Home / Budaya / Huruf Arab-Melayu Di Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

Huruf Arab-Melayu Di Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

1. Uang logam zaman Kesultanan Palembang Darussalam.
2. Uang logam zaman kolonial Belanda (1850an – 1945).
3. Uang RI tahun 1951 (5 sen), 1952 (1 sen), 1954 (10 sen).
Dalam foto ini terlihat jelas tulisan huruf Arab-Melayu dalam uang logam.

Palembang, BP — Dulu sebelum masyarakat kita mengenal huruf latin, seluruh aktivitas kegiatan kesehariannya dicatat dan ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu/Jawi dalam berbagai aspek. Baik itu berupa inskripsi (seperti tulisan pada: koin, cap, meriam, nisan, dll) maupun manuskrip atau naskah (seperti: surat, kitab, catatan, piagam, undangan, dan lain-lain). Mereka dikenal sangat agamis, inkulturasi yang telah menjadi identitas diri serta refleksi kecintaan terhadap bahasa Melayu/Jawi itu sendiri.

Baca:  Lampu Stolp, Barang Mewah Pada Waktu Itu

Menurut pengamat sejarah kota Palembang, Kms.H.Andi Syarifuddin , Salah satu aspek terpenting dalam penggunaan huruf Arab-Melayu adalah dalam bidang ekonomi atau keuangan.

“Seluruh daerah di tanah air, dahulu memproduksi mata uang masing-masing sebagai alat pembayaran yang sah. Di zaman Kerajaan Islam Palembang, kesultanan telah memproduksi dan mengedarkan sendiri mata uang lokal dalam bentuk koin/uang logam yang dikenal dengan sebutan redano “pitis”,” katanya, Kamis (9/11).

Baca:  Kemas Said, Ulama Pejuang yang Syahid di Perang Palembang 1819

Uniknya menurut Andi, koin ini beraksara Arab-Melayu dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mata uang Kesultanan Palembang terakhir di produksi sekitar tahun 1253H atau 1837.

“Pada masa kolonial Belanda, mereka menerbitkan koin mata uang Rupiah Nederlandsch Indie dengan berbagai ukuran dan nilai nominal yang berbeda-beda,” katanya.

Istimewanya, koin ini pun masih menggunakan huruf Arab-Melayu. “Sebagai contoh lihat koleksi saya yang bertarikh 1850an hingga tahun 1945,” katanya.

Baca:  Tiga Makam Bersejarah di Kota Palembang Segera Diperbaiki

Sedangkan di zaman kemerdekaan, yang lebih membanggakan uang logam Negara RI pada waktu itu juga bertuliskan aksara Arab-Melayu hingga akhir era 1950an.

“Ironisnya, sekarang pemakaian huruf Arab-Melayu tersebut tidak terlihat lagi,” ujarnya. #osk

 

x

Jangan Lewatkan

Ketika Ibu-Ibu Datangi Kantor Kejati Sumsel, Soroti Tender Proyek LPSE

Palembang, BP Puluhan orang yang tergabung dalam Masyarakat Miskin Kota (MMK) Sumatera Selatan (Sumsel) yang kebanyakan ibu-ibu yang berprofesi sebagai ...