Home / Budaya / Arkeolog dari Balar Palembang Teliti Komplek Pemakaman Kironggo Wiro Sentiko

Arkeolog dari Balar Palembang Teliti Komplek Pemakaman Kironggo Wiro Sentiko

Balai Arkeologi (Balar) Palembang melakukan penelitian lokasi komplek makam Kironggo Wiro Sentiko yang terletak di Jalan Talang Kerangga, Kecamatan IB II, Palembang.  Tim Balar Palembang terdiri dua orang dipimpin arkeolog senior Retno Purwati, Jumat (3/11). BP/DUDY OSKANDAR

Palembang, BP–Pihak Balai Arkeologi (Balar) Palembang melakukan penelitian lokasi komplek makam Kironggo Wiro Sentiko yang terletak di Jalan Talang Kerangga, Kecamatan IB II, Palembang. Tim Balar Palembang terdiri dua orang dipimpin arkeolog senior Retno Purwati, Jumat (3/11).

Dalam catatan sejarah, Kironggo Wira Sentiko merupakan tokoh penting di Kesultanan Palembang. Ia tidak saja alim dalam bidang agama, tetapi juga ahli dalam arsitektur bangunan sekaligus menjabat sebagai menteri kerajaan.

Nama lengkap Kironggo Wiro Sentiko adalah Kemas Kiranggo Wiro Sentiko bin Kemas Ranggo Diwangso bin Kms Ngabehi Rakso Upayo bin Kms Temenggung Yuda Pati alias Khalifah Kecik. Ia dilahirkan di Palembang pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad Mansur Kebon Gede (berkuasa 1706-1714).

Kironggo Wiro Sentiko  merupakan pendiri dan arsitek Gubah Talang Keranggo atau komplek pemakaman Kironggo Wiro Sentiko.

Di dalam komplek pemakaman tersebut pihak Balar Palembang melakukan pengukuran dan pengecekan batu-batu, makam-makam, dan bangunan yang ada di dalamnya. Kebetulan zuriat Kironggo Wiro Sentika juga tengah melakukan pembersihan lokasi makam ini  dari ilalang dan tanah-tanah timbun yang tinggi dengan sangat hati-hati.

Baca:  Kemas Said, Ulama Pejuang yang Syahid di Perang Palembang 1819

Kini kompek pemakaman Kironggo Wiro Sentiko terlihat bersih dan cantik, selain itu rumah warga yang berada dalam komplek telah rata dengan tanah.

Retno Purwati mengatakan, lokasi tersebut sedang dibersihkan oleh zuriat dari Kironggo Wiro Sentiko dan pihaknya melakukan pengecekan lokasi dan pengukuran makam.

Karena banyaknya batu-batu zaman dulu yang berserakan, Retno telah meminta zuriat dari Kironggo Wiro Sentiko menandai batu-batu tersebut agar tidak terpisah-pisah.

“Ditandai batunya nanti kalau mau disusun lagi bisa mudah,” katanya.

Pihaknya juga mengapresiasi tinggi untuk komitmen zuriat Kironggo Wiro Sentiko dan keluarga untuk mengembalikan bentuk arsitektur makam ke bentuk semula.

Menurut Retno dari hasil pengecekan ternyata bagian kaki bangunan Makam Kironggo Wiro Sentiko langgamnya mirip candi-candi gaya Jawa tengah.

Sedangkan Heri Sutanto selaku juru bicara zuriat Kironggo Wiro Sentiko mengapresiasi apa yang dilakukan pihak Balar Palembang dengan melakukan penelitian pemakaman tersebut, dia berharap sejarah dan makam Kironggo Wiro Sentiko bisa diselamatkan sehingga menjadi cagar budaya.

“Dan bisa jauh dari tangan jahil dan bisa menjadi pelajaran sekolah anak sekolah dan bagi peneliti dan mahasiswa, itu terpenting,” katanya.

Mengenai dana pembersihan menurutnya dananya sokongan dari zuriat Kironggo Wiro Sentiko dan zuriat lain-lain yang pembersihannya sudah memasuki 1 bulan lebih.

“Kami hanya membersihkan makam dan pembebasan lahan warga yang menempati lokasi dalam makam dan kami hati hati dalam perbaikan dan kami selalu kordinasi dengan dinas terkait dan arkeolog agar tidak merusak makam dalam pembersihan ini,” katanya.

Baca:  Tempat Perlindungan dan Pertahanan Jepang di Plaju Berubah Bentuk

Setelah pembersihan selesai maka selanjutnya pihaknya akan menyerahkan pengelolaan dan pemeliharaan makam ini kepada pemerintah daerah setempat.

Selain itu pihaknya juga bertindak persuasif dan bertemu dengan warga yang menempati dalam areal komplek pemakaman Kironggo Wiro Sentiko tersebut karena surat kepemilikan lahan warga tersebut meragukan sehingga warga tersebut secara baik-baik pindah dari dalam komplek pemakaman tersebut.

Sedangkan menurut pengamat sejarah Kesultanan Palembang Darussalam Kms H Andi Syarifuddin mengatakan kalau Kironggo Wiro Sentiko mendapatkan pendidikan dasarnya diberikan oleh ayahnya sendiri di lingkungan keraton, karena ayahnya menjabat sebagai Kepala Penjaga Istana Kuto Cerancangan (17 Ilir sekarang) pada masa Sultan Agung Komaruddin (1714-1724).

Selain itu, ia juga mendapat gemblengan dari para ulama besar lainnya, seperti: Tuan Faqih Jalaluddin, Sayid Hasan Idrus, Kgs. Jakfar bin Khalifah Gemuk, dll. Wiro sentiko ketika di era Sultan Agung ini menjabat sebagai asisten ayahnya menjadi Kepala Penjaga Istana.

Pada masa Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Lemabang (1724-1757), ia diangkat oleh sultan menduduki jabatan menteri.

Dalam tahun 1728, ia diperintahkan oleh sultan mulanya untuk membangun komplek gubah pemakaman ungkonan sultan-sultan Palembang di tanah talang (sekarang disebut Talang Keranggo menurut namanya, di kelurahan 30 Ilir). Selang tiga hari kemudian, selesailah gubah yg mempunyai seni arsitektur tinggi tersebut. Sultanpun pergi meninjau ke lokasi, namun setelah diamat-amati, bertitahlah sultan kpd Wiro Sentiko.

Baca:  Kisah Keraton Kuto Gawang yang Kini Jadi Pabrik PT Pusri

“Sungguh bagus kerjamu itu Sentik ! tetapi gubah itu untuk perempuan kau perbuatkan, bukan untuk aku sebab memakai sumping. Sebab itu, ambil sajalah untukmu !” kata Sultan.

Seminggu kemudian, tepatnya hari Jum’at, tgl 1 Rajab 1140H atau 12 Pebruari 1728, Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan Wiro Sentiko pergi melihat lokasi tanah lain di Lemah Luhur (tanah tinggi). Setelah mufakat, lalu diperintahkan kepadanya agar lokasi itu diratakan dengan ditimbuni tanah merah. Itulah maka disebut Lemah Abang (Lemabang) sekarang ini.

Dilokasi inilah dibangun komplek pemakaman Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dan keluarga besar raja-raja Palembang yang dikenal dg sebutan astana “Gubah Kawah Tekurep” yang kini menjadi situs cagar budaya dan objek wisata, berlokasi di 3 Ilir Palembang.

Kiranggo Wiro Sentiko sendiri dikuburkan di ungkonan astana Gubah Talang Keranggo yang dibangunnya sendiri ini, yang sebelumnya kondisinya tidak terawat dan sangat memprihatinkan. Padahal di sini dimakamkan para tokoh dan ulama penting. Hingga akhir hayatnya ia mempunyai beberapa orang isteri, diantaranya ialah Nyi Ranggo.

Dari perkawinannya ia memiliki beberapa putra-putri, antara lain ialah Nyimas Hatimah yg menjadi menantu SMB l, dan Kemas Ranggo Wiro Diprano Delusin (w.1803). Seluruh zuriat keturunannya dimakamkan di ungkonan ini. Nama Kiranggo Wiro Sentiko sekarang diabadikan menjadi sebuah nama jalan yang melintas di kawasan 30 Ilir Palembang. #osk

 

x

Jangan Lewatkan

Alex Noerdin Melaunching Program S2C

Palembang, BP—Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin resmi melaunching program Sumsel Smart and Care (S2C). S2C merupakan inovasi proyek perubahan ...