Home / Budaya / Kisah Kolam Pemandian Putri Sultan Palembang Dalam BKB Yang Ditimbun Belanda

Kisah Kolam Pemandian Putri Sultan Palembang Dalam BKB Yang Ditimbun Belanda

Sebuah kolam pemandian yang berbentuk segiempat dalam BKB sebelum di timbun Belanda. (foto: ist)

Palembang, BP — Benteng Kuto Besak (BKB) awalnya merupakan keraton. Ada 4 keraton pada masa Kesultanan Palembang, yaitu Keraton Kuto Gawang, Keraton Beringin Janggut, Keraton Kuto Batu, dan keraton ke-4 yang sampai sekarang dikenal dengan nama Benteng Kuto Besak (Utomo dan Hanafiah 1993: B3-1 –B3-12).

Di bagian dalam benteng terdapat tempat tinggal sultan yang disebut ‘dalem’ atau ‘rumah sirah’. Dalem tersebut terdiri dari beberapa bangunan dan dikelilingi oleh tembok yang terdiri dari 2 lapis. Salah satu bangunan dalem yang menghadap ke Sungai Musi berfungsi sebagai ‘pamarakan’ dimana sultan dapat memandang luas keraton dan Sungai Musi. Di bagian belakang dalem terdapat ‘keputren’. Bangunan ini dilengkapi dengan sebuah kolam pemandian yang berbentuk segiempat (Hanafiah 1989: 14).

Mengenai keberadaan kolam pemandian ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Tegoeh yang mengaku, beberapa waktu lalu bersama pihak Balai Arkeologi Palembang sempat melakukan pengecekan ke dalam BKB.

“Kemarin kita hanya temukan tangga diperkirakan tangga menuju ke kolam pemandian untuk putri, itu ibu Retno dari Balai Arkeologi yang bilang,” katanya, Kamis (2/12).

Baca:  Kisah Keraton Kuto Gawang yang Kini Jadi Pabrik PT Pusri

Kolam tersebut menurutnya, dekat dengan pintu satu satunya buatan Sultan Bahaudin.

“Tinggal tangga, saja arahnya kebawah sekarang sudah ditimbun jadi rumah penduduk, “ katanya.
Menurut Sudirman, perjalanan untuk melakukan revitalisasi BKB masih sangat panjang perjalannya , apalagi saat masuk wilayah BKB repot karena harus izin dulu dengan pihak militer.

Hal senada dikemukakan Arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Palembang, Retno Purwati, sejak Belanda menduduki BKB, bentuk rumah dalam BKB sudah bergaya Eropa. Begitu pun kolam pemandianya, tampak sudah diperbarui.

Menurut Retno, Belanda sempat menggunakan kolam pemandian itu sebelum akhirnya di timbun oleh Belanda.

“Kurasa Belanda baru menimbun kolam saat kantor ledeng (Kantor Walikota Palembang saat ini) sudah ada. Jadi sudah bisa memasok air ke BKB dan tidak perlu lagi kolam,” katanya.

Menurut Retno, Kantor ledeng mulai dibangun tahun 1920an dan baru difungsikan tahun 1924.

“Jadi kemungkinan Kolam pemandian dalam BKB ditutup setelah tahun 1924,” katanya.

Baca:  Tokoh Persamaan Hak Kaum Perempuan Asal Sumsel Itu Bernama Ratu Sinuhun

Sedangkan pengamat sejarah kota Palembang Kemas Ari Panji menilai, kalau sudah seharusnya revitalisasi BKB mendesak dilakukan.

Menurutnya, revitalisasi BKB harusnya dilakukan untuk seluruh aset yang ada di dalam BKB yang selama ini dikuasai oleh TNI agar bisa di lestarikan dan menjadi bukti kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam.

“Ya pemerintah daerah harus serius melakukan revitalisasi BKB, kalau tidak kita tidak bisa pernah tahu tahu peninggalan dalam BKB dan apa saja yang perlu di selamatkan,” katanya.

Menurut catatan sejarah Benteng Kuto Besak berdenah persegi panjang dan berukuran 288,75m x 183,75m. Benteng Kuto Besak menghadap ke arah tenggara tepat di tepi Sungai Musi.

Di tiap-tiap sudut benteng terdapat bastion. Tiga bastion di sudut utara, timur, dan selatan berbentuk trapesium, sedangkan bastion sudut barat berbentuk segilima. Benteng Kuto Besak memiliki 3 pintu gerbang, yaitu di sisi timur laut, barat laut, dan pintu gerbang utama di sisi tenggara. Pada dinding benteng terdapat celah intai yang berbentuk semakin ke dalam semakin mengecil (Novita 2001: 1).

Baca:  Keturunan SMB II Di Ternate Memendam Rindu Ingin Pulang Ke Palembang

Di bagian depan benteng terdapat dermaga yang disebut ‘tangga dalem’ yang merupakan jalan sultan menuju Sungai Musi. Di bagian ujung tangga dalem terdapat sebuah gerbang beratap limas yang disebut ‘tangga raja’. Di bagian depan benteng juga terdapat alun-alun yang disebut ‘meidan’. Di dekat gerbang utama terdapat meriam yang diletakkan berjajar. Di sebelah kanan pintu gerbang terdapat bangunan ‘pasebahan’ dan ‘pamarakan’. Bangunan-bangunan tersebut berdenah persegi panjang yang terbuat dari kayu, beratap sirap, dan tidak berdinding. Bangunan pasebahan merupakan tempat penyampaian ‘seba’ (Hanafiah 1989:13).

Pada bangunan pamarakan terdapat ‘balai bandung’ atau ‘balai seri’ yang merupakan tempat duduk sultan. Pada saat upacara kebesaran balai bandung dilengkapi dengan regalia kesultanan (Hanafiah 1989: 14).

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, pintu gerbang Benteng Kuto Besak terdapat 3 buah. Pintu gerbang utama yang terletak di bagian tenggara disebut ‘lawang loteng’ atau ‘lawang kuto’, sedangkan pintu gerbang yang terletak di bagian timur laut dan barat laut disebut ‘lawang buritan’. Kedua pintu gerbang tersebut berukuran lebih kecil daripada pintu gerbang utama (Hanafiah 1989: 14).#osk

 

x

Jangan Lewatkan

Belanda Menghancurkan Palembang, 1659

Situasi di Palembang mengalami naik turun setelah kejatuhan Kerajaan Sriwijaya. Sementara pada abad ke-14 dan ke-15 kekuatan Sriwijaya ke Kerajaan ...