Home / Budaya / Re-Aktualisasi “Wayang Palembang” Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter

Re-Aktualisasi “Wayang Palembang” Sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Karakter

DR. ENDANG ROCHMIATUN.M.Hum

Dosen Sejarah Dan Kebudayaan Islam
Fakultas Adab Dan Humaniora
UIN Raden Fatah Palembang
endang_dbj@yahoo.com

 

Kesenian tradisional merupakan warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya dan perlu dipelihara serta dilestarikan. Palembang dikenal cukup luas dan kaya akan seni budayanya, dan salah satu seni budaya yang ada adalah berupa “Wayang Palembang”.

Wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional di Indonesia, yakni sebuah seni pertunjukan dengan media suatu gambar atau tiruan orang (boneka) yang terbuat dari kulit maupun kayu. Wayang sebagai karya seni jelas mengandung nilai-nilai budaya yang universal. Hal tersebut dikarenakan wayang berbicara tentang kehidupan manusia pada umumnya.

Apabila dilihat dari peran tokoh-tokoh maupun isi ceritanya, cerita wayang merupakan saduran dari kisah Mahabarata dan Ramayana dari India. Dalam perkembangannya, bentuk kesenian wayang ini pernah dijadikan sebagai alat dakwah oleh para Wali Songo di Jawa dengan tujuan agar ajaran Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat.

Wayang dapat juga dikatakan sebagai media komunikasi karena merupakan jenis kesenian yang bersifat audiovisual yang mana antara penonton dan dalang yang memainkannya akan terjadi kontak komunikasi secara langsung sehingga dapat menciptakan wahana yang dapat mempererat silaturrahmi sesama masyarakat.

Wayang dapat juga dikatakan sebagai media komunikasi yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, karena wayang memiliki beberapa unsur nilai-nilai yang diperankannya. Adapun unsur nilai-nilai tersebut diantaranya adalah : Unsur nilai hiburan, nilai seni, nilai pendidikan dan penerangan, nilai pengetahuan, nilai rokhani, musik dan simbolik.

Kesenian wayang dikenal di berbagai daerah di Indonesia (baik yang telah punah maupun yang masih dilestarikan), salah satunya adalah Palembang. Meskipun belum diketahui secara jelas sejak kapan dan dari mana asal “wayang Palembang”, namun yang jelas berdasarkan beberapa peninggalan yang masih bisa dijumpai (salah satu contoh adalah naskah cerita wayang) keberadaan wayang Palembang sepertinya pernah eksis pada masa lalu (termasuk pada Masa Kesultanan Palembang).

Naskah-naskah cerita wayang Palembang diantaranya tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), Museum Balaputara Dewa, maupun pada beberapa masyarakat penyimpan naskah di Palembang. Selain naskah, dapat diketahui beberapa peninggalan berupa peralatan wayang juga tersimpan oleh pewaris atau keturunan dari seorang dalang Palembang.

Baca:  Selamatkan Wayang Palembang

Beberapa sumber menyebutkan bahwa wayang Palembang hampir sama seperti halnya wayang kulit di Jawa, sehingga dapat diduga bahwa wayang Palembang berasal dari Jawa. Perbedaan yang ada salah satunya adalah dalam penyampaiannya oleh seorang dalang dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang.

Keberadaan wayang Palembang menunjukkan adanya pertemuan atau kontak budaya yang akhirnya menciptakan akulturasi maupun sinkretisasi budaya, sehingga budaya translokal yang berbaur dengan budaya lokal pun dapat terjelma dalam sebuah seni wayang.

Pada saat ini sepertinya era wayang Palembang dapat dikatakan sudah tenggelam atau hampir punah. Hal ini sangat memprihatinkan sebab seni wayang merupakan salah satu kekayaan seni tradisional sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan.

Selintas Sejarah Keberadaan Wayang Palembang
Mengenai sejak kapan keberadaan wayang Palembang, sampai saat ini belum banyak diketemukan sumber yang menyebutkan secara pasti sehubungan dengan hal tersebut. Namun demikian ada salah satu sumber menyebutkan bahwa pada masa Ario Damar (Ariodillah) berkuasa di Palembang (1455-1486M), pada saat itu di sana telah ada seperangkat alat-alat dalam pertunjukan wayang maupun seorang “Dalang”. Informasi tersebut memberi petunjuk bahwa sejak masa Palembang di Bawah protektorat dari Kerajaan Majapahid di Jawa, dan sebagai Adipati pada saat itu adalah Ario Damar (setelah masuk Islam bernama Ario Dillah atau Ario Abdillah) keberadaan wayang telah ada di Palembang.

Sumber lainnya menyebutkan bahwa keberadaan wayang di Palembang adalah seiring dengan keberadaan terbentuknya Keraton di Palembang oleh Elit Jawa. Wayang Palembang terus berkembang pada masyarakat Palembang, hal tersebut terbukti bahwa pada tahun 1943 pementasan wayang Palembang di gelar di daerah Seberang Ulu (Kertapati). Selain itu, informasi lainnya menyebutkan bahwa pagelaran Wayang Palembang pernah di tayangkan di TVRI Palembang.

Terlepas dari beberapa sumber di atas mengenai mana yang paling benar, banyak bukti menunjukkan bahwa seni wayang yang ceritanya berasal/bersumber dari adanya tradisi tulis yang menghasilkan karya sastra, berupa naskah-naskah cerita wayang, pernah eksis pada masa lalu di Palembang, termasuk pada masa Kesultanan Palembang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seni wayang yang berasal dari Jawa dimungkinkan yang melahirkan keberadaan seni

“Wayang Palembang”. Fenomena tersebut dapat dipahami dengan paradigma “akulturasi”. Menurut Herskovits dkk. Akulturasi didefinisikan sebagai :
“Acculturation comprehends those phenomena which result when groups of individuals having different cultures come into continous first-hand contact, with subsequent changes in the original cultural patterns of either on both groups”.

Baca:  Semarak Wayang Pesona Indonesia di Parkir Timur

Dapat dikatakan bahwa kontak melahirkan proses peniruan, penyatuan, pengubahan berbagai macam unsur kebudayaan yang datang dari luar dengan unsur-unsur kebudayaan yang telah ada dalam masyarakat penerimanya. Seperti diketahui, “Wayang Palembang” adalah wayang kulit seperti halnya di Jawa, namun dalam hal pemakaian bahasa oleh seorang “dalang” dalam pementasan cerita memakai bahasa Melayu Palembang. Selain itu terdapatnya tokoh-tokoh pewayangan yang diberi gelar sepertihalnya gelar yang ada di Palembang seperti “ Mas Agus Petruk”, “Mas Agus Gareng” dan sebagainya.

Sekilas Cerita Wayang Palembang (Dalam Manuskrip Kuno)
Berdasarkan beberapa referensi yang ada dapat diketahui bahwa cerita wayang Palembang terbagi atas dua jenis yaitu yang tertulis dalam aksara Jawa dan aksara Arab-Melayu. Di Museum Balaputra Dewa tersimpan satu naskah wayang beraksara Jawa yang berjudul Parta Krama. Dalam teks tersebut dikisahkan tentang perkawinan antara Arjuna dengan Dewi Supraba dari kayangan.

Naskah cerita wayang Palembang yang beraksara Arab Melayu dapat di jumpai di Perpustakaan Nasional RI bernomor ML 235 . Naskah ini tidak berjudul dan berisi tiga teks. Teks pertama adalah cerita wayang yang berjudul Bambang To’ Seno. Teks kedua adalah syair yang berjudul Syair Sarikat Islam, dan teks ketiga adalah cerita wayang yang berjudul Bambang Gandawardaya.16

Dalam naskah tersebut tulisan pada teks terdiri dari dua macam jenis tulisan, sehingga diperkirakan penulis teks tersebut terdiri dari dua orang penulis. Halaman pertama sampai dengan halaman 30 sepertinya ditulis oleh penyalin naskah Syair Syarikat Islam, teks tersebut ditulis dengan sangat rapat sehingga kurang jelas terbaca namun demikian kelihatan rapi dan teratur. Sedangkan untuk teks pada halaman 31 sampai dengan halaman 55 sepertinya ditulis oleh penyalin teks Bambang To’ Seno dengan tulisan agak kurang teratur.

Kolofon pada teks pertama berbunyi “Tamat kepada tanggal 3 tiga bulan Jumadil awal malam Ahad jam 3 ½ adanya pada pukul tahun 1336 adanya Maka adalah yang mengarang ini yaitu Kemas Ahmad pada Kampung 3 Ulu adanya”

Baca:  Pasang Surut Wayang Orang Sam Khau Bun Gei Siah

Selain naskah-naskah yang tersimpan di Perpustakaan dan Museum, terdapat juga naskah-naskah wayang yang tersimpan oleh beberapa ahli waris pemilik naskah di Palembang. Naskah-naskah yang disimpan sebagian masyarakat Palembang diantaranya adalah : Hikayat Padawa Lima, isi teks di dalamnya adalah kisah dari Pendawa Lima.

Hikayat Jatuhnya Negeri Pendara, Cerita Wayang, Kondisi dari naskah ini sudah memprihatinkan, pada awal dan akhir teks sulit dibaca serta maksud dari teks tersebut juga sulit dipahami. Pada bagian tengah dari naskah tersebut terdapat gambar wayang yang mana dijelaskan juga didalamnya dengan tulisan Raden Arjuna dan Mas Agus Patoruk saudara Mas Agus Gareng.

Keberadaan naskah-naskah dari Palembang terutama yang bertemakan sastra pada masa Kesultanan Palembang tentunya dapat di pahami, karena Para Sultan Palembang sendiri menunjukkan perhatian dan kegemarannya terhadap kebudayaan dengan menjadi pelindung kegiatan kesusastraan. Terutama Sultan Mahmud Badaruddin II, yang dikenal juga sebagai pengarang sejumlah karya puisi.
Pada saat ini sepertinya era wayang Palembang sudah tenggelam atau punah, yang mana telah tergeser oleh salah satunya adalah dominasi seni”pop”modern yang lebih menghibur. Berbagai hajatan rakyat yang dahulunya pernah diisi oleh ruang “pagelaran wayang” saat ini telah disergap oleh pertunjukan seni lainnya. Generasi muda juga sepertinya tidak lagi berminat untuk menekuni seni tradisional wayang Palembang karena mungkin saja dianggap kurang menarik, ketinggalan zaman, tidak menjanjikan penghasilan yang layak dan sebagainya.

Di sisi lain, dari pihak pemerintah setempat dalam hal ini dinas yang terkait dengan bidang kebudayaan sepertinya juga kurang mempunyai agenda yang konkret untuk melestarikan salah satu kekayaan budaya tradisional tersebut.

Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, sebab seni “wayang” merupakan salah satu kekayaan seni tradisional yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan. Pelestarian wayang Palembang tentunya perlu dilakukan dengan melibatkan beberapa unsur diantaranya adalah Dinas Kebudayaan Palembang maupun segala unsur yang terkait lainnya. Usaha tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan mengadakan revitalisasi seni wayang Palembang dengan langkah, salah satunya adalah memberikan latihan pada kader yang mempunyai bakat dalam bidang tersebut.

 

 

x

Jangan Lewatkan

Alex Noerdin Melaunching Program S2C

Palembang, BP—Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin resmi melaunching program Sumsel Smart and Care (S2C). S2C merupakan inovasi proyek perubahan ...