Pd, Nanda Julian Utama, S.Pd.,M.Hum.
FGD juga dihadiri kalangan mahasiswa Unsri dan kalangan diluar Unsri sendiri.
Menurut Dr. Farida R Wargadalem, M.Si, Palembang merupakan wilayah dengan keragaman historis yang kaya. Salah satu lintasan historis Palembang yang menarik adalah masa periode Kesultanan Palembang.

“Jika sudah banyak bahasan yang mengkaji Kesultanan ini dari sudut pandang perekonomian, namun periode akhir masa kesultanan masih belum banyak disentuh padahal pada masa ini penuh dinamika politik,” katanya.

Salah satunya menurutnya, adalah mengenai masalah Perang Palembang yang terjadi sebanyak 3 kali.

“Pada perang terakhir Palembang mengalami kekalahan dan berdampak pada diasingkannya Sultan beserta kerabatnya. Aspek yang menarik pada pembuangan pertama ini adalah mengapa harus Ternate yang menjadi tujuan akhir dari SMB II dan pengikutnya ?,” kata Farida.

Menurut Farida, pada periode kolonial ada sekitar 3 kali pembuangan “ningrat” Kesultanan yang dianggap berbahaya, yaitu pada tahun 1821, 1825, dan 1881.
“Kesemuanya cukup menarik untuk dibahas, namun pada pembuangan yang ke 3 tahun 1881 memiliki bentuk dan pola yang unik, dimana anak-cucu dari masa pembuangan 1 ini diasingkan kembali ke wilayah timur Hindia-Belanda, dengan konsentrasi paling banyak berada di Maluku. Hal inilah yang coba ditelusuri oleh tim peneliti. Bagaimana kehidupan mereka dan juga apa yang tersisa dari “ingatan” mereka tentang Palembang akan menjadi fokus utama dalam buku ini, terutama bagi yang hidup di masa sekarang,” ujarnya
Menurut Farida, pihaknya ingin memberikan gambaran sejarah mengenai peristiwa masa lalu zuriat Palembang terutama periode pasca-Perang Palembang, yang belum di ungkap terutama masalah diasporanya.

Baca:  Tokoh Persamaan Hak Kaum Perempuan Asal Sumsel Itu Bernama Ratu Sinuhun

Memberikan sumbangsih bagi historiografi Palembang khususnya, Sumatera Selatan, dan Indonesia umumnya.

“Menjadi rujukan penting bagi yang masyarakat Palembang, dan pengembangan lebih lanjut penelitian tentang diaspora “orang Palembang” di wilayah timur Nusantara, bahkan Indonesia,” katanya.

Selain itu, penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya historiografi lokal Palembang, terutama masalah diaspora masyarakat Palembang di Maluku pasca-keruntuhan Kesultanan Palembang. Manfaat lain dari penelitian ini adalah luarannya berupa buku yang dapat menjadi rujukan mengenai Sejarah Palembang.

Mengenai lokasi penelitian menurut Farida di Pulau Ternate, Pulau Bacan dan Pulau/Kota Ambon.

Menurut Farida, mengenai kondisi awal kesultanan Palembang, terutama sebelum konflik maka perlu dilihat struktur politik dan ekonomi yang berlaku di Kesultanan Palembang ketika itu, dengan berbagai istilahnya.

“Dibahas pula mengenai hubungan Palembang dengan kekuatan asing terutama Belanda dan Inggris yang begitu bernafsu menguasai Kesultanan yang mereka anggap kaya ini. Periode konflik ini semakin memanas ketika Sultan

Peta Maluku Utra

Mahmud Badaruddin II naik tahta, yang berkomitmen untuk mengurangi bahkan menghentikan dominasi ekonomi kekuatan asing. Hal inilah yang memicu terjadinya perang, terutama pasca peristiwa pembantaian di loji milik Belanda. Lantas lewat serangkaian perang yang terjadi dalam kurun waktu 1819-1821, Palembang akhirnya bisa dikuasai,” katanya.

Selain peperangan dalam periode ini, juga terjadi hubungan yang tidak baik antara SMB II dan adiknya Pangeran Adipati.

Kekalahan terakhir dalam seri perang ini membuat pemerintah kolonial mengasingkan SMB II dan rombongannya ke Ternate, dan ini lah awal mula terjadi pembuangan dari Palembang.

“Setidaknya ada 3 kali terjadi pembuangan politik pada bangsawan Palembang, yaitu: tahun 1821 SMB II dan pengikutnya, tahun 1825 Sultan Najamuddin Prabu Anom beserta rombongan dan tahun 1881 pembuangan yang dilakukan terhadap anak cucu keturunan SMB II,” katanya.

Apalagi menurut Farida, selama penelitian yang dilakukan pada bulan Juli 2017, ditemukan beberapa penyebab terkait terjadinya diaspora pada masyarakat Palembang di Maluku.

Jika pada 3 pembuangan yang terjadi pada abad ke 19 merupakan diaspora karena faktor politik.

Baca:  Misteri Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang?

“Maka dari temuan yang terjadi dalam kurun waktu pasca 1881, terjadi pola yang berbeda dalam penyebaran masyarakat di wilayah ini. faktor ekonomi dan perkawinan menjadi yang paling dominan.

Kebanyakan dari mereka mencoba peruntungan ekonomi dengan menjajaki pulau-pulau diluar daftar pembuangan tahun 1881, dan disana pula mereka menikah dan berketurunan, salah satunya di Pulau Bacan,” katanya.

Selain itu menurutnya, ada beberapa faktor utama yang menjadi alasan perpindahan Zuriat keturunan Palembang di Pulau Bacan yaitu masalah perekonomian, rata-rata mereka yang ada di Bacan ini berkerabat dengan zuriat Palembang di Ternate, kebanyakan pindah karena mencari lapangan pekerjaan, atau mutasi jika dia pegawai.

“Mayoritas penduduk pulau ini adalah Nelayan, hal tersebut yang juga digeluti oleh zuriat keturunan Palembang ini lalu lantaran perkawinan menjadi acuan lain mengapa terjadi perpindahan, perkawinan dengan penduduk Bacan menjadikan mereka tinggal lebih lama atau mungkin selamanya dan melepaskan diri bayang-bayang gelar kebangsawanan yang dimusuhi pemerintah Kolonial,” katanya.

Dilanjutkan Farida, sebenarnya selain Pulau Bacan, rata-rata hampir seluruh pulau besar dan kecil di kepulauan Maluku telah didiami oleh orang Palembang, diluar wilayah yang masuk daftar pembuangan. Tempat atau pulau-pulau tersebut adalah: Pulau Buru, Pulau Sanana, Pulau Halmahera, Pulau Morotai, Kaimana (Papua), dan pulau-pulau lainnya.

Sayang, karena medan yang terlalu sulit dan cuaca yang kurang baik, maka keterangan mengenai orang-orang ini hanya bisa didapatkan dari kerabatnya di wilayah-wilayah yang jadi fokus utama penelitian.

Sedangkan, pihaknya melakukan fokus utama dalam menelusuri secara langsung jejak-jejak kehidupan masyarakat Palembang di wilayah Maluku, berikutnya dengan budaya-budaya Palembang yang tersisa.

“Interview yang emosional dan cukup mendalam menjadi sumber utama dalam bahasan ini. mengingat kerinduan orang-orang ini mengenai Palembang. Secara garis masing-masing pulau memiliki karakteristik yang berbeda perihal masalah ingatan mengenai Palembang. Secara garis besar beberapa budaya Palembang masih sedikit terpakai disana misalnya saja penggilan anggota keluarga tertentu seperti yai dan nyai, mang, cek, dll,” katanya.

Sedangkan tradisi kuliner seperti, istilah dabu-dabu Palembang, Amplang (Bacan), Gagodo/godo-godo (Ambon). Dalam masalah buah pun di Pulau Bacan ada buah yang menarik yaitu “Duku Bacan”.

Baca:  Makam Sultan Muhammad Mansyur, Tidak Ada Penerangan

Sedangkan penggunaan gelar juga masih dilakukan pada generasi yang sekarang, walaupun ada beberapa keluarga yang mulai menanggalkannya entah karena aspek perkawinan ataupun ketidaktahuan dari gelar itu sendiri.

Sedangkan untuk kharakteristik dari masyarakat Palembang di 3 wilayah penelitian itu menurutnya cukup berbeda.

“Di Pulau Ternate dan Ambon, rata-rata informan dan juga masyarakat Palembang disana telah mengenyam sekolah yang cukup tinggi. bahkan untuk di wilayah Ambon ada nama keluarga Palembang, dengan “Farm” Hasannusi yang menjadi elit politik di wilayah tersebut. kecenderungan pendidikan yang tinggi membuat kesadaran akan budaya dan asal mereka menjadi cukup tinggi. dalam tradisi keluarga Hasannusi masih menggunakan beberapa Palembang salah satunya masalah busana pernikahan,” katanya.

Namun , berbeda dengan pulau-pulau tersebut, untuk wilayah Bacaan, rata-rata pekerjaan para zuriat ini menengah kebawah seperti nelayan dan buruh bangunan.
Walaupun secara ekonomi mereka digolongkan menengah kebawah, namun keluarga-keluarga Palembang di Pulau Bacan ini, dianggap sebagai orang-orang terpandang dan terhormat.

“Ini karena mayoritas dari mereka menikah dengan ningrat Kesultanan Bacan. Salah satu yang paling terkenal adalah R.A Aini Khadijah yang menikah dengan Sultan Usman Sadik, Sultan terkenal Bacan, dan Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Umar Assegaf (Cucu SMB II) menikah pula dengan salah satu anak sultan Bacan,” katanya.

Namun lewat pernikahan inilah lama kelamaan, budaya Palembang mulai luntur di wilayah Bacan.

“Jadi, Diaspora yang terjadi pada keturunan ini cukup unik yang memunculkan bentuk dan polanya tersendiri, dari motif Politik, motif Ekonomi, faktor ekonomi menjadi dominan yang menyebabkan mereka pindah ke pulau-pulau lainnya,” katanya.
Selain itu menurutnya, ingatan kolektif cukup lemah dikalangan tertentu namun cukup terawat di golongan lainnya karena pengaruh pendidikan.

Sedangkan pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan dalam FGD tersebut melihat sosok Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang adalah sosok yang hebat , karena hebatnya diasingkan sangat jauh dibandingkan dengan pahlawan lain di Indonesia.

“Artinya beliau ini sangat hebat dan pintar sehingga harus diasingkan sangat jauh dibandingkan yang lain seperti Pangeran Dipenegoro dan Cut Nyak Dhien,” katanya.

Apalagi dia, melihat sosok Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang adalah sosok yang memang dari awal membenci penjajahan Belanda di Palembang dan melakukan perlawanan terhadap Belanda sehingga harus diasingkan ke Ternate.#osk

 

x

Jangan Lewatkan

12 Teroris Berencana Serang Kantor Polisi di Sumsel

Palembang, BP–Sebanyak 12 terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 Antiteror pada Minggu (10/12) lalu masih menjalani pemeriksaan di Mako ...