Home / Headline / Pelajar Gunakan Rakit Bambu Untuk Sekolah

Pelajar Gunakan Rakit Bambu Untuk Sekolah

Puluhan pelajar berangkat ke sekolah terpaksa memakai rakit bambu untuk menyeberang sungai. BP/MARWAN

Muratara, BP–Karena jembatan tidak ada untuk menyeberangi sungai Pusan, puluhan pelajar SDN Dusun Napal Maling, Desa Embacang Lama, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara memakai rakit bambu, baik pergi maupun pulang sekolah.  Apa yang dilakukan siswa ini sudah puluhan tahun lantaran jembatan penyeberangan dari dusun Tebing Tinggi ke dusun Napal Maling tidak ada.
Para pelajar tersebut setiap hari memakai rakit untuk menyeberang sungai dengan lebar 10 meter. Rupanya untuk menyeberang sungai bukan dilakukan siswa saja tetapi dilakukan masyarakat. Penyeberangan itu bertaruh nyawa karena sewaktu-waktu air bisa naik, namun karena tidak ada lagi jalan, mereka terpaksa melakukan aksi nekat, aksi nekat itu sudah dilakoni mereka puluhan tahun.
Siswa kelas 4 SDN Napal Maling, Siska, mengatakan, setiap hari dia bersama dengan pelajar lainnya
 terpaksa menyebrangi sungai dengan mengunakan rakit bambu untuk pergi dan pulang kesekolah. Terkadang tidak ada rakit  ia harus berenang ketika air sedang dangkal.
“Kami terpaksa menyeberang sungai karena tidak ada pilihan lain.  Terkadang basah-basahan kena semburan air ketika menyatang (mendorong) rakit,” katanya.
Diakuinya setiap kali menyeberang aliran sungai itu para siswa selalu dilanda kekhawatiran. Bahkan akibatnya mereka sering tidak konsentrasi dalam menerima pelajaran.
“Saya bersama teman teman takut ketika di atas air untuk menyeberang. Saya sering tidak mengerti apa yang diajarkan oleh guru karena masih cemas saat menyeberang,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, (Disdik) Muratara, Abd Rahman Wahid melalui Kepala Bagian (Kabid) GTK, Barbara Derby Shinta, mengakui bahwa pihaknya sudah melakukan peninjauan. Memang di sana  belum ada akses jembatan untuk ke seberang.
Kondisi ini membuat belasan murid kelas jauh SD Negeri Embacang harus menggunakan rakit untuk dapat menuju ke sekolah.
“Memang betuk  setiap hari mereka gunakan rakit yang terbuat dari bambu untuk dapat menuju kesekolah. Karena belum adanya jembatan penyeberang,” katanya.
Perlu diketahui bahwa di Embacang Lama ini terdapat dua kelas jauh yakni kelas jauh Tebing Tinggi dan kelas jauh Napal Maling. Keduanya harus ditempuh melalui jalur air.
Kalaupun harus ditempuh menggunakan jalur darat kondisinya cukup jauh selain jalannya curam.
“Kita tidak bisa menggunakan kendaraan roda dua selain jalan kaki. Setiap hari guru yang ada di SD tersebut harus jalan kaki selama satu jam menuju kesekolah,” jelasnya.
Masih katanya untuk  mempermudah akses murid dan guru, Kepala SD Negeri Embacang telah mengajukan proposal pengajuan untuk pembangunan jembatan gantung.
“Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan pihak sekolah dapat dikabulkan. Baru-baru ini pihak sekolah mendapatkan bantuan satu unit ketek dari  Donatur  Insan Bumi Mandiri sebagai sarana transportasi,” katanya. #wan
Area lampiran
Baca:  Sekolah Diminta Terapkan Lagu Indonesia Raya Tiga Stanza
x

Jangan Lewatkan

Alex Noerdin Sambangi Istana Bogor, Bahas Progres Asian Games

Bogor, BP— Untuk memastikan persiapan Asian Games 2018 berjalan baik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Wapres Jusuf Kalla memimpin Rapat ...