Home / Budaya / Ayo, Belajar Sejarah di Pedestrian Sudirman

Ayo, Belajar Sejarah di Pedestrian Sudirman

BP/DUDY OSKANDAR
Puluhan warga asyik melihat layar yang menyajikan potret Palembang tempo dulu seraya mendengarkan penjelasan dari pemateri di pedestrian Jalan Jenderal Sudirman, Palembang.

Palembang, BP–Berawal dari konsep bercerita di pedestrian Sudirman, sebuah komunitas pecinta sejarah, Plembang Nian, terdiri dari berbagai latar belakang profesi seperti dosen hukum, sejarawan, aktivis budaya, dan guru melakukan edukasi sejarah kepada masyarakat Sumatera Selatan.

Dari awal dibukanya Pedestrian Sudirman hingga kini, komunitas ini rutin mengedukasi sejarah kepada masyarakat. Hasilnya, masyarakat antusias menyaksikan paparan sejarah komunitas ini.

Apalagi,  Kota Palembang sejak dulu dikenal sebagai kota yang banyak menyimpan peninggalan sejarah. Berbagai warisan peninggalan dari masa Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, hingga masa kolonial Belanda dan Kemerdekaan dapat ditemukan di berbagai sudut kota.

Namun sayang, sebagian masyarakat belum sepenuhnya tahu atau bahkan tidak mengenal beragam peninggalan sejarah tersebut. Malahan sejarah Palembang, mereka banyak belum paham dan mengetahuinya.

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana di salah satu sudut pedesterian Jalan Sudirman dekat kantor Yamaha.

Padahal memahami sejarah sebetulnya tidak seperti yang orang nilai dan lihat selama ini! Ternyata sejarah itu asyik! Pelajaran sejarah akan sangat menyenangkan apabila seseorang itu interaktif, atraktif, dan mumpuni. Interaktif dalam arti mampu berkomunikasi dengan baik dan membangun hubungan emosional. Atraktif maksudnya mampu menampilkan pembelajaran yang aktif dan menarik. Selain itu harus mumpuni dalam penguasaan materi yang diajarkannya.

Baca:  Pangeran Sido Ing Rejek Layak Jadi Pahlawan

Cara belajar sejarah bukan hanya dengan membaca dan bukan hanya dengan menghapal. Banyak cara untuk belajar sejarah. Pemateri di antaranya Rd Muhammad Ikhsan, dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Kemas Ari Panji, SPd, MSi merupakan  dosen UIN Raden Fatah Palembang, Ketua Dewan Kesenian Palembang, Vebri Alintani, Gerby Novario (Guru MAN I Palembang).

Rd Muhammad Ikhsan menceritakan paparan sejarah di pedestrian ini berawal dirinya mengajukan konsep bercerita sejarah di Pedestrian Jalan Jenderal Sudirman dan direspon oleh Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang, Isnaini Madani.

“Pak Isnaini merespon dengan menyiapkan peralatan termasuk in focus. Selanjutnya dengan rombongan kito, dindo, cek Panji, cek Vebri, dan Gerby cs. Awalnyo kulo pikir jika suasana malem memang mendukung menggunoke in focus, sedangkan sejarah yang pop harus ditopang tampilan foto, sketsa, film video yang menarik pengunjung,” katanya, Minggu (8/10).

Baca:  Kisah Kolam Pemandian Putri Sultan Palembang Dalam BKB Yang Ditimbun Belanda

Menurut Ikhsan, Pedestrian wisata Sudirman yang launching sejak 22 Maret 2017 mendapat sambutan cukup luar biasa. Di area pedestrian saban Sabtu dan Minggu malam digelar atraksi seni dan budaya. Pengunjung yang umumnya membludak. Di antara atraksi yang unik dan belum ditemukan di daerah lain di Indonesia adalah lapak atau pojok sejarah.

Di tempat ini masyarakat berkumpul sambil berinteraksi di keramaian Pedestrian Sudirman. Komunitas ini mengusung konsep dan moto RecreaHistory yang berarti rekreasi sejarah. Di tempat ini dengan dibantu perangkat komputer dan in focus, ditayangkan sketsa, foto-foto dan film video lama yang menggambarkan suasana Palembang Tempo Doeloe.

Seluruh file lama tersebut diunduh dari laman internet. Seperti dari koleksi Troopenmuseum, KITLV dan sumber lain di internet. Penampilan lapak sejarah ini mendapat respon dan apresiasi positif, baik dari unsur pemerintah seperti walikota, dan wakil walikota, sekretaris daerah kota Palembang dan jajarannya. Termasuk pula masyarakat umum. Bahkan pengunjung yang memberikan tanggapan sangat positif.

Baca:  Mahasiswa Unsri Kagumi Koleksi Museum AK Gani

Salah satunya dari Intan, warga Plaju. Ia mengatakan, informasi dan pengetahuan yang disampaikan di pedestrian persis dan mirip betul dengan cerita orangtuanya yang pernah hidup di tiga zaman.

Pengunjung lain menilai ini sangat positif karena anak-anak dapat memperoleh pengetahuan yang tidak diperoleh di sekolah. Ditanya tentang kendala dan keterbatasan yang dihadapi adalah fasilitas sound system yang kurang mendukung. Suaranya kalah dengan suara musik yang ada di dekatnya.

“Harapannya fasilitas seperti ini harus diganti dengan sound system yang memadai. Selain itu, oleh karena lapak sejarah ini dikelola secara orang per orang dalam komunitas maka menghadapi hambatan dana. Akan menjadi lebih baik jika ada lembaga atau pihak ketiga yang dapat membantu pendanaan. Agar penyampaian materi tentang sejarah Palembang ini menjadikan lebih maksimal,” katanya.

Hal senada dikemukakan Kemas Ari Panji. Format diskusi akan dibuat interaktif dengan diseting 1 orang pembicara atau banyak pembicara. # dudy oskandar

 

#osk

x

Jangan Lewatkan

Berkibarnya Bendera Rod, Wit, En Blau Di Bastion Kuto Besak

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II adalah pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode (1803-1813, 1818-1821), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad ...