Home / Budaya / Kisah Hj Anna Kumari yang Terus Lestarikan Tradisi Rebu Kasan di Kota Palembang

Kisah Hj Anna Kumari yang Terus Lestarikan Tradisi Rebu Kasan di Kota Palembang

Suasana Hj Anna Kumari dan warga saat akan menggelar shalat sunat safar di Masjid Ceng Ho, Jakabaring, Palembang, Rabu (15/11).

Palembang, BP — Kota Palembang dengan sejarah gemilangnya yang panjang pada masa lampaunya yaitu pada masa kebesaran Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam yang merupakan warisan budaya yang mempunyai arti tinggi , salah satu kebesaran kedua masa tersebut berupa adat istiadat, sayang karena perkembangan zaman banyak tradisi dan adat istiadat tersebut yang sudah hampir menghilang bahkan nyaris punah karena tidak pernah dilaksanakan dan dilestarikan lagi oleh masyarakat setempat, tradisi tersebut diantaranya Rebu Kasan atau tradisi yang berisi rangkaian shalat sunat safar, bekela, mandi safar yang hanya dilaksanakan pada hari rabu terakhir pada bulan safar.

Dimana tujuannya untuk menolak bala atau malapetaka dengan cara melakukan shalat sunat di masjid, masjid, mushola, langgar atau surau sekaligus berdoa memohon perlindungan dari Allah SWT.

Bagi orang Palembang yang menyakini bulan safar merupakan bulan naas, bulan penuh cobaan dari Allah SWT tidak akan melakukan upacara perkawinan, khitanan, syukuran, pindah rumah dan lain-lain.

Salah satu warga Palembang yang merupakan pelestari budaya Palembang Darussalam , Hj Anna Kumari terus melaksanakan tradisi Rebu Kasan tersebut walaupun dengan menggunakan dana sendiri.

Seperti yang dilakukan Anna Kumari bersama keluarga, warga seberang Ulu dan kota Palembang yang melakukan shalat sunat safar di masjid Ceng Ho, Jakabaring, Palembang. Rabu (15/11).
Kemudian di lanjutkan dengan , tradisi bekelah. Tradisi ini berkumpul di pinggir sungai dengan membawa makanan dan alat music dan terakhir mandi safar.

“Siang ini, kami melaksanakan Bekelah. Bawa makanan untuk makan bersama disini. Terus bawak alat musik, untuk tarian dan bersenang-senang,” kata Hj Anna Kumari, maestro tari Sumsel yang setiap tahun mengadakan tradisi ini.
Menurut Anna Kumari, dibulan safar yang banyak musibah yang didatangkan oleh Allah SWT.
“Kita sudah lihat dimana-mana ada banjir, kebakaran, yang sakit, ada tanah longsor dan macam –macam musibah yang datang bulan safar, karena itulah kami ada tradisi shalat sunat safar empat rakaat dan tidak berimam , jadi acara ini sudah hampir punah dan saya berusaha untuk menghidupkan kembali yang telah hampir punah ini ,” kata Hj Anna Kumari saat ditemui di Masjid Ceng Ho, Rabu (15/11).
Menurut wanita kelahiran Palembang, 10 November 1945 ini , rangkaian kegiatan Rebu Kasan tersebut dimulai dengan shalat sunat safar dengan membaca doa tolak balak dan baca yasin dan sebagainya dilanjutkan dengan bekelah ditepi sungai, danau atau ditempat yang sepi sambil makan-makan.

Baca:  Keturunan SMB II Di Ternate Memendam Rindu Ingin Pulang Ke Palembang

Sengaja pihaknya, melakukan shalat sunat safar di Masjid Ceng Ho Jakabaring ini karena Masjid Ceng Ho belum pernah diadakan tradisi ini sehingga pihaknya meminta pengurus Masjid Ceng Ho ini agar dilaksanakan shalat sunat safar.

“Hari ini di masjid dan langgar lain di kota Palembang banyak melaksanakan shalat sunat safar, misalnya masjid Ishah 14 Ulu, tadi pagi jam setengah tujuh tadi, masjid Sukolilah semalam, waktunya itu mulai habis Magrib hingga pagi ini ,” kata Pengelola Rumah Budaya Nusantara Dayang Merindu ini .

Baca:  Kepahlawanan Pangeran Sido ing Rejek Perlu Diangkat Kepermukaan

Setelah itu, dilanjutkan dengan bekelah atau makam bersama dan bergembira dan mengucapkan syukur kepada tuhan karena diberikan rahmat.

berpoto bersama usai bekela, Rabu (15/11)

“Kita makan-makan di tepi danau Jakabaring, “ katanya.
Dan terakhir adalah mandi safar tapi saat ini susah dilaksanakan , karena tempat mandinya susah saat ini karena sungai-sungai di Palembang sudah kering dan kotor.

“Kadang bawa air sendiri seperti dari shalat sunat safar tadi bawa air lalu di minum , habis shalat safar dan dimandikan atau membersihkan diri, “ kata peraih Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1993), Penghargaan Perkumpulan seni Singapura (1991),
Penghargaan seni dari Gubernur Sumatera Selatan (2001), Panghargaan Kebudayaan Kategori Pelestari (2015)

Anna menyayangkan, tradisi ini hampir punah dan sebagian masyarakat Palembang tidak tahu dengan tradisi ini .

“Jadi maksud saya mengadakan kegiatan ini setiap tahun mulai beberapa tahun lalu , agar masyarakat tahu , anak muda sekarang tidak tahu apa itu Rebu Kasan, enggak ngerti, jadi tujuan saya untuk memperkenalkan kepada mereka yang belum tahu , memberitahukan, kita angkat kembali tradisi yang hampir punah ini, karena ada hubungannya dengan agama,” katanya.

Anna mengaku, berusaha sekuat tenaga dengan keluarganya untuk tetap dan terus melestarikan tradisi ini dengan dana sendiri.

“ Umur saya sudah di ujung senja tapi saya masih mau berbuat mengangkat tradisi yang hampir punah ini,” kata pencipta Tari Tepak Keraton tahun 1966 .

Baca:  Berkibarnya Bendera Rod, Wit, En Blau Di Bastion Kuto Besak

Anna berharap, agar agar tradisi Rebu Kasan dapat dilestarikan di kota Palembang dan berharap pemerintah dalam melestarikan tradisi ini agar bisa lestari di kota Palembang.

Malahan menurut Anna, tradisi ini harusnya dapat menjadi agenda wisata di kota Palembang yang bisa menarik wisatawan baik dari dalam dan luar negara sendiri.

Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang Isnaini Madani berpoto bersama usai mengikuti bekela di danau Jakabaring, Palembang, Rabu (15/11).

Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang Isnaini Madani yang juga mengikuti tradisi Rebu Kasan di danau Jakabaring, mengapreasi kegiatan Rebu Kasan tersebut, menurutnya tradisi tersebut layak diangkat dan dilestarikan dan dia berusaha akan menjadikan tradisi rebu kasan ini menjadi agenda pariwisata kota Palembang.

Sedangkan salah satu warga yang mengikuti tradisi Rebu Kasan , Agung Purnama Putra mengatakan, tradisi Rebu Kasan ini sudah langka di kota Palembang , karena generasi muda sekarang kurang dengan tradisi ini dan alangkah baiknya , kalau tradisi ini rutin dilaksanakan.

Tradisi bekela yaitu makan-makan dan hiburan usai melaksanakan shalat sunat safar di pinggir danau Jakabaring, Palembang, Rabu (15/11). Nampak warga negara asing ikut menari diringi musik tradisional Palembang.

“Kalau saya pribadi baru tahu hari ini tradisi rebu kasan, “ katanya.

Hal senada dikemukakan warga yang mengikuti tradisi rebu kasan, Dian mengaku, baru tahu tradisi rebu kasan ini ,” Ini kami diundang langsung oleh panitianya, acara ini berguna dan bernuansa Islami untuk kita menghindari malapetaka, bala dan rasa syukur kita kepada Allah SWT mengingat kita harus berhati-hati banyak diluar yang tidak terduga terjadi, kita harus mendekatkan diri pada tuhan,” katanya.

Dan tradisi ini menjadi budaya yang sering dilakukan namun sayang anak muda kota Palembang kurang tahu tradisi ini.

”Alangkah baiknya kalau tradisi ini rutin dilaksanakan dan diperkenalkan oleh anak-anak muda agar tidak punah dan ini bisa menjadi tradisi wisata kota Palembang dan menjadi ciri khan kota Palembang,” katanya.#osk

x

Jangan Lewatkan

Alex Noerdin Melaunching Program S2C

Palembang, BP—Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin resmi melaunching program Sumsel Smart and Care (S2C). S2C merupakan inovasi proyek perubahan ...