Home / Headline / Kisah Tragis Sang Arsitek Pasar Cinde

Kisah Tragis Sang Arsitek Pasar Cinde

Herman Thomas Karsten

Kisah Tragis Sang Arsitek Pasar Cinde

Gaya bangunan yang dibuat oleh Karsten adalah kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan menghargai nilai kemanusiaan. Dia tidak pernah melupakan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah, sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda masa itu, salah satu bangunan yang menggunakan konsep Karsten adalah Pasar Cinde
Karsten sempat mengkritik banyak arsitek Belanda sebelumnya yang lebih berkonsep “menaruh Eropa di Jawa”. Bagi Karsten, Jawa adalah Jawa, bukan Belanda.
Karsten menganggap kota sebagai suatu organisme hidup yang terus bertumbuh. Dalam rencana pengembangan kota, Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka, dua hal yang tampaknya saat ini mulai terabaikan. Akibat filosofi ini muncullah gaya arsitektur ‘Indisch’ yang populer pada masa pra-kemerdekaan.
Sayang Karsten akhirnya tutup usia di Kamp Interniran Jepang di Cimahi pada tahun 1945.

Namanya Herman Thomas Karsten , lahir di Amsterdam, Belanda, 22 April 1884 dan meninggal dunia di Cimahi, Indonesia, tahun 1945, adalah arsitek dan perencana wilayah pemukiman dari Hindia Belanda.
Ia adalah putra seorang profesor Filsafat dan Wakil Ketua Chancellor (“Pembantu Rektor”) di Universitas Amsterdam, sedangkan ibunya adalah seorang kelahiran Jawa Tengah.
Gelar arsitek diperolehnya dari Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool) di Delft, Belanda, dan lulus tahun 1908.

Enam tahun kemudian dia berangkat ke Hindia Belanda atas ajakan seniornya, Henri Maclaine Pont, yang memiliki Biro Arsitektur.

Pasar Johar, Semarang tahun 1938 dan 1942

Dalam kariernya inilah ia menjadi perencana dan penasihat beberapa proyek bangunan publik di beberapa kota yang kala itu mulai berkembang akibat membaiknya perekonomian, antara lain Batavia (Jakarta), Meester Cornelis (Jatinegara) Bandung, Buitenzorg (Bogor), Semarang (Pasar Johar), Surakarta (Pasar Gede Harjonagoro dan stasiun Solo Balapan), Malang, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan, Banjarmasin, dan bahkan sampai merancang perumahan murah di bagian barat daya Kota Magelang, yaitu Kwarasan.
Pada tahun 1921 Karsten menikah dengan Soembinah Mangunredjo dan mempunyai empat anak, masing-masing Regina (1924), Simon (1926), Joris (1928), dan Barta (1929). Dia juga bergabung dalam Instituut de Java, sebuah perkumpulan yang peduli terhadap budaya Jawa.
Sejak tanggal 1 September 1941 Ir. Thomas Karsten diangkat sebagai staf pengajar untuk Planologi di Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung – yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB) dengan jabatan lektor luar biasa (buitengewoon lector).[1] Arsitek generasi pertama Indonesia banyak yang merupakan muridnya.
Secara politis, Karsten adalah orang pro-kemerdekaan, suatu sikap yang hanya diambil oleh sebagian kecil kalangan keturunan Eropa (Indo) pada masanya.
Malangnya, ia ditangkap oleh tentara pendudukan Jepang pada tahun 1942 sampai ia meninggal di Kamp Interniran Cimahi pada tahun 1945.  Cita-citanya untuk meninggal di bumi Indonesia tercapai walau harus dalam situasi yang tragis.

Baca:  Pedagang Kembang Api Bermunculan

Kisah Sedih Pasar Cinde

Pasar Cinde, Palembang

Pasar Cinde dibangun antara tahun 1957-1958 pada masa pemerintahan Walikota Ali Amin, dengan kepala dinas Pekerjaan Umum adalah Nang Uning A. Karin.
Arsitek Pasar Cinde adalah Abikusno Tjokrosuyoso lahir pada tanggal 16 Juni 1897 di Ponorogo. Ia merupakan ahli bangunan (arsitek), juga tokoh PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), serta pejuang kemerdekaan Indonesia. (Sumber : http://www.kompasiana.com/rumaharkeologi/pelestarian-pasar-cinde-sebagai-cagar- budaya_57b9a9136c7e612014d3b31f) dibantu oleh RM. Sumardjo, pelaksana konstruksi oleh H. Safidin Djagur.
Abikusno pernah menjadi asisten Thomas Karsten. Letak pasar Cinde yang demikian strategis (berada di poros dan pusat kota) membuat keberadaan
Kini Pasar ini menjadi ‘terancam’. Pemusnahan/revitalisasi/modernisasi pasar Cinde telah terjadi sejak tahun 2000an, dan puncaknya tahun 2014 pemerintah provinsi Sumatera Selatan merencanakan modernisasi’ Pasar Cinde (sumber http://palpres.com/2016/10/04/revitalisasi-pasar-cinde-tetap- lanjut/). Sistem pembangunan dilaksanakan dengan sistem BOT ( building operate transfer ) dan proses pembangunan dimulai tahun 2017.
Pasar Cinde yang dimodernkan akan dibangun sebanyak 12 lantai dengan fungsi pusat perdagangan dan perkantoran, rinciannya 6 lantai untuk retail (pada lantai 1 dan 2 di khususkan untuk pedagang lama); pada 3 lantai berikutnya akan difungsikan sebagai area parkir; 3 lantai teratas akan digunakan sebagai perkantoran. Pengembang yang akan melakukan adalah PT. Aldiron, sehingga nama pasar ini berubah menjadi Plaza Cinde Aldiron (http://beritapagi.co.id/2015/09/07/revitalisasi-pasar-cinde-jadi-pasar-modern-molor.html). Dengan dasar berita dan rencana pengembangan / modernisasi Pacar Cinde inilah, beberapa komunitas bergerak dalam upaya menyelamatkan keberadaan Pasar Cinde Nilai Kesejarahan Pasar Cinde .
Setidaknya, ada empat hal yang membuat Pasar Cinde berbeda, untuk tidak dikatakan istimewa. Pertama, arsitektur pasar yang dilengkapi dengan tiang-tiang yang ujungnya terdapat kolom cendawan.
“Itu adalah buah ide arsitek zaman dulu, (saat) Thomas Karsten mengembangkan konsep kolom cendawan,” kata arsitek sekaligus pemerhati bangunan heritage, Anta  Sastika beberapa waktu lalu.
Kedua, tak hanya sekadar berfungsi sebagai pasar, Pasar Cinde merupakan tempat berkumpulnya seluruh kebudayaan yang ada di Palembang.
Anta menyebut, hampir seluruh etnis yang ada di kota tersebut bisa ditemui di Pasar Cinde, seperti China, Arab, Palembang, hingga Jawa.
Bila pada zaman dahulu, mereka secara eksklusif membentuk kelompok-kelompok, namun kini lebih berbaur.
“Nah di Pasar Cinde itu jadi satu, tidak ada pemisahan,” ujarnya.
Dari kajian sosiologis, Wakil Ketua IAI Sumsel ini menambahkan, seluruh orang Palembang akan merujuk ke Pasar Cinde bila berbicara atau ditanya orang lain terkait pasar yang khas di Ibu Kota Sumatera Selatan itu.
Terakhir, Pasar Cinde dikelilingi obyek situs sejarah Kota Palembang, yaitu kompleks pemakaman sultan pertama Palembang, Sultan Abd ar-Rahman yang berkuasa sejak tahun 1662-1702.
Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang Retno Purwanti bahkan menyebut, Pasar Cinde tak hanya layak disebut sebagai cagar budaya melainkan kawasan cagar budaya.
“Sejarah Kawasan Cinde dalam kearkeologian lebih dikenal sebagai lokasi kompleks pemakaman sultan pertama Palembang, yang dalam naskah-naskah kuno dikenal juga dengan nama Susuhunan Cinde Welan atau Cinde Balang atau Sultan Abd ar-Rahman yang berkuasa sejak tahun 1662-1702,” kata Retno.
Lokasi pemakaman terletak di sebelah barat Jalan Jenderal Sudirman Palembang, berjarak sekitar 100 meter atau tepat di belakang pasar Cinde.
Di dalam kompleks makam ini dimakamkan Susuhunan Abd ar-Rahman Khalifat al-Mukminin Sayyid al-Iman dan permaisurinya serta Imam Sultan, yaitu Sayid Mustafa Alaidrus dari Yaman.
Retno menyebut, makam-makam yang ada di dalam kompleks tersebut menggunakan nisan dengan tipe Demak-Tralaya untuk makam sultan dan permaisuri, sedangkan makam ulama menggunakan nisan tipe Aceh.
Selain itu, di sekitar makam juga ditemukan pecahan-pecahan keramik dari masa Dinasti Ming dan Qing dari abad ke-16-18 Masehi.
Di samping juga ditemukan bata-bata kuno, yang mengindikasikan bahwa lokasi pemakaman ini berdiri di atas bangunan lama, yang diduga bangunan candi.#osk/berbagai sumber

x

Jangan Lewatkan

Polda Endus Ladang Ganja Lain

Palembang, BP–Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel memusnahkan 335 butir ekstasi dan 86,34 gram sabu hasil ungkap dua perkara dengan tiga ...