Home / Palembang / Kemplang Tunu Beromzet Puluhan Juta

Kemplang Tunu Beromzet Puluhan Juta

Dapur kemplang tunu milik Asmarani di Jalan GA Bastari Jakabring di belakang Mapolresta Palembang.

Siapa tak kenal makanan lokal satu ini. Meski tidak setenar pempek, nyatanya kemplang tunu sudah lama ada dan digemari. Bahkan punya prospek bisnis menjanjikan.
KULINER khas Sumatera Selatan sangat beraneka ragam. Salah satunya adalah kemplang tunu alias kemplang panggang. Meski diklaim makanan khas Kota Palembang, namun nyatanya makanan ini dibuat di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir dan Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Toh, dari manapun asalnya, kemplang panggang sangat familiar di lidah masyarakat Sumsel. Bahkan terkenal hingga tingkat nasional. Tak sedikit permintaan kemplang panggang datang dari masyarakat di Pulau Jawa hingga Batam.

Demikian diutarakan Asmarani, pemilik dapur kemplang panggang di Jalan G A Bastari belakang Mapolresta Palembang. Terlihat tujuh pekerjanya sedang sibuk memasak kemplang. Pekerja pria melakukan proses adon bahan dan merebus kemplang. Sebagian lagi menjemurnya.

Sedangkan yang wanita sibuk mengiris potongan adonan sagu, yang dicampur ikan laut giling. Lalu memipihkan adonan dengan botol hingga berbentuk kemplang yang siap direbus.

“Sudah tidak terhitung tahunnya lagi. Ini usaha turun temurun, bahkan sejak masih di Pemulutan Ogan Ilir. Kalau kemplang ini banyak dibuat di sana. Namun dipasarkan di Palembang,” kata Asmarani bercerita.

Ia mengaku memiliki sejumlah pegawai yang tidak terikat waktu. Jika pegawai capek, maka boleh berhenti sesuai dengan batas kemampuan.

“Biasanya kalau hari Minggu saja yang libur. Selain itu produksi jalan terus,” katanya.
Jumlah produksi, dikatakan dia, mencapai 7.000 keping kemplang per hari dengan harga satu kemplang mentah Rp200. Artinya, omzet per hari mencapai Rp1,4 juta dan dalam satu bulan bisa tembus puluhan juta rupiah.

“Alhamdulillah hasilnya lumayan. Bisa sedikit memenuhi kebutuhan, termasuk pegawai di sini. Yang penting berkah,” ujarnya.

Disinggung mengajukan kredit ke bank untuk meningkatkan bisnisnya, ia mengaku tidak sanggup membayar bunga pinjaman.
Asmarani mengaku lebih suka menggunakan modal sendiri, walaupun kecil. Ketimbang modal besar namun tingkat pengembaliannya sangat tinggi.

“Lebih suka modal sendiri. Sudah ada penawaran bank, namun itukan harus dibayar, apalagi pakai jaminan dan lainnya,” katanya.

Dituturkan Asmarani, dirinya tidak menjual kemplang yang sudah dipanggang, melainkan dalam bentuk mentah. Maksudnya agar lebih awet sehingga bisa dijual ke luar Palembang, bahkan luar Sumatera.

“Kalau pesan langsung belum sampai ke Pulau Jawa. Namun kalau pemesanan melalui orang, di sini sudah cukup sering,” katanya.

Untuk proses penjemuran kemplang ini, dia mengatakan, bisa seharian kalau cuaca panas. Namun jika mendung maka bisa kering hingga dua hari.

“Kita sering menjual ke penjual eceran. Kemplang ini dibakar kemudian dijual,” katanya.

Salah satu pekerja di dapur kemplang panggang ini, Hamuda mengaku cukup terbantu ekonominya dengan bekerja di sini, bahkan sudah dijalani selama puluhan tahun.

Baginya, bekerja memproduksi kemplang panggang ini sudah rutinitas, sehingga tidak terasa capek.

“Hanya setengah hari, jadi tidak terlalu capek. Dinikmati saja seperti olahraga,” kata dia sambil melempengkan bahan adonan kemplang. #reno saputra

x

Jangan Lewatkan

Pelayanan Mesti Berbasis IT

Palembang, BP — Pelayanan terpadu yang diberikan Kota Palembang saat ini sudah berbasis teknologi atau IT. Hal ini juga untuk memudahkan ...