Home / Headline / Pakar Tari Serampang 12 Kini Terbaring Tak Berdaya Di Kamarnya

Pakar Tari Serampang 12 Kini Terbaring Tak Berdaya Di Kamarnya

BP/DUDY OSKANDAR
Hanya bisa tergolek lemah di kamar tidurnya yang sederhana dalam rumah berada di jalan Pangeran Sido Ing Lautan RT 18 RW 04 Kelurahan Kedukan Bukit, Kecamatan 35 Ilir, M Ali Ujang kini hanya ditemani istrinya, Zaenab yang setia mengurus keperluan Ujang selama ini, Selasa (10/10).

Palembang, BP

Hanya bisa tergolek lemah di kamar tidurnya yang sederhana dalam rumah berada di jalan Pangeran Sido Ing Lautan RT 18 RW 04 Kelurahan Kedukan Bukit, Kecamatan 35 Ilir, M Ali Ujang kini hanya ditemani istrinya, Zaenab yang setia mengurus keperluan Ujang selama ini.
Mang Ujang, sapaan akrab di kalangan seniman Palembang kini sudah sembilan bulan-an ini tidak bisa beraktivitas normal.
Bahkan dua bulan terakhir, hanya terbaring lemas tak berdaya di tempat tidurnya setiap hari. Vonis alergi pada kulit membuat fisik pria berusia 73 itu lunglai dan hanya bisa berada ditempat tidur.
M Ali Ujang sendiri adalah seorang seniman Palembang. Ia fokus dalam seni tari dan musik khususnya perkusi Melayu. Tahun 1960, awal berkecimpung di seni tari khususnya Melayu sekaligus seni musik. Mang Ujang satu angkatan dengan maestro tari Sumsel semacam Elly Rudi dan Anna Kumari, keduanya pencipta tari Tanggai dan Tepak Keraton.
Banyak penghargaan atas keterlibatan mempertahankan, menjaga sekaligus memperkenalkan tari dan musik Melayu, Palembang selama ini. Ketika tari Serampang 12 dari Sumatera Utara begitu populer ditahun 60-70 an, Mang Ujanglah yang pertama kali memperkenalkannya di Palembang dan Musi Banyuasin di tahun 1998.
Berkat kepiawaiannya menari Serampang 12 dan tarian Melayu lainnya, pria bercucu ini begitu dikenal di lingkungan seniman Melayu. Bahkan dijuluki pakar Tari Serampang 12.
Selama menekuni dunia tari, Mang Ujang membawa nama Palembang ke kancah nasional dan luar negeri. Sebut saja Medan, Pekan Baru dan kota-kota lainnya adalah saksi lihainya tarian Mang Ujang. Di luar negeri, ia lekat dengan kawasan negara Melayu seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam dalam membentangkan kepiawaian seninya.
Dalam dunia pendidikan Mang Ujang sebagai salahs atu pioner dalam memunculkan Fakultas Sendratasik di sebuah universitas swasta di Palembang. Ia menjadi dosen, mengajar ilmu tari khususnya Melayu.
Karena dedikasinya dalam dunia tari dan seni musik itu, Dewan Kesenian Palembang (DKP) tahun 2008 memberikan penghargaan anggon kepada Mang Ujang sebagai seniman Palembang. Penghargaan itu sebagai ungkapan pengakuan atas dedikasi Mang Ujang dalam bidang seni.
Mang Ujang ketika ditemui di kamarnya , Selasa (10/10) mengaku, masih berkeinginan agar generasi penerus tetap menjaga kesenian, budaya dan tradisi Melayu Palembang.
Sebagaimana dia gambarkan ketika keluar-masuk sekolah demi memperkenalkan tarian Palembang di tahun 70-80 an. Ketika budaya barat masuk tak terbendung kala itu.
“Aku mengajarkan tarian Melayu dulu supaya budaya dan tradisi Palembang tetap terus terjaga. Karena dalam tradisi, budaya Melayu sejalan dengan ajaran Islam. Dalam budaya dan tradisi Palembang ini ada pelajaran agama yang tertuang di dalamnya. Ketika belajar budaya dan tradisi Palembang kita belajar beragama juga,” katanya.
Meski tubuhnya kini lemas tak berdaya, semangat menjaga budaya dan tradisi Palembang tetap menyala.
Sedangkan Ketua Dewan Kesenian Palembang, Vebri Alintani meminta, perhatian pemerintah daerah akan nasib mang Ujang ini.
“Tentunya pemerintah Palembang harus memperhatikan hal-hal seperti ini. Merekalah, seniman inilah yang menjaga, mengembangkan dan mempertahankan kesenian. Ketika seniman mengalami sakit kemudian sudah menua, maka pemerintah berkewajiban memperhatikan mereka,” kata Vebri Al Lintani saat mengunjungi kediaman Mang Ujang.
Kata Vebri, Mang Ujang sangat berkesan baginya. Sebagai ahli perkusi Melayu, Mang Ujang sangat mahir memainkan alat musik gendang. Setiap rentak gendang musik Melayu mang Ujang jagonya.

Baca:  Seniman M Ali Ujang Akhirnya Dirawat di Rumah Sakit Bari

Sebagai sesama seniman, DKP berharap Mang Ujang mendapatkan kesembuhan kemudian berkarya dan berkreasi lagi.
Sementara itu Pemerintah Kota Palembang selalu memberikan penghargaan terhadap seniman-seniman Palembang yang berprestasi dan memiliki dedikasi. Penghargaan berupa anugrah anggon digelar setiap tahun dengan memberikan uang pembinaan dan lainnya.
“Itu salah satu bentuk penghargaan pemerintah kota Palembang terhadap seniman. Bentuk lain dari perhatian pemerintah adalah mengunjungi para seniman ketika mungkin sakit atau lainnya,” kata Kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang, Sudirman Teguh.
Dia berencana akan mengunjungi Mang Ujang yang tengah terbaring sakit. #osk

x

Jangan Lewatkan

Pembunuh Darman Diringkus

Palembang, BP–Setelah satu tahun buron karena melakukan pembunuhan terhadap Darmansyah (21) di Kafe Golden Star, Kampung Baru, Sukarame, Nick Hendrik ...