Home / Budaya / Kemas Said, Ulama Pejuang yang Syahid di Perang Palembang 1819

Kemas Said, Ulama Pejuang yang Syahid di Perang Palembang 1819

Oleh: Kms H Andi Syarifuddin

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa2 pahlawannya.”
Salah satu pertempuran yg paling dahsyat buat Palembang adalah perang dalam tahu 1819 melawan Belanda, yang juga dikenal sebagai Perang Menteng.

Merupakan perang laut di perairan Sungai Musi yang terbesar di Nusantara. Perang tersebut banyak menelan korban, dan korban terbanyak adalah jatuh dari pihak Belanda.

Dengan demikian peperangan ini dimenangkan Kesultanan Palembang, suatu kemenangan yang gemilang dalam sejarah Palembang dan rakyatnya. Mereka pantas mendapatkan penghargaan.

Salah satu tokoh yang berjasa dan mempunyai andil besar dalam peristiwa perang tersebut ialah Kemas Said.

Nama lengkapnya adalah Kemas Said bin Kms.H. Ahmad bin Kms. Abdullah bin Kms. Nuruddin bin Panembahan Palembang Kms. Syahid bin Sunan Kudus.

Ia dilahirkan di lingkungan Keraton Palembang oleh ibunya dalam tahun 1770. Putera ke 4 dari 5 bersaudara, mereka adalah: Kemas Muhammad Alim (mertua SMB II), Kms. Abdullah, Nyimas Aisyah, Kms.M. Said, dan Kms. Tambi. Sedang kakaknya, Kemas Muhammad Alim, menjadi mertua Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin Ternate. Karena keponakannya, Nyimas Zubaidah Masayu Ratu bt Kms.Muhammad Alim menjadi isteri SMB ll.

Baca:  Mahasiswa Unsri Kagumi Koleksi Museum AK Gani

Pendidikan awal Kms.Said didapat dari ayahnya sendiri Syekh Kms Ahmad, seorang murid langsung dan khalifah Syekh Muhammad Samman al-Madani. Kemudian ia belajar pula kepada para ulama besar Palembang di antaranya: Syekh Abdus Somad al-Palembani, Sayid Abdurrahman, Syekh Muhyiddin bin Syihabuddin, dll.

Kepada Syekh Abdus Somad juga ia menerima ijazah Tarekat Sammaniyah di Makkah. Sahabatnya pada waktu itu ialah Syekh Muhammad Akib, Syekh Haji Zen, Haji Lanang, dll.

Sekembalinya dari tanah suci, ia didudukkan oleh Sultan Mahmud Badaruddin di lingkungan istana, dan diangkat menjadi wakil Panglima Laskas jihad. Ia gugur dalam Perang Palembang.

Baca:  Misteri Kudeta Kekuasaan Wangsa Syailendra, dan bangkitnya Trah Keluarga Dapunta Hyang?

Pagi Sabtu, 18 Sya’ban 1234H (12 Juli 1819) Kemas Said dan Haji Zen selaku wakil dan komandan laskar jihad Kesultanan Palembang Darussalam menerima kehadiran utusan sultan di kediaman masing-masing membawa perintah sultan. Sultan meminta mereka untuk segera menghadap ke keraton Kuto Besak.

Lalu pada saat itu juga mereka bergegas menuju keraton menghadap sultan. Baginda kemudian menginstruksikan agar mengumpulkan seluruh menteri, priayi, pangeran, para ulama sufi, rakyat serta para haji utk berjihad fi sabilillah dengan terlebih dahulu melakukan ritual zikir Ratib Samman. Dari sinilah kemudian memacu perang secara terbuka.

Dengan teriakan Allahu Akbar! Kemas Said dan pasukannya dengan gagah perkasa menyerang pasukan Belanda di Kuto Lamo. Serangan balasanpun dengan sengit dilakukan oleh pihak musuh. Kemas Said dan kedua sahabatnya, Haji Zen dan Haji Lanang, dikepung serta dihujani tembakan-tembakan.

Baca:  Kisah Detik-detik Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang

Bertubi-tubi peluru datang menghantam tubuh mereka. Ketiga serangkai ini kemudian roboh bersimbah darah dan gugur sebagai syuhada.

Perjuangan heroik Kemas Said ini diabadikan dalam bait Syair Perang Palembang 1819 sebagai berikut:
(51)
Semuanya tidak diperkenankan
Kemas Said yang disuruhkan
Holanda dan Ambon disuruh binasakan
Suatu lagi jangan ditinggalkan

(93)
Kemas Said keluar menyerbu
Amat gembira di dalam kalbu
Mati sepuluh baris seribu
Dekat pintu Kemas nan rubuh

(94)
Datanglah satu opsir mendekati
Membedil Kemas berpasti-pasti
Pelurunya datang menuju hati
di sanalah Kemas tempatnya mati
….
Dari perjuangan, keberanian, dan sikap heroiknya, Kemas Said pantas memperoleh predikat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

 

 

x

Jangan Lewatkan

Polda Endus Ladang Ganja Lain

Palembang, BP–Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel memusnahkan 335 butir ekstasi dan 86,34 gram sabu hasil ungkap dua perkara dengan tiga ...